BUMI: Everything alright
Jum'at, 31 Agustus 2012 - 11:18 WIB
BUMI: Everything alright
A
A
A
Sindonews.com - Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan informasi yang menyatakan bahwa BUMI di ambang kebangkrutan hanya rumor, karena pencatatan kerugian yang dilakukan hanyalah potensi kerugian dan secara finansial tidak mengganggu keuangan perusahaan.
”Everything alright. Kabar potensi kebangkrutan tersebut hanyalah rumor semata yang tidak berdasar,” ujar Direktur BUMI, Dileep Srivastava, saat dikonfirmasi melalui telepon selular, Kamis (30/8/2012) malam.
Dileep optimistis perseroan bisa mencapai kinerja sesuai target. ”Produksi BUMI on track untuk mencapai 100 juta ton di 2014. Pembayaran utang juga tidak ada yang default,” paparnya.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengakui, penurunan harga saham BUMI lebih dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor eksternal.
Dengan kondisi seperti itu, Ito menganggap penurunan harga saham yang masih dalam batas wajar dan bukan suatu hal yang tidak biasa. Bila memang terjadi penurunan harga yang sangat signifikan, BEI memiliki fitur penghentian perdagangan otomatis (autorejection) dalam sistem perdagangan.
Sebelumnya, Analis Saham PT Panin Sekuritas Tbk, Fajar Indra mengungkapkan, Performa Keuangan Bumi Resources Tbk (BUMI) semester 1 tahun 2012 sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah.
BUMI mencatatkan kerugian sebesar USD322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar USD232 juta pada semester I-2011. "Performa Keuangan S1-12 sangat buruk, solvabilitas sangat lemah. BUMI mencatatkan kerugian sebesar USD322 juta pada S1-12 setelah mencatatkan keuntungan sebesar USD232 juta pada S1-11," ujar Fajar dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Rabu, 29 Agustus 2012.
Ada beberapa faktor yang disinyalir menyebabkan jatuhnya performa BUMI pada semester I-2012. Faktor pertama adalah tergerusnya marjin laba BUMI diakibatkan melonjaknya biaya produksi per ton sebesar 9,2 persen yang tidak diimbangi oleh naiknya harga jual. Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batu bara di Indonesia karena memburuknya harga batu bara dunia.
Faktor kedua adalah tingginya beban keuangan yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar utang-utangnya. "Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batubara di Indonesia karena memburuknya harga batubara dunia," terang Fajar.
”Everything alright. Kabar potensi kebangkrutan tersebut hanyalah rumor semata yang tidak berdasar,” ujar Direktur BUMI, Dileep Srivastava, saat dikonfirmasi melalui telepon selular, Kamis (30/8/2012) malam.
Dileep optimistis perseroan bisa mencapai kinerja sesuai target. ”Produksi BUMI on track untuk mencapai 100 juta ton di 2014. Pembayaran utang juga tidak ada yang default,” paparnya.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengakui, penurunan harga saham BUMI lebih dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor eksternal.
Dengan kondisi seperti itu, Ito menganggap penurunan harga saham yang masih dalam batas wajar dan bukan suatu hal yang tidak biasa. Bila memang terjadi penurunan harga yang sangat signifikan, BEI memiliki fitur penghentian perdagangan otomatis (autorejection) dalam sistem perdagangan.
Sebelumnya, Analis Saham PT Panin Sekuritas Tbk, Fajar Indra mengungkapkan, Performa Keuangan Bumi Resources Tbk (BUMI) semester 1 tahun 2012 sangat buruk dan solvabilitas sangat lemah.
BUMI mencatatkan kerugian sebesar USD322 juta pada semester I-2012 setelah mencatatkan keuntungan sebesar USD232 juta pada semester I-2011. "Performa Keuangan S1-12 sangat buruk, solvabilitas sangat lemah. BUMI mencatatkan kerugian sebesar USD322 juta pada S1-12 setelah mencatatkan keuntungan sebesar USD232 juta pada S1-11," ujar Fajar dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Rabu, 29 Agustus 2012.
Ada beberapa faktor yang disinyalir menyebabkan jatuhnya performa BUMI pada semester I-2012. Faktor pertama adalah tergerusnya marjin laba BUMI diakibatkan melonjaknya biaya produksi per ton sebesar 9,2 persen yang tidak diimbangi oleh naiknya harga jual. Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batu bara di Indonesia karena memburuknya harga batu bara dunia.
Faktor kedua adalah tingginya beban keuangan yang harus dibayar serta kerugian atas transaksi derivatif. Laporan keuangan BUMI mencatat bahkan jumlah beban keuangan yang harus dibayar lebih tinggi dari laba usahanya sendiri. Hal ini tentunya memperlihatkan betapa buruknya solvabilitas BUMI dalam membayar utang-utangnya. "Hal ini terjadi hampir di seluruh perusahaan batubara di Indonesia karena memburuknya harga batubara dunia," terang Fajar.
(gpr)
Lihat Juga :