APEC dorong pertumbuhan
Senin, 10 September 2012 - 11:49 WIB
APEC dorong pertumbuhan
A
A
A
Sindonews.com - Negara-negara anggota forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) termasuk China, Amerika Serikat (AS) dan Rusia, sepakat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global dengan menekan proteksionisme.
Negara-negara anggota APEC yang mengakhiri pertemuan puncak selama dua hari, dari Sabtu-Minggu (8-9/9) di kota pelabuhan Vladivostok, Rusia, memfokuskan pembicaraannya pada pembahasan mengenai lemahnya perekonomian dunia, keamanan pangan global, serta aksi proteksionisme yang menghambat tanda-tanda pertumbuhan.
Perdana Menteri (PM) Selandia Baru John Key mengatakan, ke-21 anggota APEC sepakat untuk memangkas pajak impor terhadap teknologi ramah lingkungan serta mengambil langkah guna meningkatkan pertumbuhan dan liberalisasi perdagangan yang disebabkan oleh krisis utang zona euro.
”Ada pengertian umum bahwa ekonomi dunia saat ini sedikit lemah, namun muncul keyakinan bahwa kita dapat melewatinya,” ujarnya dalam pernyataan resmi seperti dikutip Reuters, Sabtu (8/9) waktu setempat.
Dia menambahkan, meski begitu muncul kekhawatiran di beberapa negara bahwa kebijakan untuk menindak proteksionisme akan mengalami kemunduran, sehingga menimbulkan risiko dan membuat orang-orang akan kembali kepada mentalitas pertahanan.
Jepang, Malaysia, Indonesia, Kanada dan Korea Selatan yang termasuk dalam APEC juga telah membuat keputusan dengan konsensus akan tetapi tidak mengikat. Seperti diketahui,APEC yang beranggotakan beberapa negara ekonomi yang paling dinamis dan kuat di dunia, menyumbang sebesar 40% dari populasi, 54% output ekonomi dan 44% dari perdagangan global.
Para pemimpin APEC juga telah sepakat untuk tidak membatasi ekspor makanan serta menggarisbawahi pentingnya pasar terbuka untuk menjamin pasokan makanan. Negara APEC juga telah menyetujui untuk mengurangi bea masuk sebesar 5% pada 2015 mendatang untuk 54 komoditas yang dinilai ramah lingkungan, termasuk peralatan untuk energi terbarukan, pengolahan limbah dan pemantauan lingkungan.
Selain itu 21 negara anggota APEC juga diprediksi akan mengkonfirmasi komitmen untuk meningkatkan efisiensi rantai pasokan industri sebesar 10% di tahun yang sama guna menyelesaikan masalah kemacetan transportasi dan merampingkan prosedur kepabeanan.
Saat ini Rusia dan AS menginginkan adanya kerja sama lebih lanjut dengan negara Asia, di mana pertumbuhan ekonominya relatif kuat yang pada gilirannya sangat penting untuk meningkatkan perekonomian kedua negara setelah krisis keuangan global pada 2008-2009 lalu.
Menanggapi hal itu Presiden Meksiko Felipe Calderon mengutarakan, sangat jelas bahwa Asia merupakan wilayah yang paling penting bagi pertumbuhan ekonomi global dekade ini. ”Kemungkinan dalam dekade berikutnya,Asia menjadi wilayah penting bagi pertumbuhan Pasifik,”katanya.
Ekonom Samuel Securities Lana Soelistianingsih mengingatkan pemerintah untuk tidak tergantung pada bahan pangan dari negara lain meskipun kesepakatan APEC 2013 melarang setiap negara melakukan pembatasan ekspor bahan makanan. Menurut Lana, meskipun ada kesepakatan tersebut, anggota APEC akan tetap membatasi ekspor bahan pangan mereka karena adanya peningkatan kebutuhan bahan pangan di masingmasing negara.
”Agak sulit merealisasikannya( pembatasan ekspor) karena peningkatan kebutuhan pangan yang melonjak akibat ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah penduduk dan produki pangan. Kebutuhan pangan juga lebih besar daripada produksi,”tutur Lana, saat dihubungi SINDO, kemarin.
Lana menambahkan dalam 3-4 tahun ke depan, Indonesia mungkin masih bisa menggantungkan bahan pangan dari luar tetapi dalam jangka panjang hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena setiap negara akan memerlukan kebutuhan pangan yang lebih besar terutama dengan adanya ancaman krisis pangan yang makin membesar. Lana juga mengingatkan bahwa kualitas hidup masyarakat Indonesia akan terus membaik sehingga permintaan akan bahan pangan yang berkualitas juga akan meningkat tajam.
”Buat Indonesia pembatasan ekspor akan menguntungkan tetapi itu jangan sampai membuat kita manja dan menggantungkan pangan kita ke negara lain apalagi penduduk Indonesia tumbuh sangat pesat. Jangan hanya karena ada kerja sama antarnegara kemudian kita abai terhadap produksi,” tuturnya.
