Bos Standard Chartered terbang ke New York
Rabu, 15 Agustus 2012 - 10:25 WIB
Bos Standard Chartered terbang ke New York
A
A
A
Sindonews.com - Pimpinan Standard Chartered Plc (StanChart) dikabarkan terbang ke New York, Amerika Serikat (AS), untuk memberikan keterangan terkait tudingan otoritas keuangan AS.
Bank asal Inggris tersebut sebelumnya dinyatakan ada di balik transaksi ilegal senilai USD250 miliar yang melibatkan perbankan Iran. Namun, menurut BBC, belum ada konfirmasi apakah Chief Executive Officer Standard Chartered Peter Sand akan menghadiri rapat dengan pendapat dengan parlemen atau tidak.
Sebelumnya Standard Chartered telah diminta menjelaskan kepada Department of Financial Services (DFS) bagaimana transaksi tersebut bisa terjadi.
“Kami belum tahu juga apakah hearing tersebut akan di lakukan secara terbuka atau tertutup,” ujar Standard Chartered Bank dalam pernyataan resminya dikutip BBC kemarin.
Juru Bicara Standard Chartered mengatakan, pihaknya sudah menunggu kesempatan untuk melakukan pembicaraan dengan regulator negara bagian New York dan DFS serta format seperti apa yang akan dipakai dalam dengar pendapat tersebut. “Mr Peter sudah menyiapkan diri jika diperlukan,” kata juru bicara tersebut.
”CEO kami juga akan bekerja sama dengan tim penasihat hukum perusahaan dalam upaya melakukan negosiasi dengan otoritas AS,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pekan lalu otoritas AS menuduh Standard Chartered Plc telah melakukan pelanggaran hukum berupa transaksi pencucian uang yang melibatkan perbankan Iran.
Tidak tanggung-tanggung, dalam tuduhan yang disampaikan DFS yang mencakup wilayah kerja negara bagian New York tersebut, perbankan asal Inggris itu dituding telah menerima transfer dana senilai USD250 miliar selama kurun waktu 2001–2010.
FDS juga mengancam akan mencabut lisensi StanChart serta menjatuhkan denda. DFS menyatakan, bank terbesar ke-15 di Inggris tersebut telah bersekongkol dengan Pemerintah Iran dengan menyembunyikan sebanyak 60.000 transaksi rahasia untuk menghasilkan ratusan juta dolar selama hampir 10 tahun.
Regulator AS tersebut juga menuduh StanChart secara sistematis menyamarkan transaksi valuta asing dengan Iran dalam pelanggaran pengawasan.
Tindakan tersebut berpotensi membuka sistem perbankan AS kepada teroris, pengedar narkotika, dan negarane gara yang melakukan korupsi. Menanggapi tuduhan tersebut StanChart dengan tegas membantah adanya transaksi rahasia dengan perbankan Iran.
Sekretaris perusahaan grup Standard Chartered Anne marie Durbin saat itu mengatakan, perusahaannya menolak posisi atau penggambaran fakta-fakta sebagaimana yang dikeluarkan oleh DFS.
Bank asal Inggris tersebut sebelumnya dinyatakan ada di balik transaksi ilegal senilai USD250 miliar yang melibatkan perbankan Iran. Namun, menurut BBC, belum ada konfirmasi apakah Chief Executive Officer Standard Chartered Peter Sand akan menghadiri rapat dengan pendapat dengan parlemen atau tidak.
Sebelumnya Standard Chartered telah diminta menjelaskan kepada Department of Financial Services (DFS) bagaimana transaksi tersebut bisa terjadi.
“Kami belum tahu juga apakah hearing tersebut akan di lakukan secara terbuka atau tertutup,” ujar Standard Chartered Bank dalam pernyataan resminya dikutip BBC kemarin.
Juru Bicara Standard Chartered mengatakan, pihaknya sudah menunggu kesempatan untuk melakukan pembicaraan dengan regulator negara bagian New York dan DFS serta format seperti apa yang akan dipakai dalam dengar pendapat tersebut. “Mr Peter sudah menyiapkan diri jika diperlukan,” kata juru bicara tersebut.
”CEO kami juga akan bekerja sama dengan tim penasihat hukum perusahaan dalam upaya melakukan negosiasi dengan otoritas AS,” tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pekan lalu otoritas AS menuduh Standard Chartered Plc telah melakukan pelanggaran hukum berupa transaksi pencucian uang yang melibatkan perbankan Iran.
Tidak tanggung-tanggung, dalam tuduhan yang disampaikan DFS yang mencakup wilayah kerja negara bagian New York tersebut, perbankan asal Inggris itu dituding telah menerima transfer dana senilai USD250 miliar selama kurun waktu 2001–2010.
FDS juga mengancam akan mencabut lisensi StanChart serta menjatuhkan denda. DFS menyatakan, bank terbesar ke-15 di Inggris tersebut telah bersekongkol dengan Pemerintah Iran dengan menyembunyikan sebanyak 60.000 transaksi rahasia untuk menghasilkan ratusan juta dolar selama hampir 10 tahun.
Regulator AS tersebut juga menuduh StanChart secara sistematis menyamarkan transaksi valuta asing dengan Iran dalam pelanggaran pengawasan.
Tindakan tersebut berpotensi membuka sistem perbankan AS kepada teroris, pengedar narkotika, dan negarane gara yang melakukan korupsi. Menanggapi tuduhan tersebut StanChart dengan tegas membantah adanya transaksi rahasia dengan perbankan Iran.
Sekretaris perusahaan grup Standard Chartered Anne marie Durbin saat itu mengatakan, perusahaannya menolak posisi atau penggambaran fakta-fakta sebagaimana yang dikeluarkan oleh DFS.
(gpr)
Lihat Juga :