Kenaikan TDL ancam industri DIY
Rabu, 05 September 2012 - 08:30 WIB
Kenaikan TDL ancam industri DIY
A
A
A
Sindonews.com - Rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) pada 2013 mendatang mengancam eksistensi industri yang ada di DIY. Mayoritas industri yang ada merupakan industri kecil dan mikro. Jika TDL naik, sangat mungkin akan membuat mereka bangkrut dan memunculkan permasalahan kemiskinan dan pengangguran.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Nur Ahmad Affandi, mengatakan sebagain besar industri yang ada di DIY ini merupakan industri kecil dan mikro. Mereka ini bergerak dalam berbagai bidang usaha, dan mampu menyerap tenaga kerja. Kenaikan TDL dan gas, dipastikan akan memicu timbulnya masalah baru. Mulai dari membengkaknya ongkos produksi, efisiensi biaya hingga ancaman pengurangan tenaga kerja.
“Kenaikan TDL ini bisa menimbulkan multiflyer effect yang cukup luas,” jelas Nur Ahmad Affandi disela halal bi halal di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta, kemarin.
Kadin, imbuhnya, berharap pemerintah melakukan survey dan penilaian terhadap kondisi yang ada di lapangan. Jika ini benar-benar terlaksana, akan banyak industri yang ada akan mati. Buntutnya, akan menimbulkan permasalahan ketenagakerjaan. Mulai dari tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup hingga pengangguran yang meningkat.
“Ini harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai kenaikan TDL dan gas membebani pengusaha kecil,” tuturnya.
Menurutnya, persaingan pasar dunia yang kian ketat sudah banyak membebani para pengrajin. Apalagi barang impor sangat mudah masuk ke pasar dalam negeri. Hal ini mestinya diperketat dengan kebijakan pembatasan. Setidaknya barang-barang yang digarap industri kecil harus dilindungi, agar tidak mudah barang impor membanjiri pasar. Apalagi hampir 90% industri yang ada merupakan skala mikro dan kecil.
Disisi lain perlu adanya pendampingan dana dari pemerintah untuk menciptakan industrialisasi yang tangguh. Salah satunya dengan mendukung program pasar lokal seperti yang dilakukan oleh Asmindo. Mereka ini perlu difasilitasi pameran di dalam negeri, tanpa harus ke luar negeri. Selain krisis di Amerika dan eropa yang belum pulih, pasar dalam negeri ternyata cukup potensial.
“Pasar lokal ini harus digairahkan kembali dengan pembatasan produk import,” tutur mantan anggota DPRD DIY ini.
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Lilik Syaiful Ahmad mengatakan hal serupa. Kenaikan ini pasti akan membuat dampak yang panjang. Untuk itulah pemerintah harus selektif dan bijak dalam memutuskan kebijakan. “Jelas ini akan berdampak cukup panjang,” tuturnya.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Nur Ahmad Affandi, mengatakan sebagain besar industri yang ada di DIY ini merupakan industri kecil dan mikro. Mereka ini bergerak dalam berbagai bidang usaha, dan mampu menyerap tenaga kerja. Kenaikan TDL dan gas, dipastikan akan memicu timbulnya masalah baru. Mulai dari membengkaknya ongkos produksi, efisiensi biaya hingga ancaman pengurangan tenaga kerja.
“Kenaikan TDL ini bisa menimbulkan multiflyer effect yang cukup luas,” jelas Nur Ahmad Affandi disela halal bi halal di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta, kemarin.
Kadin, imbuhnya, berharap pemerintah melakukan survey dan penilaian terhadap kondisi yang ada di lapangan. Jika ini benar-benar terlaksana, akan banyak industri yang ada akan mati. Buntutnya, akan menimbulkan permasalahan ketenagakerjaan. Mulai dari tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup hingga pengangguran yang meningkat.
“Ini harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai kenaikan TDL dan gas membebani pengusaha kecil,” tuturnya.
Menurutnya, persaingan pasar dunia yang kian ketat sudah banyak membebani para pengrajin. Apalagi barang impor sangat mudah masuk ke pasar dalam negeri. Hal ini mestinya diperketat dengan kebijakan pembatasan. Setidaknya barang-barang yang digarap industri kecil harus dilindungi, agar tidak mudah barang impor membanjiri pasar. Apalagi hampir 90% industri yang ada merupakan skala mikro dan kecil.
Disisi lain perlu adanya pendampingan dana dari pemerintah untuk menciptakan industrialisasi yang tangguh. Salah satunya dengan mendukung program pasar lokal seperti yang dilakukan oleh Asmindo. Mereka ini perlu difasilitasi pameran di dalam negeri, tanpa harus ke luar negeri. Selain krisis di Amerika dan eropa yang belum pulih, pasar dalam negeri ternyata cukup potensial.
“Pasar lokal ini harus digairahkan kembali dengan pembatasan produk import,” tutur mantan anggota DPRD DIY ini.
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Lilik Syaiful Ahmad mengatakan hal serupa. Kenaikan ini pasti akan membuat dampak yang panjang. Untuk itulah pemerintah harus selektif dan bijak dalam memutuskan kebijakan. “Jelas ini akan berdampak cukup panjang,” tuturnya.
(gpr)
Lihat Juga :