Pemerintah tak berani naikan BBM tahun depan
Sabtu, 25 Agustus 2012 - 11:25 WIB
Pemerintah tak berani naikan BBM tahun depan
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat perminyakan Pri Agung Rakhmanto menilai asumsi makro yang dirancang pemerintah, khususnya di sektor energi tidak akan membawa pemerintah mengeluarkan langkah terobosan. Apalagi berani menerbitkan kebijakan energi yang cukup signifikan, seperti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pada pembacaan nota keuangan yang dibacakan Presiden di depan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI beberapa waktu lalu, disebutkan harga minyak dipatok pada angka USD100 per barel dan lifting minyak 900 ribu barel per hari. Kuota BBM bersubsidi naik menjadi 46 juta kiloliter dari kuota tahun ini 40 juta kiloliter. Jumlah subsidi energi naik 35,72 persen dari Rp 202,4 triliun pada 2012 menjadi Rp 274,7 triliun pada tahun depan.
"Angka-angka asumsi makro itu menggambarkan bahwa di tahun depan secara umum tidak akan ada langkah terobosan atau kebijakan energi yang signifikan, misalkan kenaikan harga BBM," kata Pri agung kepada wartawan di Jakarta.
Selain itu, menurutnya pemerintah juga tidak cukup percaya diri dengan langkah-langkah yang sudah dilakukannya sejauh ini. Karena juga tergambar dari paparan asumsi makro yang nantinya akan dibahas bersama DPR RI. "Selama ini seperti BBG & membatasi penggunaan BBM subsidi untuk kendaraan dinas juga tidak memberikan dampak signifikan," tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik sempat mengatakan belum ada proyeksi untuk menaikan harga BBM bersubsidi di tahun mendatang. Menurutnya pemerintah akan memperhitungkan secara matang, walaupun dinilai subsidi energi sudah tidak tepat sasaran. "Untuk kenaikan BBM memang belum dipikirkan," pungkasnya.
Pada pembacaan nota keuangan yang dibacakan Presiden di depan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI beberapa waktu lalu, disebutkan harga minyak dipatok pada angka USD100 per barel dan lifting minyak 900 ribu barel per hari. Kuota BBM bersubsidi naik menjadi 46 juta kiloliter dari kuota tahun ini 40 juta kiloliter. Jumlah subsidi energi naik 35,72 persen dari Rp 202,4 triliun pada 2012 menjadi Rp 274,7 triliun pada tahun depan.
"Angka-angka asumsi makro itu menggambarkan bahwa di tahun depan secara umum tidak akan ada langkah terobosan atau kebijakan energi yang signifikan, misalkan kenaikan harga BBM," kata Pri agung kepada wartawan di Jakarta.
Selain itu, menurutnya pemerintah juga tidak cukup percaya diri dengan langkah-langkah yang sudah dilakukannya sejauh ini. Karena juga tergambar dari paparan asumsi makro yang nantinya akan dibahas bersama DPR RI. "Selama ini seperti BBG & membatasi penggunaan BBM subsidi untuk kendaraan dinas juga tidak memberikan dampak signifikan," tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik sempat mengatakan belum ada proyeksi untuk menaikan harga BBM bersubsidi di tahun mendatang. Menurutnya pemerintah akan memperhitungkan secara matang, walaupun dinilai subsidi energi sudah tidak tepat sasaran. "Untuk kenaikan BBM memang belum dipikirkan," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :