Neraca pembayaran tertekan
Sabtu, 11 Agustus 2012 - 14:25 WIB
Neraca pembayaran tertekan
A
A
A
Sindonews.com - Penurunan ekspor yang terjadi selama triwulan II tahun ini menyebabkan defisit neraca pembayaran Indonesia meningkat menjadi sebesar USD6,9 miliar (3,1 persen dari PDB). Defisit tersebut melonjak jika dibandingkan neraca pembayaran pada triwulan I/2012 yang tercatat sebesar USD3,2 miliar (1,5 persen dari PDB).
Penyebab utama meningkatnya defisit neraca pembayaran adalah surplus neraca perdagangan yang menyusut sehingga tidak dapat mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar.
Di sisi neraca perdagangan nonmigas, lebih rendahnya surplus disebabkan oleh penurunan ekspor akibat pelemahan permintaan dan penurunan harga komoditas global yang berlangsung di saat impor khususnya bahan baku dan barang modal tumbuh tinggi sejalan dengan permintaan domestik yang tetap kuat.
”Transaksi modal dan finansial itu masih surplus tetapi tidak sampai sebesar defisitnya transaksi berjalan, sehingga sebagai hasilnya neraca pembayarannya defisit sampai 3,1 persen dari PDB,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution di Jakarta kemarin.
Sektor migas juga memberikan kontribusi negatif karena defisit neraca perdagangan minyak masih lebih besar daripada surplus neraca perdagangan gas.
Menurut dia, pemerintah dan BI dalam rapat koordinasi di gedung BI sudah membahas persoalan ini dan telah menyiapkan berbagai kebijakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi meningkatnya defisit neraca pembayaran.
Menurut Darmin, untuk mengatasi pelemahan ekspor perlu diversifikasi pasar, sehingga pada jangka menengah panjang pertumbuhan ekspor bisa dijaga dengan baik.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui, pemerintah kesulitan menghindari tingginya impor barang modal dan bahan baku yang mengakibatkan besarnya defisit transaksi berjalan sampai triwulan II/2012.
Dia mengatakan, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar investasi-investasi di Indonesia dilakukan dengan porsi untuk bisa melakukan ekspor, sehingga neraca perdagangan dapat lebih terkendali.
Menurut Agus Marto, pemerintah sangat memperhatikan kondisi membengkaknya defisit transaksi berjalan yang diakibatkan tingginya impor di tengah arus ekspor yang melemah akibat turunnya permintaan global.
”Kita ingin meyakini bahwa upaya-upaya untuk ekspor itu bisa terus baik, upaya membuka pasar baru dijalankan. Kebijakan-kebijakan untuk membuat ekspor itu lebih lancar, dan pengendalian impor,” katanya seusai rapat koordinasi di gedung BI.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa dalam kesempatan yang sama mengatakan, tingginya laju impor terutama untuk barang modal hanya bersifat sementara karena besarnya kebutuhan investasi dalam negeri.
”Itu karena capital goods yang kita gunakan akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan mendorong ekspor kita,” katanya.
Hatta mengatakan, langkah utama yang akan dilakukan adalah mengendalikan impor migas dengan pengurangan penggunaan BBM bersubsidi.
Dihubungi terpisah, ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menyampaikan, kondisi defisit neraca perdagangan memangtidakbisadihindaridalam jangka pendek karena kondisi ekspor berada di luar kontrol pemerintah.
”Selain permintaan dari luar melemah,harga komoditas dunia juga turun. Jadi, memang kita belum bisa ngapa-ngapain dalam waktu dekat ini,” katanya,
kemarin. Meski begitu, tingginya impor masih didukung dengan ekonomi domestik dan investasi yang juga berjalan.
Menurut dia, yang bisa dilakukan adalah mengurangi impor, khususnya ketergantungan pada bahan baku.Pengembangan industri hilir tidak bisa ditunda-tunda lagi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Penyebab utama meningkatnya defisit neraca pembayaran adalah surplus neraca perdagangan yang menyusut sehingga tidak dapat mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar.
Di sisi neraca perdagangan nonmigas, lebih rendahnya surplus disebabkan oleh penurunan ekspor akibat pelemahan permintaan dan penurunan harga komoditas global yang berlangsung di saat impor khususnya bahan baku dan barang modal tumbuh tinggi sejalan dengan permintaan domestik yang tetap kuat.
”Transaksi modal dan finansial itu masih surplus tetapi tidak sampai sebesar defisitnya transaksi berjalan, sehingga sebagai hasilnya neraca pembayarannya defisit sampai 3,1 persen dari PDB,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution di Jakarta kemarin.
Sektor migas juga memberikan kontribusi negatif karena defisit neraca perdagangan minyak masih lebih besar daripada surplus neraca perdagangan gas.
Menurut dia, pemerintah dan BI dalam rapat koordinasi di gedung BI sudah membahas persoalan ini dan telah menyiapkan berbagai kebijakan yang bisa dilakukan untuk mengatasi meningkatnya defisit neraca pembayaran.
Menurut Darmin, untuk mengatasi pelemahan ekspor perlu diversifikasi pasar, sehingga pada jangka menengah panjang pertumbuhan ekspor bisa dijaga dengan baik.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui, pemerintah kesulitan menghindari tingginya impor barang modal dan bahan baku yang mengakibatkan besarnya defisit transaksi berjalan sampai triwulan II/2012.
Dia mengatakan, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar investasi-investasi di Indonesia dilakukan dengan porsi untuk bisa melakukan ekspor, sehingga neraca perdagangan dapat lebih terkendali.
Menurut Agus Marto, pemerintah sangat memperhatikan kondisi membengkaknya defisit transaksi berjalan yang diakibatkan tingginya impor di tengah arus ekspor yang melemah akibat turunnya permintaan global.
”Kita ingin meyakini bahwa upaya-upaya untuk ekspor itu bisa terus baik, upaya membuka pasar baru dijalankan. Kebijakan-kebijakan untuk membuat ekspor itu lebih lancar, dan pengendalian impor,” katanya seusai rapat koordinasi di gedung BI.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa dalam kesempatan yang sama mengatakan, tingginya laju impor terutama untuk barang modal hanya bersifat sementara karena besarnya kebutuhan investasi dalam negeri.
”Itu karena capital goods yang kita gunakan akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan mendorong ekspor kita,” katanya.
Hatta mengatakan, langkah utama yang akan dilakukan adalah mengendalikan impor migas dengan pengurangan penggunaan BBM bersubsidi.
Dihubungi terpisah, ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menyampaikan, kondisi defisit neraca perdagangan memangtidakbisadihindaridalam jangka pendek karena kondisi ekspor berada di luar kontrol pemerintah.
”Selain permintaan dari luar melemah,harga komoditas dunia juga turun. Jadi, memang kita belum bisa ngapa-ngapain dalam waktu dekat ini,” katanya,
kemarin. Meski begitu, tingginya impor masih didukung dengan ekonomi domestik dan investasi yang juga berjalan.
Menurut dia, yang bisa dilakukan adalah mengurangi impor, khususnya ketergantungan pada bahan baku.Pengembangan industri hilir tidak bisa ditunda-tunda lagi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
(gpr)
Lihat Juga :