PT DI teken kontrak Rp8 T
Rabu, 18 Juli 2012 - 20:07 WIB
PT DI teken kontrak Rp8 T
A
A
A
Sindonews.com - PT Dirgantara Indonesia (DI) telah menandatangani kontrak pengadaan komponen dan pesawat senilai Rp8 triliun. Kontrak tersebut untuk periode kerja sampai 2016 mendatang.
Menurut Direktur Umum PT DI Sukatwikanto, kontrak tersebut ditandatangani untuk empat tahun kedepan. "Kerja sama itu terjalin dengan beberapa kalangan, termasuk industri pesawat terbang dunia," jelas dia di kawasan industri PT DI, Kota Bandung, Rabu (18/7/2012).
Salah satu kerja sama yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia yaitu menjalin kerja sama dengan Airbus Military, menggarap pasar di kawasan Amerika Selatan. Kerja sama itu melalui pemasaran pesawat terbang jenis CN-235 maupun CN-295.
"Kerja sama ini jelas menguntungkan PT DI. Apalagi bentuknya bukan merger. Selain itu, bisa menggarap pasar yang lebih luas, termasuk Amerika Selatan," kata Sukatwikanto.
Pada dasarnya, kerja sama dengan Airbus Military telah berlangsung lama. Perusahaan tersebut semula bernama Cassa dan berganti nama setelah diambil alih oleh Airbus.
Proses produksi CN 235 dan CN 295, lanjut dia, tidak hanya berlangsung di tanah air. Akan tetapi, bisa saja berlangsung di Spanyol, atau sebaliknya. Selain membuat CN-235 maupun C-295, PT DI memproduksi komponen pesawat terbang. Salah satu komponen itu dipergunakan oleh Airbus.
Namun demikian, untuk merealisasikan kontrak tersebut, BUMN-nya membutuhkan modal kerja sekira Rp2,06 triliun. Namun, pemerintah baru menyetujui dana modal kerja bernilai Rp1 triliun.
Modal kerja senilai Rp2,06 triliun tersebut adalah untuk melakukan pembelian sejumlah mesin baru. Tujuannya, meningkatkan kapasitas produksi. Menurutnya, jika kapasitas produksi bertambah, tentunya, PT DI dapat memenuhi semua pemesanan sesuai kontrak.
Modal kerja yang diperlukan PT DI di antaranya untuk menambah sumber daya manusia (SDM). Menurut Sukatwikanto, SDM termasuk dalam program revitalisasi yang sedang dijalankan oleh PT DI. "Setiap tahun kami merekrut sekitar 300 orang karyawan baru," kata Sukatwikanto.
Targetnya sebanyak 1.500 karyawan baru direkrut hingga tahun 2017. Mereka adalah tenaga ahli enginering yang disiapkan mengganti tenaga yang pensiun.
Namun, tenaga baru tersebut memerlukan waktu hingga 2-3 tahun untuk dididik. Dengan demikian, perlu ada modal kerja mencukupi.
Menurut Direktur Umum PT DI Sukatwikanto, kontrak tersebut ditandatangani untuk empat tahun kedepan. "Kerja sama itu terjalin dengan beberapa kalangan, termasuk industri pesawat terbang dunia," jelas dia di kawasan industri PT DI, Kota Bandung, Rabu (18/7/2012).
Salah satu kerja sama yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia yaitu menjalin kerja sama dengan Airbus Military, menggarap pasar di kawasan Amerika Selatan. Kerja sama itu melalui pemasaran pesawat terbang jenis CN-235 maupun CN-295.
"Kerja sama ini jelas menguntungkan PT DI. Apalagi bentuknya bukan merger. Selain itu, bisa menggarap pasar yang lebih luas, termasuk Amerika Selatan," kata Sukatwikanto.
Pada dasarnya, kerja sama dengan Airbus Military telah berlangsung lama. Perusahaan tersebut semula bernama Cassa dan berganti nama setelah diambil alih oleh Airbus.
Proses produksi CN 235 dan CN 295, lanjut dia, tidak hanya berlangsung di tanah air. Akan tetapi, bisa saja berlangsung di Spanyol, atau sebaliknya. Selain membuat CN-235 maupun C-295, PT DI memproduksi komponen pesawat terbang. Salah satu komponen itu dipergunakan oleh Airbus.
Namun demikian, untuk merealisasikan kontrak tersebut, BUMN-nya membutuhkan modal kerja sekira Rp2,06 triliun. Namun, pemerintah baru menyetujui dana modal kerja bernilai Rp1 triliun.
Modal kerja senilai Rp2,06 triliun tersebut adalah untuk melakukan pembelian sejumlah mesin baru. Tujuannya, meningkatkan kapasitas produksi. Menurutnya, jika kapasitas produksi bertambah, tentunya, PT DI dapat memenuhi semua pemesanan sesuai kontrak.
Modal kerja yang diperlukan PT DI di antaranya untuk menambah sumber daya manusia (SDM). Menurut Sukatwikanto, SDM termasuk dalam program revitalisasi yang sedang dijalankan oleh PT DI. "Setiap tahun kami merekrut sekitar 300 orang karyawan baru," kata Sukatwikanto.
Targetnya sebanyak 1.500 karyawan baru direkrut hingga tahun 2017. Mereka adalah tenaga ahli enginering yang disiapkan mengganti tenaga yang pensiun.
Namun, tenaga baru tersebut memerlukan waktu hingga 2-3 tahun untuk dididik. Dengan demikian, perlu ada modal kerja mencukupi.
(gpr)
Lihat Juga :