Pertumbuhan industri digenjot

Selasa, 29 Mei 2012 - 09:43 WIB
Pertumbuhan industri...
Pertumbuhan industri digenjot
A A A


Sindonews.com - Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas di kuartal II/2012 bisa melebihi realisasi kuartal I/2012 yang mencapai 6,13 persen.

“Saya harapkan, di kuartal II industri bisa tumbuh melebihi kuartal I. Kalau mau aman, harus di atas 6,13 persen. Saya kira banyak industri besar yang mulai membangun dan itu akan memengaruhi pertumbuhan,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat seusai rapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta kemarin.

Menperin mengakui, situasi perekonomian di Eropa dan melemahnya nilai tukar rupiah bisa menghambat pertumbuhan industri nasional.

Karena itu, pertumbuhan industri pada kuartal II diharapkan bisa diupayakan meningkat dari kuartal pertama tahun ini. Namun, dengan kondisi global yang melemah,Menperin mengatakan bahwa hingga akhir tahun ini pertumbuhan industri diharapkan bisa tumbuh minimal seperti tahun lalu,sekitar 6,8 persen. “Mau realistis kan, itu saja sudah bagus, saya sihmaunya 7 persen,” kata dia.

Hidayat menuturkan, di kuartal II, sejumlah sektor industri masih diandalkan kontribusinya terhadap pertumbuhan industri pengolahan nonmigas. Dia antara lain menyebutkan sektor industri besi dan baja, serta makanan dan minuman. “Baja mulai tumbuh lebih cepat, sementara (industri) makanan dan minuman bisa di atas 10 persen,” ucapnya.

Terkait penahanan kontainer berisi bahan baku baja (scrap) di sejumlah pelabuhan, Hidayat menegaskan, masalah itu harus bisa diselesaikan pada pekan ini. Pihaknya sudah bertemu dan membahas masalah tersebut dengan Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Menteri Perdagangan.

“Bukan hanya berpotensi menurunkan (pertumbuhan industri baja), tapi sudah turun. Jadi, harus minggu ini dibereskan,” tuturnya.

Kemenperin mencatat, selama kuartalI/ 2012, sektor industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi dicapai oleh industri pupuk, kimia, dan barang dari karet yakni 9,19 persen, minuman dan tembakau 8,19%, alat angkut, mesin dan peralatannya 6,23 persen, serta semen dan barang galian bukan logam sebesar 6,11 persen. Sedangkan, sektor industri yang bertumbuh negatif adalah barang kayu dan hasil hutan lainnya yakni minus 0,86 persen.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, industri nasional akan sulit bertumbuh hingga 7 persen. Menurut dia, pertumbuhan industri kemungkinan besar akan melambat pada tahun ini. “Ya melambat. Pertumbuhan ekonomi saja 6 persen sudah bagus,” kata Sofjan.

Tak hanya kondisi perekonomian global, menurut dia, situasi politik tahun depan dikhawatirkan memengaruhi pertumbuhan industri secara negatif. “Saya paling pesimistis tahun depan karena mulai pemilu. Tidak ada lagi yang konsentrasi. Semuakonsentrasimenangkan pemilu.Faktor politik akan sangat memengaruhi pertumbuhan kita,” katanya.

Menurut dia, realisasi investasi saja yang akan menjadi faktor mendorong pertumbuhan industri pada tahun ini. Sektor industri automotif, besi dan baja, makanan dan minuman bakal terus mendominasi pertumbuhan industri nasional pada tahun ini. “Mobil dan sepeda motor tumbuh, karena pendapatan kelas menengah naik,” jelasnya. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
1 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
1 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
1 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
3 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
3 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
3 jam yang lalu
Infografis
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved