Pengusaha tempe di Sumut terancam gulung tikar
Senin, 30 Juli 2012 - 09:34 WIB
Pengusaha tempe di Sumut terancam gulung tikar
A
A
A
Sindonews.com - Meroketnya harga kedelai dalam satu bulan terakhir berimbas terhadap produksi tempe tahu di Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara.
Pengusaha tempe mengaku bahwa saat ini sedang berada diambang krisis. Harga kedelai dari harga Rp6.300 per kg menjadi harga Rp8.500 per kg. Selain terkendala masalah harga, para pengusaha juga mengaku kewalahan untuk mendapatkan bahan baku.
Sehingga, produksi tempe dalam satu bulan terakhir menurun drastis. Dari biasanya yang mampu mengelola sebanyak 150 kg per hari, kini hanya mampu mengolah 100 kg saja.
“Kenaikan harga kedelai itu, sangat berpengaruh terhadap produksi dan penjualan. Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar, kami mengambil alternatif dengan cara memperkecil cetakan tempe” ujar pemilik UD Citra Supriani Siregar, 42, di Doloksanggul, Minggu 29 Juli 2012.
Supriani menambahkan, jika menaikkan harga konsumen pasti lebih memilih untuk mengonsumsi ikan atau daging. Sementara saat ini dengan memperkecil ukuran juga berdampak pada turunnya minat konsumen untuk membeli tempe.
“Kami tidak mau menggunakan bahan baku lain seperti pisang kepok dan ubi. Sebab itu akan merusak kualitas. Jadi kita lebih baik memilih untuk bertahan dengan minat pasar yang kecil,” paparnya.
Bukan hanya Supriani yang mengalami hal seperti itu, pengusaha tempe di Kecamatan Pakkat, Parlilitan, Onanganjang dan kecamatan Doloksanggul juga mengalami kondisi serupa.
“Saya mengharapkan agar pemerintah lebih serius untuk menangani persoalan kedelai itu, kalaupun pemerintah memberikan subsidi Rp400 per kg, dinilai tidak cukup membantu pengusaha untuk melanjutkan usaha kecil ini,” tandasnya.
Pengusaha tempe mengaku bahwa saat ini sedang berada diambang krisis. Harga kedelai dari harga Rp6.300 per kg menjadi harga Rp8.500 per kg. Selain terkendala masalah harga, para pengusaha juga mengaku kewalahan untuk mendapatkan bahan baku.
Sehingga, produksi tempe dalam satu bulan terakhir menurun drastis. Dari biasanya yang mampu mengelola sebanyak 150 kg per hari, kini hanya mampu mengolah 100 kg saja.
“Kenaikan harga kedelai itu, sangat berpengaruh terhadap produksi dan penjualan. Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar, kami mengambil alternatif dengan cara memperkecil cetakan tempe” ujar pemilik UD Citra Supriani Siregar, 42, di Doloksanggul, Minggu 29 Juli 2012.
Supriani menambahkan, jika menaikkan harga konsumen pasti lebih memilih untuk mengonsumsi ikan atau daging. Sementara saat ini dengan memperkecil ukuran juga berdampak pada turunnya minat konsumen untuk membeli tempe.
“Kami tidak mau menggunakan bahan baku lain seperti pisang kepok dan ubi. Sebab itu akan merusak kualitas. Jadi kita lebih baik memilih untuk bertahan dengan minat pasar yang kecil,” paparnya.
Bukan hanya Supriani yang mengalami hal seperti itu, pengusaha tempe di Kecamatan Pakkat, Parlilitan, Onanganjang dan kecamatan Doloksanggul juga mengalami kondisi serupa.
“Saya mengharapkan agar pemerintah lebih serius untuk menangani persoalan kedelai itu, kalaupun pemerintah memberikan subsidi Rp400 per kg, dinilai tidak cukup membantu pengusaha untuk melanjutkan usaha kecil ini,” tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :