Lonjakan impor masih akan berlanjut
Kamis, 05 Juli 2012 - 08:59 WIB
Lonjakan impor masih akan berlanjut
A
A
A
Sindonews.com – Laju impor diprediksi akan tetap tinggi hingga lima tahun ke depan didorong besarnya permintaan domestik serta meningkatnya investasi.
Head of Global Trade and Receivables Finance HSBC Indonesia Nirmala Salli menjelaskan, laju impor yang sangat besar dalam beberapa bulan terakhir memang tidak bisa dielakkan bagi sebuah negara berkembang dengan pertumbuhan tinggi seperti Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, otomatis permintaan akan barang-barang konsumsi ataupun bahan baku untuk menggerakkan sektor industri akan tinggi.
Dia mengungkapkan, daya beli masyarakat yang meningkat ikut mendorong tingginya impor. “Sekarang ini pertumbuhan impornya lebih kencang. Namun, hal ini diimbangi dengan peningkatan impor bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk kebutuhan produksi barang jadi guna memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri,” tutur Nirma la, saat berdiskusi de ngan wartawan, di Jakarta, kemarin.
Diketahui, pertumbuhan impor Indonesia dalam setahun terakhir meningkat drastis. Sedangkan total impor sebesar USD79,985 miliar selama Januari–Mei 2012 didominasi bahan baku/penolong dimana mesin dan peralatan mekanik (USD11,42 miliar) serta mesin dan peralatan listrik (USD7,77 miliar). Besarnya laju impor tersebut mendorong neraca perdagangan menjadi defisit pada bulan tersebut.
Sehingga, selama dalam dua bulan beruntun, April dan Mei, neraca perdagangan mencatatkan defisit masing-masing USD764,7 juta dan USD485,9 juta. Selain permintaan domestik yang tinggi, peningkatan impor didorong oleh besarnya arus investasi asing secara langsung (foreign direct investment/FDI) ke Indonesia. Dengan semakin banyaknya investasi yang masuk, akan semakin banyak industri yang tumbuh.
Industri-industri tersebut membutuhkan bahan baku/ penolong untuk menggerakkan industri mereka seperti mesin dan peralatan mekanik yang belum mampu diproduksi di Indonesia. Sementara, Head of Global Market HSBC Indonesia Ali Setiawan mengatakan, impor akan terus meningkat seiring berkembangnya ekonomi Indonesia dan dipilihnya sebagai basis produksi perusahaan. “Indonesia dipilih karena kondisi politiknya yang stabil, labour cost (upah buruh)-nya yang murah serta market share yang tinggi,” papar Ali Setiawan dalam kesempatan yang sama.
Kendati laju impor akan tetap tinggi, Nirmala menegaskan bahwa perdagangan Indonesia akan mampu tumbuh. Pertumbuhan terkuat dalam lima tahun ke depan yaitu 8,5 persen sebelum melambat menjadi 7,7 persen pada 2021. Selanjutnya diproyeksikan melambat secara signifikan menjadi 4,5 persen pada 2026.
Head of Global Trade and Receivables Finance HSBC Indonesia Nirmala Salli menjelaskan, laju impor yang sangat besar dalam beberapa bulan terakhir memang tidak bisa dielakkan bagi sebuah negara berkembang dengan pertumbuhan tinggi seperti Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, otomatis permintaan akan barang-barang konsumsi ataupun bahan baku untuk menggerakkan sektor industri akan tinggi.
Dia mengungkapkan, daya beli masyarakat yang meningkat ikut mendorong tingginya impor. “Sekarang ini pertumbuhan impornya lebih kencang. Namun, hal ini diimbangi dengan peningkatan impor bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk kebutuhan produksi barang jadi guna memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri,” tutur Nirma la, saat berdiskusi de ngan wartawan, di Jakarta, kemarin.
Diketahui, pertumbuhan impor Indonesia dalam setahun terakhir meningkat drastis. Sedangkan total impor sebesar USD79,985 miliar selama Januari–Mei 2012 didominasi bahan baku/penolong dimana mesin dan peralatan mekanik (USD11,42 miliar) serta mesin dan peralatan listrik (USD7,77 miliar). Besarnya laju impor tersebut mendorong neraca perdagangan menjadi defisit pada bulan tersebut.
Sehingga, selama dalam dua bulan beruntun, April dan Mei, neraca perdagangan mencatatkan defisit masing-masing USD764,7 juta dan USD485,9 juta. Selain permintaan domestik yang tinggi, peningkatan impor didorong oleh besarnya arus investasi asing secara langsung (foreign direct investment/FDI) ke Indonesia. Dengan semakin banyaknya investasi yang masuk, akan semakin banyak industri yang tumbuh.
Industri-industri tersebut membutuhkan bahan baku/ penolong untuk menggerakkan industri mereka seperti mesin dan peralatan mekanik yang belum mampu diproduksi di Indonesia. Sementara, Head of Global Market HSBC Indonesia Ali Setiawan mengatakan, impor akan terus meningkat seiring berkembangnya ekonomi Indonesia dan dipilihnya sebagai basis produksi perusahaan. “Indonesia dipilih karena kondisi politiknya yang stabil, labour cost (upah buruh)-nya yang murah serta market share yang tinggi,” papar Ali Setiawan dalam kesempatan yang sama.
Kendati laju impor akan tetap tinggi, Nirmala menegaskan bahwa perdagangan Indonesia akan mampu tumbuh. Pertumbuhan terkuat dalam lima tahun ke depan yaitu 8,5 persen sebelum melambat menjadi 7,7 persen pada 2021. Selanjutnya diproyeksikan melambat secara signifikan menjadi 4,5 persen pada 2026.
(and)
Lihat Juga :