Penjualan emiten BUMN farmasi positif
Selasa, 14 Agustus 2012 - 08:15 WIB
Penjualan emiten BUMN farmasi positif
A
A
A
Sindonews.com - Emiten badan usaha milik negara (BUMN) farmasi pada semester II/2012 diprediksi tumbuh positif. Kinerja tersebut ditopang meningkatnya penjualan dan harga bahan baku yang tidak berfluktuasi.
“Menurunnya harga komoditas yang berhubungan dengan produksi obat menyebabkan biaya yang dikeluarkan turun, sehingga memberi dampak positif terhadap kinerja perusahaan farmasi,” ujar Managing Research Indosurya Securities Reza Priyambadadi di Jakarta kemarin.
Kondisi ini akan berlanjut pada semester II/2012. Dengan catatan, bahan baku produk obat-obatnya tidak mengalami fluktuasi yang cukup tinggi dan daya beli masyarakat masih tetap terjaga. Jika harga bahan baku mengalami lonjakan, maka akan menggerus kinerja positif perseroan pada sisa tahun ini.
Terkait akuisisi/merger PT Indofarma Tbk (INAF) oleh PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan memberi dampak positif bagi perusahaan dan pasar farmasi. ”Jika kedua BUMN farmasi ini bergabung, maka berpotensi menyalip pangsa pasar Kalbe Fara yangmemilikipangsapasar terbesar di Indonesia,” tuturnya.
Adapun, saham KAEF dalam jangka pendek berpotensi berada pada level Rp570–580 per saham dan jangka panjang atau akhir tahun bisa mencapai Rp620–630 per lembar saham. Sedangkan saham INAF, dalam jangka pendek berpotensi menuju level Rp230–240 per saham dan akhir tahun ke level Rp290–300 per saham.
Kimia Farma pada semester I/2012 berhasil membukukan pendapatan Rp1,58 triliun atau naik 12,06 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,41 triliun, dengan laba bersih tumbuh 129,16 persen menjadi Rp84,7 miliar dari semester I/2011 senilai Rp36,96 miliar. Perseroan hingga penghujung tahun ini menargetkan, pendapatan Rp4 triliun dan laba bersih Rp220 miliar.
Demi mencapai target tersebut, perseroan melakukan peningkatan kapasitas pabrik obat dan memperbanyak jumlah apotek Kimia Farma. Dalam mempersiapkan diri menghadapi terbentuknya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2014, Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Djoko Rusdianto mengatakan, perseroan akan meningkatkan kapasitas kelima pabrik obatnya dengan menganggarkan dana sebesar Rp370 miliar.
”Kami berencana merenovasi dan meningkatkan kapasitas lima pabrik obat Kimia Farma untuk mendukung penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional yang diselenggarakan BPJS mulai awal 2014,” ujarnya.
Di samping itu, perusahaan juga akan membangun 50 unit apotek baru dan 100 klinik baru di sejumlah kota.
Sementara, INAF pada semester I tahun ini berhasil membukukan laba bersih Rp6 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya, mencatat rugi bersih Rp23,23 miliar. Perolehan laba bersih dalam enam bulan pertama tahun ini didorong naiknya pendapatan perusahaan menjadi Rp404 miliar.
Direktur Utama Indofarma Djakfarudin Junus menjelaskan, naiknya laba bersih perseroan ditopang naiknya angka penjualan sebesar 25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu senilai Rp23,86 miliar.
Meningkatnya kinerja perseroan pada enam bulan pertama tahun ini didorong fokus perseroan pada pasar obat yang menghasilkan marjin lebih besar. Selain itu, sebagian obat tender dari pemerintah diperoleh pada semester I, sedangkan tahun sebelumnya diperoleh pada akhir tahun.
Direktur Riset dan Pemasaran Indofarma Elfiano Rizaldi berharap, kinerja perseroan pada semester II tahun ini bisa terus membaik.
Demi mencapai kinerja lebih positif, selain didorong beberapa upaya yang telah dilakukan pada semester I, perseroan juga akan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku dan meningkatkan supply chain management untuk mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan bahan baku hingga produksi obat serta mengembangkan salah satu anak usahanya di bidang distribusi dan perdagangan obat maupun alat kesehatan, PT Indofarma Global Medika (IGM).
“Menurunnya harga komoditas yang berhubungan dengan produksi obat menyebabkan biaya yang dikeluarkan turun, sehingga memberi dampak positif terhadap kinerja perusahaan farmasi,” ujar Managing Research Indosurya Securities Reza Priyambadadi di Jakarta kemarin.
Kondisi ini akan berlanjut pada semester II/2012. Dengan catatan, bahan baku produk obat-obatnya tidak mengalami fluktuasi yang cukup tinggi dan daya beli masyarakat masih tetap terjaga. Jika harga bahan baku mengalami lonjakan, maka akan menggerus kinerja positif perseroan pada sisa tahun ini.
Terkait akuisisi/merger PT Indofarma Tbk (INAF) oleh PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan memberi dampak positif bagi perusahaan dan pasar farmasi. ”Jika kedua BUMN farmasi ini bergabung, maka berpotensi menyalip pangsa pasar Kalbe Fara yangmemilikipangsapasar terbesar di Indonesia,” tuturnya.
Adapun, saham KAEF dalam jangka pendek berpotensi berada pada level Rp570–580 per saham dan jangka panjang atau akhir tahun bisa mencapai Rp620–630 per lembar saham. Sedangkan saham INAF, dalam jangka pendek berpotensi menuju level Rp230–240 per saham dan akhir tahun ke level Rp290–300 per saham.
Kimia Farma pada semester I/2012 berhasil membukukan pendapatan Rp1,58 triliun atau naik 12,06 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,41 triliun, dengan laba bersih tumbuh 129,16 persen menjadi Rp84,7 miliar dari semester I/2011 senilai Rp36,96 miliar. Perseroan hingga penghujung tahun ini menargetkan, pendapatan Rp4 triliun dan laba bersih Rp220 miliar.
Demi mencapai target tersebut, perseroan melakukan peningkatan kapasitas pabrik obat dan memperbanyak jumlah apotek Kimia Farma. Dalam mempersiapkan diri menghadapi terbentuknya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2014, Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Djoko Rusdianto mengatakan, perseroan akan meningkatkan kapasitas kelima pabrik obatnya dengan menganggarkan dana sebesar Rp370 miliar.
”Kami berencana merenovasi dan meningkatkan kapasitas lima pabrik obat Kimia Farma untuk mendukung penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional yang diselenggarakan BPJS mulai awal 2014,” ujarnya.
Di samping itu, perusahaan juga akan membangun 50 unit apotek baru dan 100 klinik baru di sejumlah kota.
Sementara, INAF pada semester I tahun ini berhasil membukukan laba bersih Rp6 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya, mencatat rugi bersih Rp23,23 miliar. Perolehan laba bersih dalam enam bulan pertama tahun ini didorong naiknya pendapatan perusahaan menjadi Rp404 miliar.
Direktur Utama Indofarma Djakfarudin Junus menjelaskan, naiknya laba bersih perseroan ditopang naiknya angka penjualan sebesar 25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu senilai Rp23,86 miliar.
Meningkatnya kinerja perseroan pada enam bulan pertama tahun ini didorong fokus perseroan pada pasar obat yang menghasilkan marjin lebih besar. Selain itu, sebagian obat tender dari pemerintah diperoleh pada semester I, sedangkan tahun sebelumnya diperoleh pada akhir tahun.
Direktur Riset dan Pemasaran Indofarma Elfiano Rizaldi berharap, kinerja perseroan pada semester II tahun ini bisa terus membaik.
Demi mencapai kinerja lebih positif, selain didorong beberapa upaya yang telah dilakukan pada semester I, perseroan juga akan melakukan efisiensi penggunaan bahan baku dan meningkatkan supply chain management untuk mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan bahan baku hingga produksi obat serta mengembangkan salah satu anak usahanya di bidang distribusi dan perdagangan obat maupun alat kesehatan, PT Indofarma Global Medika (IGM).
(gpr)
Lihat Juga :