Soros sindir Jerman terkait krisis utang
Selasa, 11 September 2012 - 11:26 WIB
Soros sindir Jerman terkait krisis utang
A
A
A
Sindonews.com - Investor kawakan asal Amerika Serikat (AS) George Soros mendesak Jerman memimpin zona euro untuk keluar dari resesi dengan meningkatkan pertumbuhan.
Soros juga meminta Jerman dan negara zona euro lain segera menciptakan otoritas fiskal bersama dan menjamin obligasi umum. Dengan penuh sindiran, pendiri Quantum Fund ini juga menyatakan,jika Jerman tidak memimpin pertumbuhan, akan lebih baik jika negara itu meninggalkan euro untuk menyelamatkan masa depan Eropa.
“Memimpin atau meninggalkan euro merupakan keputusan yang sah bagi Jerman. Entah mengandalkan Eropa untuk nasib negara tersebut dengan mengambil risiko bersama- sama atau meninggalkan euro. Jika Jerman keluar dari Eropa, masalah zona euro akan menjadi lebih baik,” ujar Soros dalam wawancara dengan Financial Times seperti dikutip CNBC, Minggu (9/9) waktu setempat.
Pria berusia 82 tahun itu menambahkan,jika Berlin bersikeras terhadap kebijakan penghematan serta menginginkan kenaikan deflasi, akan lebih baik bagi Jerman jika keluar dari kawasan euro.
Meski begitu, keluarnya Jerman dari zona euro akan berdampak pada runtuhnya blok mata uang tunggal dan Uni Eropa secara keseluruhan. “Bagaimanapun saya menginginkan Jerman meninggalkan sikap deflasioner dan berperilaku sebagai hegemoni ‘berbaik hati’ terhadap mitramitranya dari pada meninggalkan euro,” imbuh dia.
Menurut pria yang juga menjabat Chairman of Soros Fund Management ini, keluarnya Jerman secara politis akan menjadi pukulan untuk Eropa. Pasalnya, semua orang yang pro-Eropa sangat terkejut dengan gagasan tersebut.
Maka, ujar dia, akan jauh lebih baik jika Berlin mengalami perubahan sikap dan tetap menjadi bagian zona euro. Lebih lanjut Soros juga menyambut baik langkah terbaru yang dibuat oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) untuk membeli obligasi zona euro.
Dia mengatakan, program tersebut merupakan langkah yang lebih kuat dari sebelumnya sehingga akan membuat pijakan lebih kuat dalam menemukan solusi meskipun hanya sementara. BBC melaporkan, Soros telah mendukung Otoritas Fiskal Eropa yang baru yang dibiayai oleh penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk mengawasi keuangan Pemerintah Benua Biru.
Di bagian lain, Presiden Prancis Francois Hollande berjanji menghidupkan kembali perekonomian negaranya dalam kurun waktu dua tahun. Menurutnya, saat ini pemerintahannya sedang berada di jalur perjuangan melawan krisis sehingga pantang bagi dirinya untuk melihat ke belakang.
“Saya juga menyiapkan waktu selama dua tahun untuk membuat kebijakan yang ditujukan guna meningkatkan pekerjaan dan daya saing,” paparnya.
Pernyataan Hollande tersebut disampaikan sebelum Bank Sentral Prancis menyatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II/2012 yang diramalkan terkontraksi 0,1 persen. Jika ramalan tersebut benar, maka hal itu akan menjadi resesi pertama bagi Prancis pascakrisis keuangan global 2009 lalu.
Hollande menambahkan, pemerintahannya mengetahui ke mana arah untuk menghidupkan kembali ekonomi dan akan mengambil semua tanggung jawab.
Untuk itu, tahun depan Prancis akan melakukan penghematan anggaran sebesar 30 miliar euro (USD38,40 miliar) serta menurunkan proyeksi pertumbuhan menjadi 0,8 persen dari sebelumnya 1,2 persen. “Pertumbuhan telah menyusut selama beberapa bulan, saya telah meminta pemerintah untuk mendasarkan prediksi pada perkiraan yang realistis, kemungkinan di bawah 1 persen menjadi 0,8 persen,” katanya.
