Pasokan gas RI masih tergantung impor
Rabu, 12 September 2012 - 14:27 WIB
Pasokan gas RI masih tergantung impor
A
A
A
Sindonews.com - Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan energi gas selama ini masih tergantung pada impor yang jumlahnya mencapai 2,3 juta metrik Ton (MT) atau 50 persen dari total pasokan gas.
CEO Pertamina Karen Agustiawan mengungkapkan tahun ini impor gas sebesar 50 persen didatangkan dari sejumlah negara. Padahal kebutuhan akan gas terus mengalami peningkatkan pascapemberlakukan program konversi minyak tanah ke gas pada 2007.
"Kebutuhan gas kita 5,3 MT sebagian berasal dari dalam negeri atau 50 persennya diproduksi swasta," kata Karen disela World LP Gas Forum di Nusa Dua, Bali, Rabu (12/9/2012).
Melihat kondisi seperti itu, saat ini perlu kebangkitan dari industri gas dalam negeri untuk bisa lebih meningkatkan produksinya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam kaitan itu pula, Pertamina juga telah bekerjasama dengan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) lainnya yang memproduksi gas. Di pihak lain, Karen menyatakan, konversi minyak tanah ke gas juga merupakan indikasi keberhasilan dalam menekan subsidi.
Meskipun memang, harga gas selalu dikaitkan dengan harga minyak. Akan tetapi jika dilihat dengan potensi penurunan subsidi sangat potensial.
Tak kalah pentingnya lagi, kata dia, konversi tersebut juga sama saja mengamankan 43,6 juta pohon.
"Seperti ini tidak bisa dihitung dengan uang jadi bukan hanya penghematan namun cleaner energi seperti ini juga harus diperhitungkan," tegasnya.
CEO Pertamina Karen Agustiawan mengungkapkan tahun ini impor gas sebesar 50 persen didatangkan dari sejumlah negara. Padahal kebutuhan akan gas terus mengalami peningkatkan pascapemberlakukan program konversi minyak tanah ke gas pada 2007.
"Kebutuhan gas kita 5,3 MT sebagian berasal dari dalam negeri atau 50 persennya diproduksi swasta," kata Karen disela World LP Gas Forum di Nusa Dua, Bali, Rabu (12/9/2012).
Melihat kondisi seperti itu, saat ini perlu kebangkitan dari industri gas dalam negeri untuk bisa lebih meningkatkan produksinya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam kaitan itu pula, Pertamina juga telah bekerjasama dengan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) lainnya yang memproduksi gas. Di pihak lain, Karen menyatakan, konversi minyak tanah ke gas juga merupakan indikasi keberhasilan dalam menekan subsidi.
Meskipun memang, harga gas selalu dikaitkan dengan harga minyak. Akan tetapi jika dilihat dengan potensi penurunan subsidi sangat potensial.
Tak kalah pentingnya lagi, kata dia, konversi tersebut juga sama saja mengamankan 43,6 juta pohon.
"Seperti ini tidak bisa dihitung dengan uang jadi bukan hanya penghematan namun cleaner energi seperti ini juga harus diperhitungkan," tegasnya.
(gpr)
Lihat Juga :