Swasembada kedelai butuh komitmen pendanaan

Rabu, 08 Agustus 2012 - 10:43 WIB
Swasembada kedelai butuh...
Swasembada kedelai butuh komitmen pendanaan
A A A
Sindonews.com - Kementerian pertanian menyatakan bahwa upaya mencapai target surplus kedelai pada tahun 2014 menuntut pemenuhan komitmen,terutama penganggaran.

Anggaran tersebut antara lain akan digunakan untuk membantu petani dan melibatkan peran swasta,termasuk mengundang importir untuk berinvestasi. “Asal Rp1,1 triliun ada anggaran tahun ini kemudian 2013 Rp2,2 triliun, dan 2014 butuh Rp3,2 triliun.Total akumulasinya hingga 2014 Rp6,8 triliun. Kalau ini berjalan lancar, kita bisa surplus kedelai hingga 120.000 ton dari kebutuhan yang ada saat ini,” kata Direktur Aneka Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian Kementerian Pertanian Maman Suparman seusai diskusi ketahanan pangan mengenai swasembada kedelai di Jakarta kemarin.

Maman menjelaskan, surplus bisa dicapai dengan asumsi ada penambahan lahan areal baru seluas 1,3 juta hektare. Namun, yang menjadi persoalan saat ini adalah perhatian terhadap kedelai masih bukan menjadi prioritas dari target swasembada pangan. “Memang kita akui pemerintah punya target swasembada. Tapi, porsi kedelai sangat kecil, masih di bawah 50 persen, belum bisa memenuhi kebutuhan kita,”ujar pengamat pertanian dari Asosiasi Politik dan Ekonomi Khudori kepada SINDO kemarin.

Pemulia tanaman kedelai Harry Is Mulyana dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengungkapkan hal yang sama.Menurut dia,sebenarnya sudah banyak penelitian yang memungkinkan petani menanam kedelai bahkan dengan kualitas memadai. “Namun, penerapannya di masyarakat masih terhambat distribusi dan regulasi,”cetusnya. Menurut Harry,pemerintah harus bisa membangun sistem kebijakan pangan berbasis kedelai yang menguntungkan semua pihak.

Dia menilai, harus ada jaminan untuk menetapkan harga yang menarik,dan membentuk usaha tani kedelai dengan akses ke perbankan. Sementara, dari Asosiasi Perajin Tahu-Tempe Himan Ismail Metareum memastikan, harga tahu tempe telah naik hingga 10 persen meski pemerintah menurunkan bea masuk impor dari lima persen menjadi nol persen.

Dia mengatakan, kenaikan itu sudah tidak bisa dibendung lagi. Langkah pembebasan bea impor memang dinilai tidak mungkin menghentikan melonjaknya harga kedelai, sebelum pemerintah melakukan langkah swasembada yang bisa memberikan jaminan pasokan.

“Karena itu,mau tidak mau kita harus memberi insentif kepada para petani dengan menggunakan porsi yang pas untuk perluasan usaha kedelai ini,” kata anggota DPR yang membidangi masalah pertanian,Jafar Hafsah.
(and)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Kedelai Meroket,...
Harga Kedelai Meroket, Disperindag dan Polda Banten Sidak Gudang
Mencari Solusi Meredam...
Mencari Solusi Meredam Gejolak Harga Kedelai
Abai dengan Impor Kedelai,...
Abai dengan Impor Kedelai, Sampai Kapan?
Masih Ada Peluang Indonesia...
Masih Ada Peluang Indonesia Tak Bergantung pada Kedelai Impor
Ironi Tanaman Kedelai...
Ironi Tanaman Kedelai di Indonesia: Tanahnya Terbaik, tapi Impor Terus
Solutif! Harga Kedelai...
Solutif! Harga Kedelai Melonjak, Partai Perindo: Perbaiki Tata Kelola Impor & Tingkatkan Produksi Lokal
Berita Terkini
Prabowo Kumpulin Menteri...
Prabowo Kumpulin Menteri di Hambalang Bahas Harga Khusus BBM untuk Nelayan
9 jam yang lalu
Raih 3 Pengakuan Internasional,...
Raih 3 Pengakuan Internasional, IIF Terus Memperkuat Kapasitas Pendanaan Infrastruktur
9 jam yang lalu
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating dan Outlook Kredit Indonesia, Purbaya: Arah Kebijakan Ekonomi Terjaga
9 jam yang lalu
Danamon Prasmul EduWealth...
Danamon Prasmul EduWealth Menjawab Tren Kenaikan Biaya Pendidikan: Ekosistem Pendanaan dan Proteksi
10 jam yang lalu
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
10 jam yang lalu
Membuka Pintu Investasi...
Membuka Pintu Investasi dan Kerja Sama Selangor-Jawa Barat lewat SIBS 2026
11 jam yang lalu
Infografis
AS Butuh Rp15.919 Triliun...
AS Butuh Rp15.919 Triliun untuk Memodernisasi Senjata Nuklirnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved