Ekspor-impor China melambat lagi
Sabtu, 11 Agustus 2012 - 14:30 WIB
Ekspor-impor China melambat lagi
A
A
A
Sindonews.com - Laju ekspor-impor China pada Juli 2012 melambat untuk kedua kalinya secara berturut-turut dalam periode bulanan akibat memburuknya perekonomian global dan lemahnya pasar domestik.
Data terbaru yang dirilis Biro Administrasi Umum dan Bea Cukai China menyatakan, ekspor Negeri Panda pada bulan lalu hanya naik 1 persen pada dibanding tahun sebelumnya, menjadi USD176,9 miliar.
Kinerja tersebut jauh di bawah Juni 2012 yang kenaikannya mencapai 11,3 persen. Di sisi impor, kenaikannya melambat hanya 4,7 persen tahun ke tahun (year on year/yoy) menjadi USD151,8 miliar atau turun dari peningkatan 6,3 persen pada Juni yang mengindikasikan adanya penurunan permintaan domestik.
Angka-angka indikator ekonomi yang merosot di bawah ekspektasi dalam beberapa bulan terakhir semakin menambah kekhawatiran bahwa ekonomi China terus merosot.
Para analis mengatakan, data yang lemah dikombinasikan dengan angka yang mengecewakan dapat menciptakan dorongan lebih lanjut kepada Beijing untuk memperkenalkan langkahlangkah stimulus guna meningkatkan pertumbuhan.
“Turunnya sektor ekspor dan impor sungguh di luar perkiraan. Angka ekspor Juli merupakan yang terburuk sejak 2009 sehingga menekankan risiko bahwa lingkungan eksternal memengaruhi perekonomian di tengah perlambatan internal yang cepat,” ujar ekonom IHS Global Insight Beijing Alistair Thornton dikutip BBC kemarin.
Peningkatan ekspor yang hanya 1 persen juga berimbas pada turunnya surplus perdagangan China menjadi hanya USD25,1 miliar pada Juli dari sebelumnya USD31,7 miliar.
Saat ini ekspor China terhantam oleh melemahnya perekonomian luar negeri, terutama mitra dagangnya yakni Eropa yang tengah mengalami krisis utang, lambatnya pasar properti, serta menurunnya belanja konsumen.
Ekonom IHS Global Insight Ren Xianfang mengungkapkan, hal tersebut menyulitkan prospek untuk pemulihan Negeri Panda.
“Dengan ekspor yang kehilangan kecepatan dari yang diperkirakan, saat ini investasi pemerintah mengenai rencana stimulus terlihat sangat tidak memadai,” imbuh dia.
Di bagian lain, melemahnya perekonomian global pada beberapa bulan terakhir juga menyebabkan ekonomi Singapura mengalami kontraksi sebesar 0,7 persen pada kuartal II/2012.
Data tersebut mendorong pemerintah Negeri Merlion menurunkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tahun ini menjadi 1,5–2,5 persen, dibanding proyeksi sebelumnya 1-3 persen.
“Memburuknya kinerja ekonomi dipicu lemahnya ekspor produk elektronik yang merupakan sektor andalan pada perdagangan luar negeri,” ujar Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura dikutip AFP kemarin.
Turunnya volume perdagangan luar negeri berimbas pada anjloknya aktivitas manufaktur yakni -0,5 persen, jauh di bawah periode sebelumnya yang tumbuh 20,8 persen. Memburuknya perekonomian di sejumlah negara juga mendorong Badan Energi Internasional (IEA) menurunkan proyeksi permintaan minyak dunia untuk tahun 2012 dan 2013.
Menurut lembaga yang berbasis di Paris tersebut, permintaan minyak dunia tahun ini diperkirakan turun 0,9 juta barel per hari (bph) menjadi 89,6 juta bph. Sedangkan untuk 2013, diperkirakan permintaan minyak turun 0,8 juta bph menjadi 90,5 juta bph.
Data terbaru yang dirilis Biro Administrasi Umum dan Bea Cukai China menyatakan, ekspor Negeri Panda pada bulan lalu hanya naik 1 persen pada dibanding tahun sebelumnya, menjadi USD176,9 miliar.
Kinerja tersebut jauh di bawah Juni 2012 yang kenaikannya mencapai 11,3 persen. Di sisi impor, kenaikannya melambat hanya 4,7 persen tahun ke tahun (year on year/yoy) menjadi USD151,8 miliar atau turun dari peningkatan 6,3 persen pada Juni yang mengindikasikan adanya penurunan permintaan domestik.
Angka-angka indikator ekonomi yang merosot di bawah ekspektasi dalam beberapa bulan terakhir semakin menambah kekhawatiran bahwa ekonomi China terus merosot.
Para analis mengatakan, data yang lemah dikombinasikan dengan angka yang mengecewakan dapat menciptakan dorongan lebih lanjut kepada Beijing untuk memperkenalkan langkahlangkah stimulus guna meningkatkan pertumbuhan.
“Turunnya sektor ekspor dan impor sungguh di luar perkiraan. Angka ekspor Juli merupakan yang terburuk sejak 2009 sehingga menekankan risiko bahwa lingkungan eksternal memengaruhi perekonomian di tengah perlambatan internal yang cepat,” ujar ekonom IHS Global Insight Beijing Alistair Thornton dikutip BBC kemarin.
Peningkatan ekspor yang hanya 1 persen juga berimbas pada turunnya surplus perdagangan China menjadi hanya USD25,1 miliar pada Juli dari sebelumnya USD31,7 miliar.
Saat ini ekspor China terhantam oleh melemahnya perekonomian luar negeri, terutama mitra dagangnya yakni Eropa yang tengah mengalami krisis utang, lambatnya pasar properti, serta menurunnya belanja konsumen.
Ekonom IHS Global Insight Ren Xianfang mengungkapkan, hal tersebut menyulitkan prospek untuk pemulihan Negeri Panda.
“Dengan ekspor yang kehilangan kecepatan dari yang diperkirakan, saat ini investasi pemerintah mengenai rencana stimulus terlihat sangat tidak memadai,” imbuh dia.
Di bagian lain, melemahnya perekonomian global pada beberapa bulan terakhir juga menyebabkan ekonomi Singapura mengalami kontraksi sebesar 0,7 persen pada kuartal II/2012.
Data tersebut mendorong pemerintah Negeri Merlion menurunkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tahun ini menjadi 1,5–2,5 persen, dibanding proyeksi sebelumnya 1-3 persen.
“Memburuknya kinerja ekonomi dipicu lemahnya ekspor produk elektronik yang merupakan sektor andalan pada perdagangan luar negeri,” ujar Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura dikutip AFP kemarin.
Turunnya volume perdagangan luar negeri berimbas pada anjloknya aktivitas manufaktur yakni -0,5 persen, jauh di bawah periode sebelumnya yang tumbuh 20,8 persen. Memburuknya perekonomian di sejumlah negara juga mendorong Badan Energi Internasional (IEA) menurunkan proyeksi permintaan minyak dunia untuk tahun 2012 dan 2013.
Menurut lembaga yang berbasis di Paris tersebut, permintaan minyak dunia tahun ini diperkirakan turun 0,9 juta barel per hari (bph) menjadi 89,6 juta bph. Sedangkan untuk 2013, diperkirakan permintaan minyak turun 0,8 juta bph menjadi 90,5 juta bph.
(gpr)
Lihat Juga :