China-Uni Eropa tolak proteksi perdagangan

Jum'at, 21 September 2012 - 10:34 WIB
China-Uni Eropa tolak...
China-Uni Eropa tolak proteksi perdagangan
A A A
Sindonews.com - China dan Uni Eropa menolak adanya praktik proteksi perdagangan karena dianggap bertentangan dengan globalisasi ekonomi. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan tahunan antara China dan Uni Eropa di Brussels, Belgia, kemarin.

“Kami (China dan Eropa) ingin adanya perdagangan terbuka dan perekonomian yang bebas,” ujar Perdana Menteri China Wen Jiabao seusai mengikuti pertemuan dengan para pemimpin Uni Eropa di Brussels, kemarin.

Dia menambahkan, pihaknya meyakini Eropa mampu mengatasi masalah krisis utang yang melanda Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Untuk itu, kata Wen, China berkomitmen melanjutkan investasi di Benua Biru. Menurut Wen, saat ini Eropa sudah dalam trek yang benar dalam mengatasi masalah krisis keuangannya.

Eropa, kata dia, tinggal mengimplementasikan kebijakan yang sudah disepakati sebelumnya. “Beijing akan terus menjaga dan berupaya membantu zona euro dengan berbagai fasilitas yang ada,” kata Wen.

Seperti diketahui, Uni Eropa telah sepakat menggelontorkan dana sekitar USD500 miliar melalui skema European Stability Mechanism (ESM). Program tersebut juga mendapat dukungan dari perlemen Jerman, yang selama ini selalu berada dalam pihak oposisi kendati Kanselir Angela Merkel mendukungnya.

Sebelum pertemuan dengan para pemimpin Eropa, Wen Jiabao juga menggelar pembicaraan dengan Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso dan Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy. China dan Eropa memiliki hubungan yang erat di bidang perdagangan. Eropa dalam beberapa tahun terakhir menjadi mitra dagang utama bagi China di samping Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

Tahun lalu, ekspor China ke Uni Eropa mencapai USD229,1 juta, sementara ekspor Uni Eropa ke China hanya USD136,2 juta. Sementara itu, di Madrid, Pemerintah Spanyol menyatakan imbal hasil obligasi untuk jangka waktu 10 tahun turun ke level terendah sejak Januari.

Pada lelang obligasi kemarin, yield obligasi Spanyol yang akan jatuh tempo pada 2022 turun ke level 5,66 persen. “Pasar masih dalam kondisi tidak terlalu agresif karena berpikir Spanyol akan bergerak meminta dana penyelamatan. Itu menjadi isu negatif,” kata analis IG Market Soledad Pellon kemarin.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
China Salip AS Soal...
China Salip AS Soal Urusan Dagang dengan Uni Eropa
Perang Dagang China-Eropa...
Perang Dagang China-Eropa Memanas, Pebisnis Barang Mewah Asal Prancis Teriak Jadi Korban
Uni Eropa Dituding Memicu...
Uni Eropa Dituding Memicu Perang Dagang, Perusahaan China Diancam
AS dan UE Ketar-ketir...
AS dan UE Ketar-ketir Hadapi Model Ekonomi Alternatif China
Atur Ulang Hubungan...
Atur Ulang Hubungan Ekonomi UE-China? Presiden Komisi UE Akan Mendarat di Beijing
China Balas Dendam,...
China Balas Dendam, Mobil Listrik Dibalas Impor Brendi dari Eropa
Berita Terkini
Krisis Selat Hormuz,...
Krisis Selat Hormuz, Bos IEA Wanti-wanti Ekonomi Global dalam Bahaya
19 menit yang lalu
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
10 jam yang lalu
Bio Farma Luncurkan...
Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Perkuat Kedaulatan Vaksin Lewat Kolaborasi Akademisi dan Industri
10 jam yang lalu
Kucuran Investasi Rp1.010,6...
Kucuran Investasi Rp1.010,6 Triliun di Paruh Pertama 2026 Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
10 jam yang lalu
Gerak Cepat, BRI Insurance...
Gerak Cepat, BRI Insurance Serahkan Klaim Asuransi Alat Berat Rp322 Juta ke Nasabah Pangkal Pinang
11 jam yang lalu
Pegadaian Perluas Program...
Pegadaian Perluas Program Pande Emas Perkuat Ekosistem Bullion Services
11 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved