Pertumbuhan ekonomi China 'hanya' 7,6%
Jum'at, 13 Juli 2012 - 10:23 WIB
Pertumbuhan ekonomi China 'hanya' 7,6%
A
A
A
Sindonews.com - Ekonomi China mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi terbesar dalam tiga tahun terakhir ini. Terindikasi investasi melambat dan permintaan di pasar ekspor utama seperti AS dan Eropa mengalami penurunan.
Meski produk domestik bruto (PDB) meningkat pada tingkat 7,6 persen, namun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, turun dari 8,1 persen dalam tiga bulan sebelumnya.
Seperti dilansir dari BBC.co.uk, Jumat (13/7/2012), pada bulan Maret, Beijing menurunkan target pertumbuhan untuk semua sektor di tahun 2012 menjadi 7,5 persen.
Penurunan pertumbuhan ekonomi di China merupakan masalah bagi negara Asia lainnya dan pemulihan global. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah China telah telah melakukan beberapa perubahan kebijakan guna merangsang pertumbuhan.
Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan, awal pekan ini usaha meningkatkan investasi akan sangat penting untuk menstabilkan pertumbuhan dan pemerintah juga telah mengambil langkah lain dalam beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, Bank sentral China telah memotong jumlah dana bank untuk menjaga cadangan tetap ada guna meningkatkan pinjaman, dan baru-baru ini Bank Sentral China memotong biaya pinjaman dua kali dalam satu bulan.
Kemampuan China untuk mengembalikan pertumbuhannya ekonominya kembali ke jalurnya akan memiliki implikasi jauh melebihi negara itu sendiri. "China telah menjadi faktor besar bagi perlambatan di Asia tahun ini," kata Tai Hui, dari Standard Chartered Bank, di Singapura.
Dia menambahkan, jika China tidak dapat mengalami pertumbuhan pada semester kedua tahun ini, itu akan menjadi babak kedua yang sangat sulit bagi banyak produsen di daerah ini.
Banyaknya masalah China dapat ditelusuri kembali ke krisis keuangan global pada 2008-2009. Pada saat itu pemerintah pusat mulai mengalokasikan uang dalam jumlah besar ke dalam perekonomian, terutama untuk infrastruktur dan belanja konstruksi.
Hal ini menyebabkan kelebihan kapasitas, lonjakan harga properti dan kenaikan biaya konsumen dan inflasi.
Menghadapi masalah ini di tengah kekhawatiran bahwa ekonomi mungkin terlalu panas, pembuat kebijakan memutuskan untuk menerapkan langkah-langkah untuk membatasi pinjaman dan memperlambat inflasi.
Meski produk domestik bruto (PDB) meningkat pada tingkat 7,6 persen, namun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, turun dari 8,1 persen dalam tiga bulan sebelumnya.
Seperti dilansir dari BBC.co.uk, Jumat (13/7/2012), pada bulan Maret, Beijing menurunkan target pertumbuhan untuk semua sektor di tahun 2012 menjadi 7,5 persen.
Penurunan pertumbuhan ekonomi di China merupakan masalah bagi negara Asia lainnya dan pemulihan global. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah China telah telah melakukan beberapa perubahan kebijakan guna merangsang pertumbuhan.
Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan, awal pekan ini usaha meningkatkan investasi akan sangat penting untuk menstabilkan pertumbuhan dan pemerintah juga telah mengambil langkah lain dalam beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, Bank sentral China telah memotong jumlah dana bank untuk menjaga cadangan tetap ada guna meningkatkan pinjaman, dan baru-baru ini Bank Sentral China memotong biaya pinjaman dua kali dalam satu bulan.
Kemampuan China untuk mengembalikan pertumbuhannya ekonominya kembali ke jalurnya akan memiliki implikasi jauh melebihi negara itu sendiri. "China telah menjadi faktor besar bagi perlambatan di Asia tahun ini," kata Tai Hui, dari Standard Chartered Bank, di Singapura.
Dia menambahkan, jika China tidak dapat mengalami pertumbuhan pada semester kedua tahun ini, itu akan menjadi babak kedua yang sangat sulit bagi banyak produsen di daerah ini.
Banyaknya masalah China dapat ditelusuri kembali ke krisis keuangan global pada 2008-2009. Pada saat itu pemerintah pusat mulai mengalokasikan uang dalam jumlah besar ke dalam perekonomian, terutama untuk infrastruktur dan belanja konstruksi.
Hal ini menyebabkan kelebihan kapasitas, lonjakan harga properti dan kenaikan biaya konsumen dan inflasi.
Menghadapi masalah ini di tengah kekhawatiran bahwa ekonomi mungkin terlalu panas, pembuat kebijakan memutuskan untuk menerapkan langkah-langkah untuk membatasi pinjaman dan memperlambat inflasi.
(and)
Lihat Juga :