Jelang Lebaran, penjualan mobil bekas lesu
Selasa, 07 Agustus 2012 - 20:00 WIB
Jelang Lebaran, penjualan mobil bekas lesu
A
A
A
Sindonews.com - Jelang Idul Fitri 1433 H, penjualan sejumlah kendaraan roda empat bekas di beberapa lokasi di Jakarta Timur mengalami penurunan. Dibandingkan tahun lalu jumlahnya bisa merosot hingga 40 persen.
Hal tersebut berbeda dengan musim sebelumnya dimana antusias masyarakat untuk membeli kendaraan begitu tinggi. Hal ini salah satunya dikarenakan penanggalan Idul Fitri yang hampir berbarengan dengan masuknya tahun ajaran baru sekolah, serta situasi ekonomi masyarakat yang sedang tidak stabil.
Seperti penuturan Heri, 36, bagian harga dan penjualan PT Toton Cita Abadi di Jalan Kalimalang Jakarta Timur yang mengaku omset penjualan kendaraan roda empat di tempatnya sedang mengalami penurunan.
"Penjualan mobil bekas sedang lesu, dibanding tahun lalu bedanya jauh sekali. Mungkin orang banyak keperluan, kan habis menyekolahkan anak," ujarnya, Selasa (7/8/2012).
Heri mencontohkan pada tahun lalu showroomnya bisa menjual mobil sebanyak 15 sampai dengan 17 kendaraan per bulan, sementara memasuki minggu ketiga Ramadan, pihaknya belum satupun kedatangan pembeli.
"Tahun lalu bisa menjual 15-17 unit, sementara sebentar lagi Lebaran belum juga ada peminat," keluhnya.
Sementara Thomson, 30, bagian marketing di PT Toton Cita Abadi memberikan penjelasan sedikit berbeda menyikapi kelesuan penjualan mobil. Salah satunya adalah penerapan DP 30 persen yang diterapkan oleh pemerintah kepada masyarakat yang ingin membeli kendaraan secara kredit.
"Banyak juga yang sudah datang dan mengurungkan niat membeli lantaran DP-nya yang terlalu tinggi," ucapnya.
Padahal menurut Thomson, harga mobil bekas yang lebih murah juga tidak menjadi jaminan masyarakat akan membelinya. "Jika dibanding baru ya bedanya lumayan, bisa sampai 15 persen dari harga baru," paparnya.
Di tempat terpisah, Arwan, 41, pemilik show room Boster Mobil mengutarakan hal serupa. Menurutnya menurunnya minat masyarakat untuk membeli mobil sudah terlihat sejak dua bulan belakangan. "Sebelumnya sih lumayan, ada yang beli dan tukar tambah," jelasnya.
Mobil jenis minibus serta berkapasitas kecil yang biasanya menjadi idola masyarakat menjelang Idul Fitri pun sepi dari peminat. "Biasanya orang banyak yang mencari mobil minibus buat pulang kampung, ada juga sih yang jenis sedan tapi tidak terlalu banyak," ucapnya.
Namun Arwan tetap memiliki rasa optimis yang tinggi akan meningkatnya minat masyarakat untuk kembali membeli mobil. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang membuka usaha baru dan mengajak serta keluarga dari kampung untuk bekerja di Jakarta.
"Trennya seperti itu, karena sulit mencari pekerjaan di kampung lalu mereka mencoba usaha kerja di Jakarta. Biasanya mobil jenis pick up yang banyak dipesan," paparnya.
Hal tersebut berbeda dengan musim sebelumnya dimana antusias masyarakat untuk membeli kendaraan begitu tinggi. Hal ini salah satunya dikarenakan penanggalan Idul Fitri yang hampir berbarengan dengan masuknya tahun ajaran baru sekolah, serta situasi ekonomi masyarakat yang sedang tidak stabil.
Seperti penuturan Heri, 36, bagian harga dan penjualan PT Toton Cita Abadi di Jalan Kalimalang Jakarta Timur yang mengaku omset penjualan kendaraan roda empat di tempatnya sedang mengalami penurunan.
"Penjualan mobil bekas sedang lesu, dibanding tahun lalu bedanya jauh sekali. Mungkin orang banyak keperluan, kan habis menyekolahkan anak," ujarnya, Selasa (7/8/2012).
Heri mencontohkan pada tahun lalu showroomnya bisa menjual mobil sebanyak 15 sampai dengan 17 kendaraan per bulan, sementara memasuki minggu ketiga Ramadan, pihaknya belum satupun kedatangan pembeli.
"Tahun lalu bisa menjual 15-17 unit, sementara sebentar lagi Lebaran belum juga ada peminat," keluhnya.
Sementara Thomson, 30, bagian marketing di PT Toton Cita Abadi memberikan penjelasan sedikit berbeda menyikapi kelesuan penjualan mobil. Salah satunya adalah penerapan DP 30 persen yang diterapkan oleh pemerintah kepada masyarakat yang ingin membeli kendaraan secara kredit.
"Banyak juga yang sudah datang dan mengurungkan niat membeli lantaran DP-nya yang terlalu tinggi," ucapnya.
Padahal menurut Thomson, harga mobil bekas yang lebih murah juga tidak menjadi jaminan masyarakat akan membelinya. "Jika dibanding baru ya bedanya lumayan, bisa sampai 15 persen dari harga baru," paparnya.
Di tempat terpisah, Arwan, 41, pemilik show room Boster Mobil mengutarakan hal serupa. Menurutnya menurunnya minat masyarakat untuk membeli mobil sudah terlihat sejak dua bulan belakangan. "Sebelumnya sih lumayan, ada yang beli dan tukar tambah," jelasnya.
Mobil jenis minibus serta berkapasitas kecil yang biasanya menjadi idola masyarakat menjelang Idul Fitri pun sepi dari peminat. "Biasanya orang banyak yang mencari mobil minibus buat pulang kampung, ada juga sih yang jenis sedan tapi tidak terlalu banyak," ucapnya.
Namun Arwan tetap memiliki rasa optimis yang tinggi akan meningkatnya minat masyarakat untuk kembali membeli mobil. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang membuka usaha baru dan mengajak serta keluarga dari kampung untuk bekerja di Jakarta.
"Trennya seperti itu, karena sulit mencari pekerjaan di kampung lalu mereka mencoba usaha kerja di Jakarta. Biasanya mobil jenis pick up yang banyak dipesan," paparnya.
(gpr)
Lihat Juga :