Asmindo fokus pasar lokal
Senin, 27 Agustus 2012 - 15:23 WIB
Asmindo fokus pasar lokal
A
A
A
Sindonews.com - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) membidik pasar lokal untuk menguatkan segmentasi pasarnya. Menyusul kondisi krisis ekonomi di Amerika dan Eropa yang tidak kunjung membaik.
Keberadaan gerai Asmindo yang diprakarsai Asmindo Yogyakarta, mampu mendatangkan pasar potensial.
Ketua DPP Asmindo Ambar Tjahjono mengatakan, kondisi pasar mebel dan kerajinan secara nasional belum pulih. Selama ini pasar paling potensial mereka terletak pada negara-negara di Amerika dan Eropa. Praktis krisis ekonomi yang melanda negara tersebut, berdampak panjang bagi eksportir mebel dan kerajinan.
Kondisi ini berdampak terhadap menurunnya nilai ekspor. Padahal tahun lalu ekspor mencapai USD2,8 miliar. Dimana produk furniture mampu menyumbang hingga USD8 miliar. Beberapa buyer masih enggan menerima kiriman. “Kita akan garap pasar lokal, untuk memperkuat pasar,” jelas Ambar.
Ambar juga menyayangkan lambannya pemerintah dalam melakukan diversifikasi pasar. Kondisi krisis yang ada, tidak membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dalam membantu eksportir. Justru pameran produk tetap dilaksanakan di Spanyol dan Jerman. Padahal jelas kedua negara ini juga banyak terkena imbas dari krisis.
Kondisi ini membuat pemborosan anggaran dengan hasil yang tidak sesuai dengan harapan. “Kita akan usulkan ke pusat agar mempercepat penetrasi pasar baru,” harapnya.
Beberapa negara sasaran yang bisa digarap adalah pasar Asia dan ASEAN. China merupakan salah satu negara yang siap bersaing dengan perajin lokal. Bahkan mereka telah menyiapkan investasi untuk menggarap pasar Indonesia. Namun dari sisi kualitas barang, produk dalam negeri jauh lebih bagus.
Ketua Asmindo Komda DIY, Yuli Sugianto menambahkan, Asmindo Yogyakarta sukses melaukan penetrasi pasar dalam negeri. Salah satu strategi yang dikembangkan adalah membuka gerai Asmindo. Kebetulan di DIY, dibuka di Jalan Parangtritis, yang menjadi showroom dan pameran.
Selama Lebaran kemarin, gerai ini juga menggelar “Jogja Lebaran Fair” dengan kunjungan pembeli cukup membanggakan. Setidaknya transaksi yang terjadi telah mencapai di atas Rp100 juta.
“Karena pengunjung masih banyak, gerai ini kita perpanjang hingga akhir bulan nanti,” jelasnya.
Meskikpun event ditutup, imbuhnya, gerai ini tetap buka setiap hari. Masyarakat tetap bisa menyaksikan aneka produk kerajinan dan mebel yang bervariasi. Bahkan banyak pembeli yang berasal dari dalam kota, luar kota seperti Jakarta, Bali hingga luar negeri.
“Gerai seperti ini akan ditiru di komda-komda yang lain, untuk memperkuat pasar lokal,” tegasnya.
Sekretaris Asmindo DIY, Endro Wardoyo menambahan, kebanyakan produk yang diminati merupakan produk furniture. Banyak pemudik yang membeli barang untuk ditaruh di kampung ataupun dibawa ke tempat tinggal di kota. Namun ada pula tawaran dari beberapa hotel dan resto yang siap bekerjasama dalam pemasaran produk, ataupun untuk kebutuhan internal.
“Kebanyakan produk furniture yang terjual, hanya sekitar 20 persen yang kerajinan,” tuturnya.
Keberadaan gerai Asmindo yang diprakarsai Asmindo Yogyakarta, mampu mendatangkan pasar potensial.
Ketua DPP Asmindo Ambar Tjahjono mengatakan, kondisi pasar mebel dan kerajinan secara nasional belum pulih. Selama ini pasar paling potensial mereka terletak pada negara-negara di Amerika dan Eropa. Praktis krisis ekonomi yang melanda negara tersebut, berdampak panjang bagi eksportir mebel dan kerajinan.
Kondisi ini berdampak terhadap menurunnya nilai ekspor. Padahal tahun lalu ekspor mencapai USD2,8 miliar. Dimana produk furniture mampu menyumbang hingga USD8 miliar. Beberapa buyer masih enggan menerima kiriman. “Kita akan garap pasar lokal, untuk memperkuat pasar,” jelas Ambar.
Ambar juga menyayangkan lambannya pemerintah dalam melakukan diversifikasi pasar. Kondisi krisis yang ada, tidak membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dalam membantu eksportir. Justru pameran produk tetap dilaksanakan di Spanyol dan Jerman. Padahal jelas kedua negara ini juga banyak terkena imbas dari krisis.
Kondisi ini membuat pemborosan anggaran dengan hasil yang tidak sesuai dengan harapan. “Kita akan usulkan ke pusat agar mempercepat penetrasi pasar baru,” harapnya.
Beberapa negara sasaran yang bisa digarap adalah pasar Asia dan ASEAN. China merupakan salah satu negara yang siap bersaing dengan perajin lokal. Bahkan mereka telah menyiapkan investasi untuk menggarap pasar Indonesia. Namun dari sisi kualitas barang, produk dalam negeri jauh lebih bagus.
Ketua Asmindo Komda DIY, Yuli Sugianto menambahkan, Asmindo Yogyakarta sukses melaukan penetrasi pasar dalam negeri. Salah satu strategi yang dikembangkan adalah membuka gerai Asmindo. Kebetulan di DIY, dibuka di Jalan Parangtritis, yang menjadi showroom dan pameran.
Selama Lebaran kemarin, gerai ini juga menggelar “Jogja Lebaran Fair” dengan kunjungan pembeli cukup membanggakan. Setidaknya transaksi yang terjadi telah mencapai di atas Rp100 juta.
“Karena pengunjung masih banyak, gerai ini kita perpanjang hingga akhir bulan nanti,” jelasnya.
Meskikpun event ditutup, imbuhnya, gerai ini tetap buka setiap hari. Masyarakat tetap bisa menyaksikan aneka produk kerajinan dan mebel yang bervariasi. Bahkan banyak pembeli yang berasal dari dalam kota, luar kota seperti Jakarta, Bali hingga luar negeri.
“Gerai seperti ini akan ditiru di komda-komda yang lain, untuk memperkuat pasar lokal,” tegasnya.
Sekretaris Asmindo DIY, Endro Wardoyo menambahan, kebanyakan produk yang diminati merupakan produk furniture. Banyak pemudik yang membeli barang untuk ditaruh di kampung ataupun dibawa ke tempat tinggal di kota. Namun ada pula tawaran dari beberapa hotel dan resto yang siap bekerjasama dalam pemasaran produk, ataupun untuk kebutuhan internal.
“Kebanyakan produk furniture yang terjual, hanya sekitar 20 persen yang kerajinan,” tuturnya.
(gpr)
Lihat Juga :