RI tak perlu takut pinjami IMF
Kamis, 05 Juli 2012 - 16:07 WIB
RI tak perlu takut pinjami IMF
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Indonesia berencana untuk memberikan pinjaman kepada International Monetery Fund (IMF) dengan batas maksimal USD1 miliar. Pinjaman akan diambil dari cadangan devisa negara yang tercatat pada Mei 2012 mencapai USD111,528 miliar tersebut ditujukan untuk memperkuat aspek permodalam IMF sehingga dapat membantu menyehatkan ekonomi Eropa dan negara-negara berkembang.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menilai rencana tersebut merupakan hal yang positif. Pasalnya dengan pinjaman tersebut, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah dari bunga pinjaman. Jadi, dirinya memastikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan.
"Saya pikir ya buat saya pinjam itu kan dibayar kembali, bukan dikasih ke dia (IMF). Biar saja kalau kita kelebihan, dan kita taruh daripada ditaruh di tempat-tempat yang tidak aman? taruh di IMF, tetap dia bayar bunganya. Kenapa kita takut?," kata Sofjan kepada wartawan di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/7/2012).
Keuntungan lainnya, Sofjan memaparkan telihat pada nilai prestise negara Indonesia di mata negara-negara lain, termasuk juga kredibilitas di perbankan internasional. "Jadi kita dianggap kredit rating kita akan meningkat. Kan dilihat dari hubungan kita dengan IMF yang baik," jelasnya.
Pernyataan tersebut senada dengan yang diungkapkan pengamat ekonomi Destry Damayanti. Dirinya mengatakan, rencana pemerintah untuk memberikan pinjaman mencapai USD1 miliar kepada IMF dinilai sebagai diversifikasi aset yang dimiliki oleh pemerintah.
Nantinya pinjaman yang diberikan kepada IMF tersebut bisa dilakukan dengan membeli bond yang diterbitkan oleh IMF. Sehingga, uang yang kita pinjamkan tersebut tidak akan hilang, namun dialokasikan kepada sebuah protofolio.
"Selama ini kan cadangan devisa kita dialokasikan pada bond, ada emas dan cash juga. Nah, IMF ini mungkin nanti akan menerbitkan USD Bond dan itu merupakan portofolio yaang bisa dikatakan safe heaven. Jadi menurut saya sih aman," paparnya beberapa waktu lalu.
Meskipun IMF pertama kali menerbitkan obligasi, sehingga likuidasinya kurang tinggi, namun menurutnya hal tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif yang baik untuk mendiversifikasikan portofolio aset yang dimiliki oleh pemerintah.
"Sebaiknya pinjaman kepada IMF tersebut jangan diambil dari APBN, karena APBN ini kan sumber pengeluaran negara, bukan investasi. Jadi lebih baik dari cadangan devisa saja," tukasnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menilai rencana tersebut merupakan hal yang positif. Pasalnya dengan pinjaman tersebut, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah dari bunga pinjaman. Jadi, dirinya memastikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan.
"Saya pikir ya buat saya pinjam itu kan dibayar kembali, bukan dikasih ke dia (IMF). Biar saja kalau kita kelebihan, dan kita taruh daripada ditaruh di tempat-tempat yang tidak aman? taruh di IMF, tetap dia bayar bunganya. Kenapa kita takut?," kata Sofjan kepada wartawan di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (5/7/2012).
Keuntungan lainnya, Sofjan memaparkan telihat pada nilai prestise negara Indonesia di mata negara-negara lain, termasuk juga kredibilitas di perbankan internasional. "Jadi kita dianggap kredit rating kita akan meningkat. Kan dilihat dari hubungan kita dengan IMF yang baik," jelasnya.
Pernyataan tersebut senada dengan yang diungkapkan pengamat ekonomi Destry Damayanti. Dirinya mengatakan, rencana pemerintah untuk memberikan pinjaman mencapai USD1 miliar kepada IMF dinilai sebagai diversifikasi aset yang dimiliki oleh pemerintah.
Nantinya pinjaman yang diberikan kepada IMF tersebut bisa dilakukan dengan membeli bond yang diterbitkan oleh IMF. Sehingga, uang yang kita pinjamkan tersebut tidak akan hilang, namun dialokasikan kepada sebuah protofolio.
"Selama ini kan cadangan devisa kita dialokasikan pada bond, ada emas dan cash juga. Nah, IMF ini mungkin nanti akan menerbitkan USD Bond dan itu merupakan portofolio yaang bisa dikatakan safe heaven. Jadi menurut saya sih aman," paparnya beberapa waktu lalu.
Meskipun IMF pertama kali menerbitkan obligasi, sehingga likuidasinya kurang tinggi, namun menurutnya hal tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif yang baik untuk mendiversifikasikan portofolio aset yang dimiliki oleh pemerintah.
"Sebaiknya pinjaman kepada IMF tersebut jangan diambil dari APBN, karena APBN ini kan sumber pengeluaran negara, bukan investasi. Jadi lebih baik dari cadangan devisa saja," tukasnya.
(gpr)
Lihat Juga :