BI intervensi rupiah, IHSG tetap anjlok
Kamis, 31 Mei 2012 - 17:20 WIB
BI intervensi rupiah, IHSG tetap anjlok
A
A
A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terpuruk di zona merah meski rupiah telah beranjak naik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 85,09 poin alias 2,17 persen ke 3.832,82. Melemahnya IHSG, seiring dengan pergerakan bursa regional di Asia.
Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) ke pasar membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat. Sebelumnya, BI berjanji bila rupiah akan bertahan di Rp9.450 per USD.
Bloomberg mencatat, rupiah hari ini berada di kisaran Rp9.473 per USD, atau menguat 38 poin dari posisi sebelumnya. Adapun pergerakan rupiah hari ini tercatat di kisaran Rp9.410-Rp9.655 per USD. Sementara kurs tengah BI mencatat rupiah berada di kisaran Rp9.565 per USD, atau hanya menguat lima poin dari posisi sebelumnya.
Head of Research Treasury Division BNI Nurul Eti Nurbaeti mengakui, kompleksnya problema perbankan Spanyol yang langsung memukul telak high-yield assets tak pelak ikut menekan rupiah terdepresiasi menembus level lemah Rp9.400-an.
"Kuatnya aversion yang tertanam di benak pelaku pasar akibat sentimen negatif kondisi perekonomian global terindikasi sangat membebani mata uang Indonesia," jelas dia dalam risetnya di Jakarta, Kamis (31/5/2012).
"Bahkan, isyarat pergerakan menuju level psikologis Rp10 ribu pun seakan telah menanti mata uang Garuda di tengah kencangnya The Big Dollar’s rally," tambah dia.
Namun, intervensi yang dilakukan BI nampaknya membuat rupiah mampu menguat ke level Rp9.450 per USD. Hal ini, sejalan dengan janji Gubernur BI Darmin Nasution yang mengatakan akan melakukan intervensi sehingga nilai tukar rupiah terhadap USD dapat kembali ke Rp9.450 per USD.
BI pun bersikap optimistis bila pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD bisa stabil dan tidak terus merosot. "Saya percaya kita bisa menggiringnya ke Rp9.450 per USD," ujar Darmin.
Menurut dia, instrumen term deposit dalam bentuk valuta asing (valas) terutama dolar AS untuk menahan agar dolar AS yang ada di dalam negeri agar tidak keluar. Darmin menambahkan, saat ini dana dalam bentuk valas di perbankan sangat banyak ditempatkan di luar.
Di penutupan sore ini, IHSG bergerak dengan rentang 3.810,39-3.881,49. Indeks LQ45 turun 18,26 poin atau 2,75 persen ke 645,69, Jakarta Islamic Indeks (JII) merosot 11,63 poin atau 2,17 persen ke 525,05. Demikian juga IDX30 yang terkoreksi 9,64 poin atau 2,88 persen ke 325,38.
Analis Equator Sekuritas Gina Novrina Nasution mengatakan, kekhawatiran mengenali kinerja perbankan di Spanyol dan perekonomian Spanyol telah memberikan tekanan baik pada bursa global maupun regional. "Tekanan jual yang cukup besar dan kekhawatiran yang terjadi membuat IHSG tertekan," ungkap riset tersebut, Kamis (31/5/2012).
Tercatat, hanya 38 saham menguat, dengan 271 saham melemah dan 39 saham bergerak stagnan. Adapun nilai transaksi mencapai Rp7,666 triliun dari 5,252 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Dengan aksi jual asing mencapai Rp1,166 triliun.
Sektor-sektor IHSG kompak melemah dengan sektor tambang turun 75,61 poin atau 3,5 persen, sektor keuangan turun 11,95 poin atau 2,4 persen, sektor aneka industri anjlok 31,67 poin atau 2,6 persen, serta sektor perdagangan turun 17,55 poin atau 2,6 persen.
Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) ke pasar membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat. Sebelumnya, BI berjanji bila rupiah akan bertahan di Rp9.450 per USD.
Bloomberg mencatat, rupiah hari ini berada di kisaran Rp9.473 per USD, atau menguat 38 poin dari posisi sebelumnya. Adapun pergerakan rupiah hari ini tercatat di kisaran Rp9.410-Rp9.655 per USD. Sementara kurs tengah BI mencatat rupiah berada di kisaran Rp9.565 per USD, atau hanya menguat lima poin dari posisi sebelumnya.
Head of Research Treasury Division BNI Nurul Eti Nurbaeti mengakui, kompleksnya problema perbankan Spanyol yang langsung memukul telak high-yield assets tak pelak ikut menekan rupiah terdepresiasi menembus level lemah Rp9.400-an.
"Kuatnya aversion yang tertanam di benak pelaku pasar akibat sentimen negatif kondisi perekonomian global terindikasi sangat membebani mata uang Indonesia," jelas dia dalam risetnya di Jakarta, Kamis (31/5/2012).
"Bahkan, isyarat pergerakan menuju level psikologis Rp10 ribu pun seakan telah menanti mata uang Garuda di tengah kencangnya The Big Dollar’s rally," tambah dia.
Namun, intervensi yang dilakukan BI nampaknya membuat rupiah mampu menguat ke level Rp9.450 per USD. Hal ini, sejalan dengan janji Gubernur BI Darmin Nasution yang mengatakan akan melakukan intervensi sehingga nilai tukar rupiah terhadap USD dapat kembali ke Rp9.450 per USD.
BI pun bersikap optimistis bila pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD bisa stabil dan tidak terus merosot. "Saya percaya kita bisa menggiringnya ke Rp9.450 per USD," ujar Darmin.
Menurut dia, instrumen term deposit dalam bentuk valuta asing (valas) terutama dolar AS untuk menahan agar dolar AS yang ada di dalam negeri agar tidak keluar. Darmin menambahkan, saat ini dana dalam bentuk valas di perbankan sangat banyak ditempatkan di luar.
Di penutupan sore ini, IHSG bergerak dengan rentang 3.810,39-3.881,49. Indeks LQ45 turun 18,26 poin atau 2,75 persen ke 645,69, Jakarta Islamic Indeks (JII) merosot 11,63 poin atau 2,17 persen ke 525,05. Demikian juga IDX30 yang terkoreksi 9,64 poin atau 2,88 persen ke 325,38.
Analis Equator Sekuritas Gina Novrina Nasution mengatakan, kekhawatiran mengenali kinerja perbankan di Spanyol dan perekonomian Spanyol telah memberikan tekanan baik pada bursa global maupun regional. "Tekanan jual yang cukup besar dan kekhawatiran yang terjadi membuat IHSG tertekan," ungkap riset tersebut, Kamis (31/5/2012).
Tercatat, hanya 38 saham menguat, dengan 271 saham melemah dan 39 saham bergerak stagnan. Adapun nilai transaksi mencapai Rp7,666 triliun dari 5,252 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Dengan aksi jual asing mencapai Rp1,166 triliun.
Sektor-sektor IHSG kompak melemah dengan sektor tambang turun 75,61 poin atau 3,5 persen, sektor keuangan turun 11,95 poin atau 2,4 persen, sektor aneka industri anjlok 31,67 poin atau 2,6 persen, serta sektor perdagangan turun 17,55 poin atau 2,6 persen.
()