Peternak Priangan Timur sambut rencana regulasi perunggasan
Jum'at, 17 Agustus 2012 - 18:52 WIB
Peternak Priangan Timur sambut rencana regulasi perunggasan
A
A
A
Sindonews.com - Ribuan peternak yang tersebar di wilayah Priangan Timur (Ciamis, Tasik, Garut dan Banjar) menyambut baik rencana pemerintah provinsi Jawa Barat (Jabar) segera melakukan regulasi peternakan ayam di Jabar.
Peluang peternakan khususnya ayam di Jawa Barat masih terbuka lebar. Dengan adanya regulasi dari pemerintah, persoalan klasik yang kerap keluhkan peternak dan pedagang tidak akan terjadi lagi. "Regulasi dalam berbagai hal yang saat ini diperlukan semua pihak yang terlibat dalam peternakan ayam," kata Sekjen Gabungan Organisasi Pengusaha Ayam Nasional Herry Dermawan, Jumat (17/8/2012).
Menurut Herry, regulasi yang dibutuhkan tidak hanya regulasi harga saja, tapi untuk semua element. Mulai dari DOC, pakan, distribusi dan semua hal. "Kondisi itu sudah lama di nantikan ribuan peternak, pedagang dan semua pihak yang terlibat dalam dunia ayam. Dengan regulasi, pertumbuhan ayam di Jabar akan semakin kuat," tegas Herry.
Herry menyebutkan, saat ini baik buruknya peternakan unggas sangat bergantung dengan Jabar. Karena, hampir 50 persen peternakan unggas Indonesia dikuasai oleh Jabar. "Sehingga jika Pemprov Jabar menjadi pelopor regulasi ternak unggas, maka akan jadi acuan nasional," tandas Herry.
Herry mengungkapkan, regulasi yang akan dilakukan tidak ada kata terlambat. Pasalnya, konsumsi daging Indonesia saat ini baru mencapai 6,6 kilogram per kapita pertahun. Sedangkan, negara tetangga Malaysia misalnya sudah mencapai 25 kilogram per kapita per tahun. "Artinya peluang usaha ayam masih terbuka lebar," beber Herry.
Dengan adanya regulasi, berbgaia persoalan yang dihadapi peternak juga bisa teratasi. Misalnya soal keinginan ada penyajian daging broiler untuk antisipasi turunya konsumsi sehingga tidak jadi ancaman bagi peternak. "Untuk mewujudkan daging broiler permasalahanya masih klasik, peternak belum bisa menjamin kondisi daging. Akibat barang yang mudah rusak," jelas Herry.
Adapun, persoalan klasik lasinya harga yang naik turun, cuaca (seperti kemarau saat ini 30 persen peternak tutup tidak dapat air), dan terakhir soal moderenisasi teknologi peternak. "Persoalan pakan yang masih bergantung import jagung dan kedelai juga masih jadi hambatan. Harga pakan murah sebetulnya bisa saja ada, namun kualitas juga sesuai harga murah," tambah Herry.
Sebelumnya, saat berkunjung ke Ciamis Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menegaskan, Jabar akan segera membuat regulasi untuk mengatur ternak unggas di Jabar. "Selama ini swasembada daging masih di fokuskan untuk sapi. Ternyata Jabar punya potensi yang lebih bagus. Jabar tidak bisa dipaksakan untuk pelihara sapi. Kami akan mengambil sikap untuk swasembada daging, dengan menyodorkan daging unggas yaitu ayam," kata Heryawan.
Dengan potensi kebutuhan ayam nasional 50 persen diantaranya masih dipasok Jabar ini menjadi potensi yang luar biasa. "Kelebihan lain selain pemasok, 50 persen konsumsi ayam juga masih di kuasai Jabar. Sehingga kondisi ini lebih menjamin perunggasan. Regulasi lain juga perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan pakan, salah satunya swasembada jagung harus dilakukan Jabar," pungkas Heryawan.
Peluang peternakan khususnya ayam di Jawa Barat masih terbuka lebar. Dengan adanya regulasi dari pemerintah, persoalan klasik yang kerap keluhkan peternak dan pedagang tidak akan terjadi lagi. "Regulasi dalam berbagai hal yang saat ini diperlukan semua pihak yang terlibat dalam peternakan ayam," kata Sekjen Gabungan Organisasi Pengusaha Ayam Nasional Herry Dermawan, Jumat (17/8/2012).
Menurut Herry, regulasi yang dibutuhkan tidak hanya regulasi harga saja, tapi untuk semua element. Mulai dari DOC, pakan, distribusi dan semua hal. "Kondisi itu sudah lama di nantikan ribuan peternak, pedagang dan semua pihak yang terlibat dalam dunia ayam. Dengan regulasi, pertumbuhan ayam di Jabar akan semakin kuat," tegas Herry.
Herry menyebutkan, saat ini baik buruknya peternakan unggas sangat bergantung dengan Jabar. Karena, hampir 50 persen peternakan unggas Indonesia dikuasai oleh Jabar. "Sehingga jika Pemprov Jabar menjadi pelopor regulasi ternak unggas, maka akan jadi acuan nasional," tandas Herry.
Herry mengungkapkan, regulasi yang akan dilakukan tidak ada kata terlambat. Pasalnya, konsumsi daging Indonesia saat ini baru mencapai 6,6 kilogram per kapita pertahun. Sedangkan, negara tetangga Malaysia misalnya sudah mencapai 25 kilogram per kapita per tahun. "Artinya peluang usaha ayam masih terbuka lebar," beber Herry.
Dengan adanya regulasi, berbgaia persoalan yang dihadapi peternak juga bisa teratasi. Misalnya soal keinginan ada penyajian daging broiler untuk antisipasi turunya konsumsi sehingga tidak jadi ancaman bagi peternak. "Untuk mewujudkan daging broiler permasalahanya masih klasik, peternak belum bisa menjamin kondisi daging. Akibat barang yang mudah rusak," jelas Herry.
Adapun, persoalan klasik lasinya harga yang naik turun, cuaca (seperti kemarau saat ini 30 persen peternak tutup tidak dapat air), dan terakhir soal moderenisasi teknologi peternak. "Persoalan pakan yang masih bergantung import jagung dan kedelai juga masih jadi hambatan. Harga pakan murah sebetulnya bisa saja ada, namun kualitas juga sesuai harga murah," tambah Herry.
Sebelumnya, saat berkunjung ke Ciamis Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menegaskan, Jabar akan segera membuat regulasi untuk mengatur ternak unggas di Jabar. "Selama ini swasembada daging masih di fokuskan untuk sapi. Ternyata Jabar punya potensi yang lebih bagus. Jabar tidak bisa dipaksakan untuk pelihara sapi. Kami akan mengambil sikap untuk swasembada daging, dengan menyodorkan daging unggas yaitu ayam," kata Heryawan.
Dengan potensi kebutuhan ayam nasional 50 persen diantaranya masih dipasok Jabar ini menjadi potensi yang luar biasa. "Kelebihan lain selain pemasok, 50 persen konsumsi ayam juga masih di kuasai Jabar. Sehingga kondisi ini lebih menjamin perunggasan. Regulasi lain juga perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan pakan, salah satunya swasembada jagung harus dilakukan Jabar," pungkas Heryawan.
(and)
Lihat Juga :