Amerika harus lebih banyak belanja
Selasa, 25 September 2012 - 11:21 WIB
Amerika harus lebih banyak belanja
A
A
A
Sindonews.com - Para ekonom dan kalangan bisnis Amerika Serikat (AS) menginginkan pemerintah untuk lebih banyak membelanjakan dana guna menggenjot perekonomian.
Selain itu, para ekonom juga meyakini bahwa kenaikan pajak bisa membantu perekonomian jika disertai upaya mengurangi defisit. Pada survei yang dilakukan NationalAssociation of Business Economists (NABE) diperoleh data bahwa sebanyak 45 persen responden menginginkan belanja stimulus tahun depan, sedangkan 22 persen lainnya menginginkan stimulus sama seperti level saat ini.
“Hanya sepertiga responden yang ingin membatasi stimulus fiskal di 2013,”kata NABE seperti dikutip AFP kemarin.
Kendati demikian, ujar NABE, mayoritas responden atau sekitar 54 persen meyakini bahwa sektor belanja pemerintah akan kembali dipangkas pada 2014, jika kondisi perekonomian masih belum membaik. Secara umum, menurut NABE, tidak banyak dukungan dari para ekonom jika ada rencana pengetatan kebijakan moneter dalam 12 bulan ke depan.
Dalam survei yang dilakukan terhadap 236 anggota NABE pada Agustus lalu, 45 persen di antaranya meyakini bahwa pemangkasan defisit akan memengaruhi kenaikan pajak dan terpangkasnya belanja.
”Di pihak lain, ada 31 persen yang merasa akan adanya upaya pemangkasan belanja dan 14 persen lainnya memperkirakan kenaikan pajak,” kata NABE. Upaya pengurangan defisit anggaran menjadi isu hangat menjelang pemilihan presiden AS pada 6 November mendatang.
Kedua kandidat yakni Presiden AS Barack Obama dan Mitt Romney sama-sama mengusung isu, terkait upaya perbaikan ekonomi. Romney yang merupakan calon dari Partai Republik menekankan pada pemangkasan belanja, namun menolak kenaikan pajak.
Sementara di kubu Demokrat, Obama justru berjanji akan menaikkan pajak orang kaya untuk meningkatkan pendapatan negara. ”Banyak ekonom mendukung reformasi pajak yang bertujuan menambah pemasukan negara. Hanya, caranya harus dengan merevisi beberapa jenis pajak keluarga kaya,” kata NABE.
Selain itu, para ekonom juga meyakini bahwa kenaikan pajak bisa membantu perekonomian jika disertai upaya mengurangi defisit. Pada survei yang dilakukan NationalAssociation of Business Economists (NABE) diperoleh data bahwa sebanyak 45 persen responden menginginkan belanja stimulus tahun depan, sedangkan 22 persen lainnya menginginkan stimulus sama seperti level saat ini.
“Hanya sepertiga responden yang ingin membatasi stimulus fiskal di 2013,”kata NABE seperti dikutip AFP kemarin.
Kendati demikian, ujar NABE, mayoritas responden atau sekitar 54 persen meyakini bahwa sektor belanja pemerintah akan kembali dipangkas pada 2014, jika kondisi perekonomian masih belum membaik. Secara umum, menurut NABE, tidak banyak dukungan dari para ekonom jika ada rencana pengetatan kebijakan moneter dalam 12 bulan ke depan.
Dalam survei yang dilakukan terhadap 236 anggota NABE pada Agustus lalu, 45 persen di antaranya meyakini bahwa pemangkasan defisit akan memengaruhi kenaikan pajak dan terpangkasnya belanja.
”Di pihak lain, ada 31 persen yang merasa akan adanya upaya pemangkasan belanja dan 14 persen lainnya memperkirakan kenaikan pajak,” kata NABE. Upaya pengurangan defisit anggaran menjadi isu hangat menjelang pemilihan presiden AS pada 6 November mendatang.
Kedua kandidat yakni Presiden AS Barack Obama dan Mitt Romney sama-sama mengusung isu, terkait upaya perbaikan ekonomi. Romney yang merupakan calon dari Partai Republik menekankan pada pemangkasan belanja, namun menolak kenaikan pajak.
Sementara di kubu Demokrat, Obama justru berjanji akan menaikkan pajak orang kaya untuk meningkatkan pendapatan negara. ”Banyak ekonom mendukung reformasi pajak yang bertujuan menambah pemasukan negara. Hanya, caranya harus dengan merevisi beberapa jenis pajak keluarga kaya,” kata NABE.
(gpr)
Lihat Juga :