Penjualan Indah Kiat dan Tjiwi Kimia turun
Jum'at, 03 Agustus 2012 - 09:39 WIB
Penjualan Indah Kiat dan Tjiwi Kimia turun
A
A
A
Sindonews.com - Dua anak usaha Sinarmas Grup, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), pada enam bulan pertama tahun ini membukukan penurunan penjualan bersih. Kenaikan beban pokok jadi faktor utama penurunan penjualan tersebut.
Direktur dan Corporate Secretary INKP dan TKIM Agustian R Partawidjaja mengatakan, INKP mencatat penurunan penjualan bersih sekitar 3,7 persen menjadi USD1,29 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya USD1,34 miliar.
“Sedangkan, beban pokok penjualan INKP mengalami kenaikan menjadi USD1,14 miliar dibanding semester I/2011 senilai USD1,13 miliar,“ kata dia di Jakarta kemarin.
Hal tersebut, kata Agustian, menyebabkan laba kotor perseroan menurun 25,6 persen menjadi USD151,54 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya USD203,71 juta.
Kendati penjualan dan laba kotor terkoreksi, menurut Agustian, perseroan berhasil membukukan laba periode berjalan sebesar USD15,97 juta dari posisi semester I tahun sebelumnya yang mencatat rugi USD14,76 juta.
Capaian laba periode berjalan yang positif ini didorong kemampuan perseroan yang berhasil menekan beban lainlain secara signifikan mencapai 87,78 persen menjadi USD8,81 juta dari posisi semester I tahun lalu sebesar USD72,09 juta.
Sementara, TKIM pada semester I/2012 mencatat penurunan penjualan bersih senilai 1,55 persen menjadi USD709,91 juta dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD721,09 juta.
“Beban pokok penjualan TKIM juga naik menjadi USD587,83 juta dibanding semester I tahun lalu USD586,93 juta,“ kata Agustian.
Akibatnya, bebankotorperusahaantercatat turun menjadi USD122,8 juta dari posisi semester I/2011 senilai USD134,16 juta. Adapun, laba bersih TKIM mengalami penurunan sekitar 14 persen menjadi USD34,91 juta dibanding semester I tahun sebelumnya USD40,6 juta.
Turunnya laba bersih perseroan menyebabkan, laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai USD0,026 per saham dibanding periode yang sama tahun lalu USD0,031 per saham.
Adapun, total liabilitas dan ekuitas naik tipis 3,89 persen dari USD2,57 miliar pada akhir Juni tahun lalu menjadi USD2,67 miliar pada akhir Juni tahun ini.
TKIM pada tahun ini menargetkan angka penjualan tumbuh sekitar 5–10 persen dibanding tahun lalu. Dengan penjualan bersih pada tahun lalu sebesar USD1,38 miliar, maka penjualan tahun ini diproyeksikan bisa mencapai USD1,45–1,52 miliar.
Direktur TKIM Suhendra Wiriadinata mengatakan, proyeksi naiknya penjualan pada tahun ini seiring naiknya volume produksi perseroan. “Volume produksi dan penjualan, kami targetkan tumbuh 5–10 persen pada tahun ini,” kata dia.
Analis Lautandhana Securindo Willy Sanjaya berpendapat, emiten yang bergerak di sektor kertas kurang begitu diminati pasar. “Akhir-akhir ini emiten kertas tidak begitu popular,” ujarnya.
Penurunan penjualan yang terjadi akibat menurunnya permintaan, Meski begitu, menurut dia, emiten kertas memiliki peluang tumbuh, namun sedikit terkendala masalah infrastruktur dan lahan terutama kebutuhan bahan baku, juga biaya produksi pembuatan kertas yang semakin mahal seiring naiknya harga minyak mentah di pasar internasional.
Pada perdagangan kemarin di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) saham INKP ditutup turun Rp30 (2,4 persen) menjadi Rp1.200 per saham, sedangkan saham TKIM naik Rp25 (0,9 persen) menjadi Rp2.725 per saham.
Direktur dan Corporate Secretary INKP dan TKIM Agustian R Partawidjaja mengatakan, INKP mencatat penurunan penjualan bersih sekitar 3,7 persen menjadi USD1,29 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya USD1,34 miliar.
“Sedangkan, beban pokok penjualan INKP mengalami kenaikan menjadi USD1,14 miliar dibanding semester I/2011 senilai USD1,13 miliar,“ kata dia di Jakarta kemarin.
Hal tersebut, kata Agustian, menyebabkan laba kotor perseroan menurun 25,6 persen menjadi USD151,54 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya USD203,71 juta.
Kendati penjualan dan laba kotor terkoreksi, menurut Agustian, perseroan berhasil membukukan laba periode berjalan sebesar USD15,97 juta dari posisi semester I tahun sebelumnya yang mencatat rugi USD14,76 juta.
Capaian laba periode berjalan yang positif ini didorong kemampuan perseroan yang berhasil menekan beban lainlain secara signifikan mencapai 87,78 persen menjadi USD8,81 juta dari posisi semester I tahun lalu sebesar USD72,09 juta.
Sementara, TKIM pada semester I/2012 mencatat penurunan penjualan bersih senilai 1,55 persen menjadi USD709,91 juta dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD721,09 juta.
“Beban pokok penjualan TKIM juga naik menjadi USD587,83 juta dibanding semester I tahun lalu USD586,93 juta,“ kata Agustian.
Akibatnya, bebankotorperusahaantercatat turun menjadi USD122,8 juta dari posisi semester I/2011 senilai USD134,16 juta. Adapun, laba bersih TKIM mengalami penurunan sekitar 14 persen menjadi USD34,91 juta dibanding semester I tahun sebelumnya USD40,6 juta.
Turunnya laba bersih perseroan menyebabkan, laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai USD0,026 per saham dibanding periode yang sama tahun lalu USD0,031 per saham.
Adapun, total liabilitas dan ekuitas naik tipis 3,89 persen dari USD2,57 miliar pada akhir Juni tahun lalu menjadi USD2,67 miliar pada akhir Juni tahun ini.
TKIM pada tahun ini menargetkan angka penjualan tumbuh sekitar 5–10 persen dibanding tahun lalu. Dengan penjualan bersih pada tahun lalu sebesar USD1,38 miliar, maka penjualan tahun ini diproyeksikan bisa mencapai USD1,45–1,52 miliar.
Direktur TKIM Suhendra Wiriadinata mengatakan, proyeksi naiknya penjualan pada tahun ini seiring naiknya volume produksi perseroan. “Volume produksi dan penjualan, kami targetkan tumbuh 5–10 persen pada tahun ini,” kata dia.
Analis Lautandhana Securindo Willy Sanjaya berpendapat, emiten yang bergerak di sektor kertas kurang begitu diminati pasar. “Akhir-akhir ini emiten kertas tidak begitu popular,” ujarnya.
Penurunan penjualan yang terjadi akibat menurunnya permintaan, Meski begitu, menurut dia, emiten kertas memiliki peluang tumbuh, namun sedikit terkendala masalah infrastruktur dan lahan terutama kebutuhan bahan baku, juga biaya produksi pembuatan kertas yang semakin mahal seiring naiknya harga minyak mentah di pasar internasional.
Pada perdagangan kemarin di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) saham INKP ditutup turun Rp30 (2,4 persen) menjadi Rp1.200 per saham, sedangkan saham TKIM naik Rp25 (0,9 persen) menjadi Rp2.725 per saham.
(gpr)
Lihat Juga :