Potensi wisata Bandung belum tergarap optimal
Selasa, 25 September 2012 - 18:39 WIB
Potensi wisata Bandung belum tergarap optimal
A
A
A
Sindonews.com - Potensi pariwisata di Kota Bandung belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal. Padahal, potensi pendapatan dari sektor ini akan jauh lebih besar dari pendapatan saat ini.
"Sektor pariwisata di Kota Bandung baru sebatas mengandalkan sektor sekunder seperti kuliner, fesyen, dan lainnya. Sementara pariwisata primernya belum muncul," kata Ketua Pokja Kepariwisataan Dewan Pengembangan Ekonomi (DPE) Kota Bandung Aman Raksaradana pada seminal Peningkatan Daya Tarik Wisata Kota Bandung, di Graha Kadin Kota Bandung, Selasa (25/9/2012).
Beberapa potensi wisata primer yang bisa dimunculkan di antaranya heritage, wisata belanja, wisata ilmiah, wisata kesehatan, wisata sejarah, dan lainnya. Sementara wisata sekunder, berpotensi tersaingi oleh wilayah lain, lantaran bukan merupakan lokal konten.
Diketahui, sektor wisata selama ini menyumbang PAD terbesar. Pada 2010, PAD dari jasa hotel, restoran, dan hiburan serta usaha kepariwisataan mencapai Rp188,7 miliar dari total PAD Bandung sebesar Rp301,6 miliar.
PAD dari sektor ini meningkat drastis di 2011 menjadi Rp226,3 miliar (belum termasuk retribusi usaha wisata). "Apabila potensi primer dimanfaatkan lebih maksimal, potensi pendapatan wisata akan lebih besar," jelas dia.
Selama ini, lanjut dia, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, menopang 40 persen struktur ekonomi di Bandung. Jauh melampaoi sektor lainnya seperti industri pengolahan sekitar 25 persen, angkutan dan komunikasi 11 persen, jasa-jasa 10 persen.
Menurut dia, secara kuantitas, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Bandung cukup besar. Pada 2011 misalnya, wisatawan yang masuk melalui pintu pintu gerbang kedatangan mencapai 6,7 juta wisatawan. Sayangnya, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 4 juta wisatawan yang menginap dan melakukan aktivitas kepariwisataan di Kota Bandung.
Artinya, lanjut dia, wisatawan asing dan domestik yang datang ke Bandung belum terlalu besar membelanjakan uangnya di kota ini. Untuk itu, perlu ada upaya kongkrit untuk menaikkan kualitas kunjungan wisatawan ke Bandung. “Wisatawan yang awalnya hanya berkunjung delapan jam atau satu hari, harus di upayakan agar menginap di Bandung,” jelas dia.
Namun demikian, sejalan dengan peningkatakan kualitas pariwisata, perlu ada peningkatan insfrastruktur pendukung seperti jalan. Kondisi jalanan yang cenderung macet akan mengurangi pencitraan terhadap pariwisata Bandung. Belum lagi, bila wisatawan mengalami kerugian yang diakibatkan jalan macet atau lainnya.
Sementara itu, Ketua DPE Kota Bandung Herman Muchtar mengatakan, pemerintah daerah semestinya mengalokasikan anggaran lebih besar untuk sektor pariwisata. Menurut dia, anggaran pemerintah untuk sektor ini masih sangat minim, tidak sebanding dengan nilai PAD yang dihasilkan sektor pariwisata.
“Mestinya, alokasi dana untuk sektor pariwisata lebih besar, sebanding dengan pendapatan yang kami dapat. Sehingga, pengembangan keparieisataan di Kota Bandung bisa lebih optimal,” pungkas Herman Muchtar.
"Sektor pariwisata di Kota Bandung baru sebatas mengandalkan sektor sekunder seperti kuliner, fesyen, dan lainnya. Sementara pariwisata primernya belum muncul," kata Ketua Pokja Kepariwisataan Dewan Pengembangan Ekonomi (DPE) Kota Bandung Aman Raksaradana pada seminal Peningkatan Daya Tarik Wisata Kota Bandung, di Graha Kadin Kota Bandung, Selasa (25/9/2012).
Beberapa potensi wisata primer yang bisa dimunculkan di antaranya heritage, wisata belanja, wisata ilmiah, wisata kesehatan, wisata sejarah, dan lainnya. Sementara wisata sekunder, berpotensi tersaingi oleh wilayah lain, lantaran bukan merupakan lokal konten.
Diketahui, sektor wisata selama ini menyumbang PAD terbesar. Pada 2010, PAD dari jasa hotel, restoran, dan hiburan serta usaha kepariwisataan mencapai Rp188,7 miliar dari total PAD Bandung sebesar Rp301,6 miliar.
PAD dari sektor ini meningkat drastis di 2011 menjadi Rp226,3 miliar (belum termasuk retribusi usaha wisata). "Apabila potensi primer dimanfaatkan lebih maksimal, potensi pendapatan wisata akan lebih besar," jelas dia.
Selama ini, lanjut dia, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, menopang 40 persen struktur ekonomi di Bandung. Jauh melampaoi sektor lainnya seperti industri pengolahan sekitar 25 persen, angkutan dan komunikasi 11 persen, jasa-jasa 10 persen.
Menurut dia, secara kuantitas, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Bandung cukup besar. Pada 2011 misalnya, wisatawan yang masuk melalui pintu pintu gerbang kedatangan mencapai 6,7 juta wisatawan. Sayangnya, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 4 juta wisatawan yang menginap dan melakukan aktivitas kepariwisataan di Kota Bandung.
Artinya, lanjut dia, wisatawan asing dan domestik yang datang ke Bandung belum terlalu besar membelanjakan uangnya di kota ini. Untuk itu, perlu ada upaya kongkrit untuk menaikkan kualitas kunjungan wisatawan ke Bandung. “Wisatawan yang awalnya hanya berkunjung delapan jam atau satu hari, harus di upayakan agar menginap di Bandung,” jelas dia.
Namun demikian, sejalan dengan peningkatakan kualitas pariwisata, perlu ada peningkatan insfrastruktur pendukung seperti jalan. Kondisi jalanan yang cenderung macet akan mengurangi pencitraan terhadap pariwisata Bandung. Belum lagi, bila wisatawan mengalami kerugian yang diakibatkan jalan macet atau lainnya.
Sementara itu, Ketua DPE Kota Bandung Herman Muchtar mengatakan, pemerintah daerah semestinya mengalokasikan anggaran lebih besar untuk sektor pariwisata. Menurut dia, anggaran pemerintah untuk sektor ini masih sangat minim, tidak sebanding dengan nilai PAD yang dihasilkan sektor pariwisata.
“Mestinya, alokasi dana untuk sektor pariwisata lebih besar, sebanding dengan pendapatan yang kami dapat. Sehingga, pengembangan keparieisataan di Kota Bandung bisa lebih optimal,” pungkas Herman Muchtar.
(gpr)
Lihat Juga :