RI berpotensi jadi kiblat ekonomi
Kamis, 27 September 2012 - 10:34 WIB
RI berpotensi jadi kiblat ekonomi
A
A
A
Sindonews.com - Dalam waktu 10 tahun ke depan, Indonesia dinilai berpotensi menjadi salah satu kiblat ekonomi dunia dengan catatan, permasalahan infrastruktur dibenahi sejak sekarang.
“Ada banyak langkah yang telah dilakukan Indonesia, terutama karena negara ini pernah terkena krisis yang parah tahun 1998, dan perlambatan ekonomi tahun 2008. Belajar dari krisis tersebut, Indonesia tetap bisa melangkah dengan hebat sampai saat ini,” kata peraih Nobel bidang ekonomi 2011, Thomas J Sargent, dalam pidatonya pada ulang tahun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, kemarin.
Dia menilai, meski infrastruktur masih lemah, perekonomian Indonesia tetap bertumbuh ditopang tingginya konsumsi dan investasi, serta tidak hanya mengandalkan ekspor.
Namun, mengantisipasi perkembangan ekonomi global, dia menyarankan pemerintah tetap membuka ruang untuk memperbaiki kebijakan dalam perekonomian yang bersifat fiskal maupun moneter. “Kalau ini dipertahankan, Indonesia akan menjadi negara yang kuat,” tegasnya.
Thomas menambahkan, pengelolaan makro dan mikroekonomi Indonesia juga perlu dilakukan secara berhati-hati untuk memaksimalkan manfaat sumber daya alam yang dimiliki. Strategi tersebut, kata dia, bisa mengantisipasi krisis yang ada saat ini.
Dengan strategi tersebut, imbuh dia, meski Indonesia kini masih di bawah China, berpeluang besar sejajar dengan raksasa ekonomi dunia tersebut. Positifnya prospek perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan menarik masuk modal pada semester pertama tahun 2013. Dana yang menganggur akibat krisis di Eropa dan Amerika diprediksi akan beralih ke pasar uang Indonesia.
Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, krisis finansial di Eropa dan Amerika menyebabkan perlambatan sektor riil, sehingga likuiditas yang sedianya untuk menggerakkan sektor tersebut juga ikut mengendap.
“Bank Sentral Eropa, Amerika, Jepang, dan Swiss, mereka mencetak uang dengan kebijakan likuiditas yang tidak bisa diserap sektor riil,” tuturnya.
Menurut Fauzi, karena pertumbuhan global yang lamban, dana yang tadinya menganggur itu otomatis akan mencari tujuan baru di negara yang ekonominya tumbuh positif (emerging market). Indonesia dengan perekonomiannya yang terus positif menjadi salah satu target bagi dana-dana tersebut.
Fauzi mengatakan, ada dua hal yang menyebabkan Indonesia memenuhi syarat sebagai tempat peralihan dana dari Eropa dan Amerika. “Pertama adalah suku bunga yang tinggi dan keduatrenpertumbuhanekonomi yang terus meningkat. Indonesia memenuhi kedua persyaratan itu, di samping India dan Brasil,” tuturnya.
Suku bunga tinggi yang diterapkan di Indonesia mengakibatkan para spekulator akan berlomba meminjam dolar di Amerika, begitu juga dengan Eropa dan negara lain yang terkena krisis global.
Selanjutnya, mereka akan masuk ke Indonesia dengan membeli surat utang negara yang menawarkan imbal hasil 6–7 persen. “Hal ini akan mengakibatkan laba korporasi mereka juga meningkat,” jelasnya.
“Ada banyak langkah yang telah dilakukan Indonesia, terutama karena negara ini pernah terkena krisis yang parah tahun 1998, dan perlambatan ekonomi tahun 2008. Belajar dari krisis tersebut, Indonesia tetap bisa melangkah dengan hebat sampai saat ini,” kata peraih Nobel bidang ekonomi 2011, Thomas J Sargent, dalam pidatonya pada ulang tahun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, kemarin.
Dia menilai, meski infrastruktur masih lemah, perekonomian Indonesia tetap bertumbuh ditopang tingginya konsumsi dan investasi, serta tidak hanya mengandalkan ekspor.
Namun, mengantisipasi perkembangan ekonomi global, dia menyarankan pemerintah tetap membuka ruang untuk memperbaiki kebijakan dalam perekonomian yang bersifat fiskal maupun moneter. “Kalau ini dipertahankan, Indonesia akan menjadi negara yang kuat,” tegasnya.
Thomas menambahkan, pengelolaan makro dan mikroekonomi Indonesia juga perlu dilakukan secara berhati-hati untuk memaksimalkan manfaat sumber daya alam yang dimiliki. Strategi tersebut, kata dia, bisa mengantisipasi krisis yang ada saat ini.
Dengan strategi tersebut, imbuh dia, meski Indonesia kini masih di bawah China, berpeluang besar sejajar dengan raksasa ekonomi dunia tersebut. Positifnya prospek perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan menarik masuk modal pada semester pertama tahun 2013. Dana yang menganggur akibat krisis di Eropa dan Amerika diprediksi akan beralih ke pasar uang Indonesia.
Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, krisis finansial di Eropa dan Amerika menyebabkan perlambatan sektor riil, sehingga likuiditas yang sedianya untuk menggerakkan sektor tersebut juga ikut mengendap.
“Bank Sentral Eropa, Amerika, Jepang, dan Swiss, mereka mencetak uang dengan kebijakan likuiditas yang tidak bisa diserap sektor riil,” tuturnya.
Menurut Fauzi, karena pertumbuhan global yang lamban, dana yang tadinya menganggur itu otomatis akan mencari tujuan baru di negara yang ekonominya tumbuh positif (emerging market). Indonesia dengan perekonomiannya yang terus positif menjadi salah satu target bagi dana-dana tersebut.
Fauzi mengatakan, ada dua hal yang menyebabkan Indonesia memenuhi syarat sebagai tempat peralihan dana dari Eropa dan Amerika. “Pertama adalah suku bunga yang tinggi dan keduatrenpertumbuhanekonomi yang terus meningkat. Indonesia memenuhi kedua persyaratan itu, di samping India dan Brasil,” tuturnya.
Suku bunga tinggi yang diterapkan di Indonesia mengakibatkan para spekulator akan berlomba meminjam dolar di Amerika, begitu juga dengan Eropa dan negara lain yang terkena krisis global.
Selanjutnya, mereka akan masuk ke Indonesia dengan membeli surat utang negara yang menawarkan imbal hasil 6–7 persen. “Hal ini akan mengakibatkan laba korporasi mereka juga meningkat,” jelasnya.
(gpr)
Lihat Juga :