BPH Migas sesali kualitas stiker BBM
Selasa, 07 Agustus 2012 - 15:16 WIB
BPH Migas sesali kualitas stiker BBM
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Andi Nursaman Someng mengakui buruknya kualitas stiker yang terpasang pada mobil dinas pemerintah.
Stiker tersebut merupakan tanda pelarangan penggunaan premium pada mobil dinas dalam rangka kebijakan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
Seperti yang diketahui, setelah tiga bulan berjalan kebijakan tersebut, stiker yang dimaksud sudah banyak mengalami kerusakan, di antaranya melunturnya warna stiker. Jadi yang sebelumnya berwarna orange, maka sekarang di beberapa mobil sudah berubah menjadi warna putih dengan tulisan yang sudah tidak terbaca.
"Stikernya kenapa kok jadi jelek banget, saya sama komite juga marah," tegas Andi di Gedung Pertamina, Jakarta, Selasa (7/8/2012).
Pada posisinya, persoalan stiker merupakan tanggung jawab pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM. Sedangkan BPH, Andi menegaskan hanya membantu pengawasan.
Terkait anggaran untuk pembuatan stiker, Andi pun merasa tidak mengetahui. "Kalau jumlah dulu itu bikinnya 60 ribu untuk Jabodetabek," tambahnya.
Dirinya menambahkan, bahwa pihaknya sebelumnya lebih setuju jika menggunakan sistem RFID dibandingkan stiker. Selain kualitas yang lebih terjaga, penjagaan suply and demand akan dirasa lebih efektif.
Bahkan satu chip yang dipergunakan pada RFID hanya seharga Rp3-5 ribu. Sedangkan, dalam pembuatan stiker itu dibutuhkan dana sekitar Rp7.500 dan lebih mahal. Namun dikarenakan kebutuhan yang cepat, maka proyek pengembangan RFID pun gagal dilakukan.
"Mau BPH itu dulu sekalian ada pengaturan apakah CC, bukan stiker namanya itu ada RFID," lengkap Andi.
Stiker tersebut merupakan tanda pelarangan penggunaan premium pada mobil dinas dalam rangka kebijakan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
Seperti yang diketahui, setelah tiga bulan berjalan kebijakan tersebut, stiker yang dimaksud sudah banyak mengalami kerusakan, di antaranya melunturnya warna stiker. Jadi yang sebelumnya berwarna orange, maka sekarang di beberapa mobil sudah berubah menjadi warna putih dengan tulisan yang sudah tidak terbaca.
"Stikernya kenapa kok jadi jelek banget, saya sama komite juga marah," tegas Andi di Gedung Pertamina, Jakarta, Selasa (7/8/2012).
Pada posisinya, persoalan stiker merupakan tanggung jawab pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM. Sedangkan BPH, Andi menegaskan hanya membantu pengawasan.
Terkait anggaran untuk pembuatan stiker, Andi pun merasa tidak mengetahui. "Kalau jumlah dulu itu bikinnya 60 ribu untuk Jabodetabek," tambahnya.
Dirinya menambahkan, bahwa pihaknya sebelumnya lebih setuju jika menggunakan sistem RFID dibandingkan stiker. Selain kualitas yang lebih terjaga, penjagaan suply and demand akan dirasa lebih efektif.
Bahkan satu chip yang dipergunakan pada RFID hanya seharga Rp3-5 ribu. Sedangkan, dalam pembuatan stiker itu dibutuhkan dana sekitar Rp7.500 dan lebih mahal. Namun dikarenakan kebutuhan yang cepat, maka proyek pengembangan RFID pun gagal dilakukan.
"Mau BPH itu dulu sekalian ada pengaturan apakah CC, bukan stiker namanya itu ada RFID," lengkap Andi.
(gpr)
Lihat Juga :