Negara-negara anggota APEC yang mengakhiri pertemuan puncak selama dua hari, dari Sabtu-Minggu (8-9/9) di kota pelabuhan Vladivostok, Rusia, memfokuskan pembicaraannya pada pembahasan mengenai lemahnya perekonomian dunia, keamanan pangan global, serta aksi proteksionisme yang menghambat tanda-tanda pertumbuhan.
Perdana Menteri (PM) Selandia Baru John Key mengatakan, ke-21 anggota APEC sepakat untuk memangkas pajak impor terhadap teknologi ramah lingkungan serta mengambil langkah guna meningkatkan pertumbuhan dan liberalisasi perdagangan yang disebabkan oleh krisis utang zona euro.
”Ada pengertian umum bahwa ekonomi dunia saat ini sedikit lemah, namun muncul keyakinan bahwa kita dapat melewatinya,” ujarnya dalam pernyataan resmi seperti dikutip Reuters, Sabtu (8/9) waktu setempat.
Dia menambahkan, meski begitu muncul kekhawatiran di beberapa negara bahwa kebijakan untuk menindak proteksionisme akan mengalami kemunduran, sehingga menimbulkan risiko dan membuat orang-orang akan kembali kepada mentalitas pertahanan.
Jepang, Malaysia, Indonesia, Kanada dan Korea Selatan yang termasuk dalam APEC juga telah membuat keputusan dengan konsensus akan tetapi tidak mengikat. Seperti diketahui,APEC yang beranggotakan beberapa negara ekonomi yang paling dinamis dan kuat di dunia, menyumbang sebesar 40% dari populasi, 54% output ekonomi dan 44% dari perdagangan global.
Para pemimpin APEC juga telah sepakat untuk tidak membatasi ekspor makanan serta menggarisbawahi pentingnya pasar terbuka untuk menjamin pasokan makanan. Negara APEC juga telah menyetujui untuk mengurangi bea masuk sebesar 5% pada 2015 mendatang untuk 54 komoditas yang dinilai ramah lingkungan, termasuk peralatan untuk energi terbarukan, pengolahan limbah dan pemantauan lingkungan.
Selain itu 21 negara anggota APEC juga diprediksi akan mengkonfirmasi komitmen untuk meningkatkan efisiensi rantai pasokan industri sebesar 10% di tahun yang sama guna menyelesaikan masalah kemacetan transportasi dan merampingkan prosedur kepabeanan.
Saat ini Rusia dan AS menginginkan adanya kerja sama lebih lanjut dengan negara Asia, di mana pertumbuhan ekonominya relatif kuat yang pada gilirannya sangat penting untuk meningkatkan perekonomian kedua negara setelah krisis keuangan global pada 2008-2009 lalu.
Menanggapi hal itu Presiden Meksiko Felipe Calderon mengutarakan, sangat jelas bahwa Asia merupakan wilayah yang paling penting bagi pertumbuhan ekonomi global dekade ini. ”Kemungkinan dalam dekade berikutnya,Asia menjadi wilayah penting bagi pertumbuhan Pasifik,”katanya.
Ekonom Samuel Securities Lana Soelistianingsih mengingatkan pemerintah untuk tidak tergantung pada bahan pangan dari negara lain meskipun kesepakatan APEC 2013 melarang setiap negara melakukan pembatasan ekspor bahan makanan. Menurut Lana, meskipun ada kesepakatan tersebut, anggota APEC akan tetap membatasi ekspor bahan pangan mereka karena adanya peningkatan kebutuhan bahan pangan di masingmasing negara.
”Agak sulit merealisasikannya( pembatasan ekspor) karena peningkatan kebutuhan pangan yang melonjak akibat ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah penduduk dan produki pangan. Kebutuhan pangan juga lebih besar daripada produksi,”tutur Lana, saat dihubungi SINDO, kemarin.
Lana menambahkan dalam 3-4 tahun ke depan, Indonesia mungkin masih bisa menggantungkan bahan pangan dari luar tetapi dalam jangka panjang hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena setiap negara akan memerlukan kebutuhan pangan yang lebih besar terutama dengan adanya ancaman krisis pangan yang makin membesar. Lana juga mengingatkan bahwa kualitas hidup masyarakat Indonesia akan terus membaik sehingga permintaan akan bahan pangan yang berkualitas juga akan meningkat tajam.
”Buat Indonesia pembatasan ekspor akan menguntungkan tetapi itu jangan sampai membuat kita manja dan menggantungkan pangan kita ke negara lain apalagi penduduk Indonesia tumbuh sangat pesat. Jangan hanya karena ada kerja sama antarnegara kemudian kita abai terhadap produksi,” tuturnya.
(gpr)
Lihat Juga :