Kedelai mahal, pedagang tempe turunkan timbangan
Rabu, 25 Juli 2012 - 17:18 WIB
Kedelai mahal, pedagang tempe turunkan timbangan
A
A
A
Sindonews.com - Aksi mogok pembuatan tempe yang dilakukan oleh produsen tempe di sejumlah tempat di Pulau Jawa ternyata tidak berimbas ke Kalimantan Timur, khususnya Samarinda. Di sejumlah pasar masih banyak pedagang tempe yang menjajakan tempe hasil olahan mereka sendiri. Bahkan mereka tidak terpengaruh sama sekali dengan kenaikan harga kedelai.
"Kenaikan kedelai terasa juga, hanya saja kami menyiasatinya dengan mengurangi timbangan tempe," kata Anas, salah seorang pedagang di Pasar Segiri, Samarinda, Rabu (25/7/2012).
Biasanya, untuk tempe kemasan harga Rp15 ribu berisi tempe seberat 1,8 kilogram. Karena harga kedelai naik, harganya tetap namun berat tempe berkurang hingga 3 ons. "Ini kami lakukan untuk menyesuaikan harga kedelai yang kami beli," tambah Anas.
Mengenai stok kedelai sendiri Anas mengaku tidak mengalami masalah. Hanya saja memang sering terjadi keterlambatan pengiriman dari distributor ke produsen tempe ini. "Kalau dulu pesan hari ini, datang hari ini juga. Kalau sekarang bisa besok datang, bahkan pernah dua hari baru datang," tambah Anas.
Sementara itu pedagang tempe lainnya mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan kenaikan kedelai. Mereka menerapkan konsep dagang, berapapun akan tetap dibeli. Apalagi perputaran uang di Kaltim cukup cepat sehingga pedagang tak khawatir rugi.
"Kalau di Samarinda perputaran modal cepat, jadi kami gak masalah. Berapapun harga kedelai pasti kami beli, karena mau diolah dan dijual lagi," kata Fian, penjual tempe lainnya.
Para pedagang memilih menurunkan timbangan ketimbang menaikkan harga tempe. Hal ini disebabkan pedagang tempe di Samarinda tidak memiliki wadah bersama untuk menyepekatai harga jual seperti koperasi atau semacamnya.
"Kalau timbangan saya tetap kemudian harga naik, sementara pedagang lain harga tetap dan timbangan turun, pembeli saya akan lari," tambah Fian.
Dalam sehari Fian mengaku bisa menghabiskan setengah pikul kedelai. Setengah pikul sama dengan 50 kilogram. Bahkan kadang-kadang ia bisa menghabiskan satu pikul, tergantung moment dan pesanan.
"Kenaikan kedelai terasa juga, hanya saja kami menyiasatinya dengan mengurangi timbangan tempe," kata Anas, salah seorang pedagang di Pasar Segiri, Samarinda, Rabu (25/7/2012).
Biasanya, untuk tempe kemasan harga Rp15 ribu berisi tempe seberat 1,8 kilogram. Karena harga kedelai naik, harganya tetap namun berat tempe berkurang hingga 3 ons. "Ini kami lakukan untuk menyesuaikan harga kedelai yang kami beli," tambah Anas.
Mengenai stok kedelai sendiri Anas mengaku tidak mengalami masalah. Hanya saja memang sering terjadi keterlambatan pengiriman dari distributor ke produsen tempe ini. "Kalau dulu pesan hari ini, datang hari ini juga. Kalau sekarang bisa besok datang, bahkan pernah dua hari baru datang," tambah Anas.
Sementara itu pedagang tempe lainnya mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan kenaikan kedelai. Mereka menerapkan konsep dagang, berapapun akan tetap dibeli. Apalagi perputaran uang di Kaltim cukup cepat sehingga pedagang tak khawatir rugi.
"Kalau di Samarinda perputaran modal cepat, jadi kami gak masalah. Berapapun harga kedelai pasti kami beli, karena mau diolah dan dijual lagi," kata Fian, penjual tempe lainnya.
Para pedagang memilih menurunkan timbangan ketimbang menaikkan harga tempe. Hal ini disebabkan pedagang tempe di Samarinda tidak memiliki wadah bersama untuk menyepekatai harga jual seperti koperasi atau semacamnya.
"Kalau timbangan saya tetap kemudian harga naik, sementara pedagang lain harga tetap dan timbangan turun, pembeli saya akan lari," tambah Fian.
Dalam sehari Fian mengaku bisa menghabiskan setengah pikul kedelai. Setengah pikul sama dengan 50 kilogram. Bahkan kadang-kadang ia bisa menghabiskan satu pikul, tergantung moment dan pesanan.
(and)
Lihat Juga :