Perbedaan harga BBM picu penyelundupan
Jum'at, 07 September 2012 - 16:10 WIB
Perbedaan harga BBM picu penyelundupan
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengatakan adanya perbedaan harga Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dengan nonsubsidi membuat beberapa kalangan menjadi kreatif seperti menyelundupkannya ke luar negeri.
"Penyebab utamanya adalah karena memang disparitas harga terlalalu jauh. Apa yang bisa kita tahan? Seperti penyelundupan yang sifatnya lintas negara," kata Rudi di kantornya, Jakarta, Jumat (7/9/2012).
Menurut Rudi, hal tersebut merupakan kreatifitas yang dapat merugikan negara dan masyarakat lain. "Itu semua kreatifitas-kreatitas yang secara moral tidak boleh tetapi terjadi di negeri ini," tambahnya.
Rudi menambahkan, bentuk kreatifitas lain adalah adanya penjualan BBM bersubsidi ke pihak yang tidak tepat sasaran. Adanya hal tersebut telah mengambil hak yang membutuhkan.
"Penjualan lintas kita. Artinya yang harusnya perkebunan pertambangan tidak beli subsidi tapi beli lewat pihak ketiga yang berhak. Yang mampu punya mobil mewah beli lewat pembantunya," ungkap Rudi.
Menurut rudi, untuk menghindari kreatifitas tersebut harus timbul dari kesadaran masing-masing individu karena dengan melakukan kreatiftas yang betuknya semacam itu menyebabkan banyak pihak yang dirugikan. "Harus kesadaran kalau pemaksaaan yakni pembatasan pakai volume atau voucher susah sebab negara kita terlalu kreatif," tutup Rudi.
"Penyebab utamanya adalah karena memang disparitas harga terlalalu jauh. Apa yang bisa kita tahan? Seperti penyelundupan yang sifatnya lintas negara," kata Rudi di kantornya, Jakarta, Jumat (7/9/2012).
Menurut Rudi, hal tersebut merupakan kreatifitas yang dapat merugikan negara dan masyarakat lain. "Itu semua kreatifitas-kreatitas yang secara moral tidak boleh tetapi terjadi di negeri ini," tambahnya.
Rudi menambahkan, bentuk kreatifitas lain adalah adanya penjualan BBM bersubsidi ke pihak yang tidak tepat sasaran. Adanya hal tersebut telah mengambil hak yang membutuhkan.
"Penjualan lintas kita. Artinya yang harusnya perkebunan pertambangan tidak beli subsidi tapi beli lewat pihak ketiga yang berhak. Yang mampu punya mobil mewah beli lewat pembantunya," ungkap Rudi.
Menurut rudi, untuk menghindari kreatifitas tersebut harus timbul dari kesadaran masing-masing individu karena dengan melakukan kreatiftas yang betuknya semacam itu menyebabkan banyak pihak yang dirugikan. "Harus kesadaran kalau pemaksaaan yakni pembatasan pakai volume atau voucher susah sebab negara kita terlalu kreatif," tutup Rudi.
(gpr)
Lihat Juga :