Penghematan anggaran Prancis diperkirakan menjadi penghematan paling ketat dalam 30 tahun sebagaimana negara itu mencoba mengurangi defisit 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun depan. Jika tidak Paris berisiko kehilangan kepercayaan investor seperti negara-negara lain di Eropa yang terbebani defisit anggaran.
Soros juga meminta Jerman dan negara zona euro lain segera menciptakan otoritas fiskal bersama dan menjamin obligasi umum. Dengan penuh sindiran, pendiri Quantum Fund ini juga menyatakan,jika Jerman tidak memimpin pertumbuhan, akan lebih baik jika negara itu meninggalkan euro untuk menyelamatkan masa depan Eropa.
“Memimpin atau meninggalkan euro merupakan keputusan yang sah bagi Jerman. Entah mengandalkan Eropa untuk nasib negara tersebut dengan mengambil risiko bersama- sama atau meninggalkan euro. Jika Jerman keluar dari Eropa, masalah zona euro akan menjadi lebih baik,” ujar Soros dalam wawancara dengan Financial Times seperti dikutip CNBC, Minggu (9/9) waktu setempat.
Pria berusia 82 tahun itu menambahkan,jika Berlin bersikeras terhadap kebijakan penghematan serta menginginkan kenaikan deflasi, akan lebih baik bagi Jerman jika keluar dari kawasan euro.
Meski begitu, keluarnya Jerman dari zona euro akan berdampak pada runtuhnya blok mata uang tunggal dan Uni Eropa secara keseluruhan. “Bagaimanapun saya menginginkan Jerman meninggalkan sikap deflasioner dan berperilaku sebagai hegemoni ‘berbaik hati’ terhadap mitramitranya dari pada meninggalkan euro,” imbuh dia.
Menurut pria yang juga menjabat Chairman of Soros Fund Management ini, keluarnya Jerman secara politis akan menjadi pukulan untuk Eropa. Pasalnya, semua orang yang pro-Eropa sangat terkejut dengan gagasan tersebut.
Maka, ujar dia, akan jauh lebih baik jika Berlin mengalami perubahan sikap dan tetap menjadi bagian zona euro. Lebih lanjut Soros juga menyambut baik langkah terbaru yang dibuat oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) untuk membeli obligasi zona euro.
Dia mengatakan, program tersebut merupakan langkah yang lebih kuat dari sebelumnya sehingga akan membuat pijakan lebih kuat dalam menemukan solusi meskipun hanya sementara. BBC melaporkan, Soros telah mendukung Otoritas Fiskal Eropa yang baru yang dibiayai oleh penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk mengawasi keuangan Pemerintah Benua Biru.
Di bagian lain, Presiden Prancis Francois Hollande berjanji menghidupkan kembali perekonomian negaranya dalam kurun waktu dua tahun. Menurutnya, saat ini pemerintahannya sedang berada di jalur perjuangan melawan krisis sehingga pantang bagi dirinya untuk melihat ke belakang.
“Saya juga menyiapkan waktu selama dua tahun untuk membuat kebijakan yang ditujukan guna meningkatkan pekerjaan dan daya saing,” paparnya.
Pernyataan Hollande tersebut disampaikan sebelum Bank Sentral Prancis menyatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II/2012 yang diramalkan terkontraksi 0,1 persen. Jika ramalan tersebut benar, maka hal itu akan menjadi resesi pertama bagi Prancis pascakrisis keuangan global 2009 lalu.
Hollande menambahkan, pemerintahannya mengetahui ke mana arah untuk menghidupkan kembali ekonomi dan akan mengambil semua tanggung jawab.
Untuk itu, tahun depan Prancis akan melakukan penghematan anggaran sebesar 30 miliar euro (USD38,40 miliar) serta menurunkan proyeksi pertumbuhan menjadi 0,8 persen dari sebelumnya 1,2 persen. “Pertumbuhan telah menyusut selama beberapa bulan, saya telah meminta pemerintah untuk mendasarkan prediksi pada perkiraan yang realistis, kemungkinan di bawah 1 persen menjadi 0,8 persen,” katanya.
Penghematan anggaran Prancis diperkirakan menjadi penghematan paling ketat dalam 30 tahun sebagaimana negara itu mencoba mengurangi defisit 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) tahun depan. Jika tidak Paris berisiko kehilangan kepercayaan investor seperti negara-negara lain di Eropa yang terbebani defisit anggaran.
(gpr)
Lihat Juga :