Krisis justru bawa efek positif
Rabu, 22 Agustus 2012 - 12:14 WIB
Krisis justru bawa efek positif
A
A
A
Sindonews.com - Krisis ekonomi yang melanda sejumlah kawasan di dunia saat ini diyakini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia.
Indonesia tidak akan terlalu terpengaruh oleh kondisi krisis global.Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, dampak positif bagi Indonesia dari krisis global adalah adanya aliran modal asing (capital inflow) yang masuk.Apalagi jika aliran modal tersebut ditanamkan ke sektor infrastruktur atau sektor riil dan portofolio jangka panjang lainnya. Menurut dia, capital inflow yang ditanamkan untuk sektor infrastruktur juga dapat mengurangi defisit neraca pembayaran.
Seperti diketahui, neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II/2012 mencatat defisit sebesar USD2,8 miliar. Sedangkan, transaksi berjalan mengalami defisit sebesar USD6,9 miliar atau mencapai 3,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Aviliani mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 7 persen bahkan lebih jika proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) berjalan.
Dia menegaskan, jika pemerintah ingin mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen seperti target RAPBN 2013,maka harus memperhatikan investasi dan penyerapan anggaran, selain menggenjot realisasi MP3EI. ”Dari (sumbangan) konsumsi saja pertumbuhan ekonomi kita bisa enam persen,jadikalaupemerintah bisa menggerakkan MP3EI dengan Rp1.000 triliun, maka pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 7,2 persen,” ujar Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini di sela-sela acara open house di kediaman Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Aviliani, Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Namun, dia mengingatkan agar pemerintah meyakinkan investor dengan memberikan kepastian hukum. Apalagi pada 2013 mendatang yang merupakan momen menjelang pemilu akan membuat para investor berhati- hati dalam menanamkan modalnya di Indonesia. ”Kalau mau pemilu orang takut berinvestasi, karena itu harus ada upaya pemerintah untuk memberikan jaminan. MP3EI saja,tidak usah banyakbanyak,” katanya.
Aviliani juga memperkirakan pertumbuhan konsumsi domestik pada 2013 tetap tinggi dan menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.Konsumsi domestik diperkirakan meningkat dipicu momen menjelang Pemilu 2014. Dia menambahkan, jika aliran modal asing tidak lancar, pertumbuhan ekonomi masih akan bergantung pada konsumsi domestik dan diperkirakan tumbuh 6,2–6,5 persen. Sementara, dalam kesempatan yang sama Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, dengan penetapan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen pada RAPBN 2013,pemerintah ingin menekankan pada pertumbuhan yang berkelanjutan.
”Jadi, kelihatan bahwa peningkatan yang cukup tinggi di pembiayaan infrastruktur dan di belanja modal,”tutur Agus Marto. Dia mengatakan, belanja modal di sektor infrastruktur tersebut masih bisa bertambah jika DPR menyetujui penyesuaian tarif listrik secara triwulanan tahun depan.
Jika kenaikan tarif listrik disetujui oleh DPR, pemerintah dapat mengalihkan anggaran subsidi listrik ke sektor infrastruktur menjadi Rp200 triliun. Seperti diketahui, hingga Juli 2012 dari 55 rencana proyek MP3EI sebanyak 36 proyek sudah ground breaking (peletakan batu pertama).Berarti realisasi proyek sudah 65 persen dengan nilai mencapai Rp139,9 triliun.
Bila dilihat dari letaknya, sebanyak 14 proyek terletak di koridor Pulau Jawa, dan di koridor Sumatera serta Kalimantan masingmasing sembilan proyek. Sisanya, di koridor Sulawesi (satu proyek), Bali-Nusa Tenggara (dua proyek), dan Papua-Kepulauan Maluku (satu proyek). Dari 36 proyek, sebanyak sembilan proyek di sektor riil dengan nilai Rp88,5 triliun dan 27 proyek infrastruktur dengan nilai Rp51,4 triliun. Pada 2011 lalu proyek peletakan batu pertama yang sebelumnya dipublikasikan adalah 94 proyek.
Nilai investasinya mencapai Rp490,5 triliun. Namun,setelah dilakukan validasi, jumlah proyek pun berubah menjadi 114 proyek dengan nilai investasi Rp420 triliun. Dari 114 rencana proyek, sebanyak 99 proyek senilai Rp 356,4 triliun sudah menjalani peletakan batu pertama. Rinciannya, 49 proyek sektor riil dengan nilai Rp194 triliun dan 50 proyek infrastruktur Rp162 triliun.
Sedangkan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mendesak pemerintah untuk segera mengalokasikan anggaran infrastruktur sebesar lima persen dari total APBN 2013. Tujuannya agar target pertumbuhan ekonomi 2013 sebesar 6,8-7,2 persen dapat tercapai.
“Infrastruktur merupakan syarat utama peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Bendahara Umum BPP Hipmi Bayu Priawan Djokosoetono dalam siaran persnya,kemarin. Dengan alokasi infrastruktur sekitar lima persen dari total APBN 2013,kata dia,maka anggarannya mencapai Rp82,9 triliun. Angka ini lebih tinggi dari anggaran infrastruktur dalam APBN 2012 yang hanya Rp36,7 triliun.
Indonesia tidak akan terlalu terpengaruh oleh kondisi krisis global.Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, dampak positif bagi Indonesia dari krisis global adalah adanya aliran modal asing (capital inflow) yang masuk.Apalagi jika aliran modal tersebut ditanamkan ke sektor infrastruktur atau sektor riil dan portofolio jangka panjang lainnya. Menurut dia, capital inflow yang ditanamkan untuk sektor infrastruktur juga dapat mengurangi defisit neraca pembayaran.
Seperti diketahui, neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II/2012 mencatat defisit sebesar USD2,8 miliar. Sedangkan, transaksi berjalan mengalami defisit sebesar USD6,9 miliar atau mencapai 3,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Aviliani mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 7 persen bahkan lebih jika proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) berjalan.
Dia menegaskan, jika pemerintah ingin mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen seperti target RAPBN 2013,maka harus memperhatikan investasi dan penyerapan anggaran, selain menggenjot realisasi MP3EI. ”Dari (sumbangan) konsumsi saja pertumbuhan ekonomi kita bisa enam persen,jadikalaupemerintah bisa menggerakkan MP3EI dengan Rp1.000 triliun, maka pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 7,2 persen,” ujar Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini di sela-sela acara open house di kediaman Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Aviliani, Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Namun, dia mengingatkan agar pemerintah meyakinkan investor dengan memberikan kepastian hukum. Apalagi pada 2013 mendatang yang merupakan momen menjelang pemilu akan membuat para investor berhati- hati dalam menanamkan modalnya di Indonesia. ”Kalau mau pemilu orang takut berinvestasi, karena itu harus ada upaya pemerintah untuk memberikan jaminan. MP3EI saja,tidak usah banyakbanyak,” katanya.
Aviliani juga memperkirakan pertumbuhan konsumsi domestik pada 2013 tetap tinggi dan menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.Konsumsi domestik diperkirakan meningkat dipicu momen menjelang Pemilu 2014. Dia menambahkan, jika aliran modal asing tidak lancar, pertumbuhan ekonomi masih akan bergantung pada konsumsi domestik dan diperkirakan tumbuh 6,2–6,5 persen. Sementara, dalam kesempatan yang sama Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan, dengan penetapan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen pada RAPBN 2013,pemerintah ingin menekankan pada pertumbuhan yang berkelanjutan.
”Jadi, kelihatan bahwa peningkatan yang cukup tinggi di pembiayaan infrastruktur dan di belanja modal,”tutur Agus Marto. Dia mengatakan, belanja modal di sektor infrastruktur tersebut masih bisa bertambah jika DPR menyetujui penyesuaian tarif listrik secara triwulanan tahun depan.
Jika kenaikan tarif listrik disetujui oleh DPR, pemerintah dapat mengalihkan anggaran subsidi listrik ke sektor infrastruktur menjadi Rp200 triliun. Seperti diketahui, hingga Juli 2012 dari 55 rencana proyek MP3EI sebanyak 36 proyek sudah ground breaking (peletakan batu pertama).Berarti realisasi proyek sudah 65 persen dengan nilai mencapai Rp139,9 triliun.
Bila dilihat dari letaknya, sebanyak 14 proyek terletak di koridor Pulau Jawa, dan di koridor Sumatera serta Kalimantan masingmasing sembilan proyek. Sisanya, di koridor Sulawesi (satu proyek), Bali-Nusa Tenggara (dua proyek), dan Papua-Kepulauan Maluku (satu proyek). Dari 36 proyek, sebanyak sembilan proyek di sektor riil dengan nilai Rp88,5 triliun dan 27 proyek infrastruktur dengan nilai Rp51,4 triliun. Pada 2011 lalu proyek peletakan batu pertama yang sebelumnya dipublikasikan adalah 94 proyek.
Nilai investasinya mencapai Rp490,5 triliun. Namun,setelah dilakukan validasi, jumlah proyek pun berubah menjadi 114 proyek dengan nilai investasi Rp420 triliun. Dari 114 rencana proyek, sebanyak 99 proyek senilai Rp 356,4 triliun sudah menjalani peletakan batu pertama. Rinciannya, 49 proyek sektor riil dengan nilai Rp194 triliun dan 50 proyek infrastruktur Rp162 triliun.
Sedangkan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mendesak pemerintah untuk segera mengalokasikan anggaran infrastruktur sebesar lima persen dari total APBN 2013. Tujuannya agar target pertumbuhan ekonomi 2013 sebesar 6,8-7,2 persen dapat tercapai.
“Infrastruktur merupakan syarat utama peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Bendahara Umum BPP Hipmi Bayu Priawan Djokosoetono dalam siaran persnya,kemarin. Dengan alokasi infrastruktur sekitar lima persen dari total APBN 2013,kata dia,maka anggarannya mencapai Rp82,9 triliun. Angka ini lebih tinggi dari anggaran infrastruktur dalam APBN 2012 yang hanya Rp36,7 triliun.
(and)
Lihat Juga :