Fed desak AS genjot perekonomian
Rabu, 03 Oktober 2012 - 10:17 WIB
Fed desak AS genjot perekonomian
A
A
A
Sindonews.com – Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (the Fed) Ben Bernanke mendesak Gedung Putih dan Kongres bertindak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Bernanke meyakini, perekonomian AS akan terus melanjutkan tren pertumbuhan dan diperkirakan tidak akan terjadi resesi seperti saat krisis keuangan global 2008 silam. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi di level 1,5–2 persen masih terlalu lemah dan tidak akan cukup menurunkan angka pengangguran kendati Fed telah menggelontorkan dana miliaran dolar untuk mendukung pemerintah.
“Perhatian kami tidak pada soal resesi, tetapi pada pertumbuhan yang dihadapkan pada tidak cukupnya menempatkan orang pada pekerjaan,” kata Bernenake di Indiana,AS, Senin (1/10).
Dia menambahkan, ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk memperkuat perekonomian AS. Misalnya, saja dengan menempatkan anggaran federal untuk program pertumbuhan berkelanjutan, reformasi pajak, memperbaiki sistem pendidikan, inovasi teknologi dan memperluas perdagangan luar negeri.
Menurut Bernanke, Pemerintah AS harus mencari jalan untuk menempatkan anggaran dengan tepat agar tidak membahayakan pemulihan ekonomi dalam jangka menengah. Selain itu, Kongres harus membuat aturan sehingga jurang di sektor fiskal tidak terlalu lebar dengan mengombinasikan kebijakan kenaikan pajak dengan pemangkasan anggaran.
“Menurut Badan Anggaran Kongres AS dan ahli-ahli lainnya, jika langkah yang diambil tidak tepat, akan mengakibatkan perekonomian kembali ke jurang resesi,” kata Bernanke.
Sekedar diketahui, Kongres dan Gedung Putih akan menyepakati pemangkasan belanja besar-besaran dan menaikkan pajak pada Januari tahun depan. Program tersebut diharapkan mampu mengatasi defisit utang pemerintah jika kedua partai politik yakni Republik dan Demokrat satu suara.
Manufaktur AS Tumbuh
Di bagian lain, sektor manufaktur AS pada September lalu untuk kali pertama sejak Mei mengalami pertumbuhan. Hal tersebut dikarenakan adanya pesanan dan lapangan pekerjaan baru. Meski begitu, laju pertumbuhan masih menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap terjebak dalam pemulihan yang lambat.
The Institute of Supply Management menyatakan,indeks belanja manajer (purchasing manager index/PMI) nasional naik menjadi 51,5 dari 49,6 pada Agustus. Sementara pesanan baru juga naik ke level tertinggi sejak Mei yakni di level 52,3 dari 47,1 bersamaan dengan peningkatan indeks tenaga kerja sebesar 54,7 dari sebelumnya 51,6.
Meski data membaik, secara keseluruhan tingkat pertumbuhan di bidang manufaktur belum meningkat signifikan dan beberapa komponen tetap di wilayah kontraksi. Sektor ekspor masih menyusut meskipun mulai melambat dengan kenaikan indeks menjadi 48,5 dari sebelumnya 47,demikian pula dengan indeks produksi yang naik menjadi 49,5 dari 47,2.
“Kami tidak cukup puas pada titik di mana manufaktur mengalami hal yang baik,akan tetapi sektor manufaktur yang menunjukkan penguatan tersebut menggarisbawahi bahwa ada hal-hal yang tidak begitu buruk,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Sarhan Capital New York Adam Sarhan dilansir Reuters.
Bernanke meyakini, perekonomian AS akan terus melanjutkan tren pertumbuhan dan diperkirakan tidak akan terjadi resesi seperti saat krisis keuangan global 2008 silam. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi di level 1,5–2 persen masih terlalu lemah dan tidak akan cukup menurunkan angka pengangguran kendati Fed telah menggelontorkan dana miliaran dolar untuk mendukung pemerintah.
“Perhatian kami tidak pada soal resesi, tetapi pada pertumbuhan yang dihadapkan pada tidak cukupnya menempatkan orang pada pekerjaan,” kata Bernenake di Indiana,AS, Senin (1/10).
Dia menambahkan, ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk memperkuat perekonomian AS. Misalnya, saja dengan menempatkan anggaran federal untuk program pertumbuhan berkelanjutan, reformasi pajak, memperbaiki sistem pendidikan, inovasi teknologi dan memperluas perdagangan luar negeri.
Menurut Bernanke, Pemerintah AS harus mencari jalan untuk menempatkan anggaran dengan tepat agar tidak membahayakan pemulihan ekonomi dalam jangka menengah. Selain itu, Kongres harus membuat aturan sehingga jurang di sektor fiskal tidak terlalu lebar dengan mengombinasikan kebijakan kenaikan pajak dengan pemangkasan anggaran.
“Menurut Badan Anggaran Kongres AS dan ahli-ahli lainnya, jika langkah yang diambil tidak tepat, akan mengakibatkan perekonomian kembali ke jurang resesi,” kata Bernanke.
Sekedar diketahui, Kongres dan Gedung Putih akan menyepakati pemangkasan belanja besar-besaran dan menaikkan pajak pada Januari tahun depan. Program tersebut diharapkan mampu mengatasi defisit utang pemerintah jika kedua partai politik yakni Republik dan Demokrat satu suara.
Manufaktur AS Tumbuh
Di bagian lain, sektor manufaktur AS pada September lalu untuk kali pertama sejak Mei mengalami pertumbuhan. Hal tersebut dikarenakan adanya pesanan dan lapangan pekerjaan baru. Meski begitu, laju pertumbuhan masih menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap terjebak dalam pemulihan yang lambat.
The Institute of Supply Management menyatakan,indeks belanja manajer (purchasing manager index/PMI) nasional naik menjadi 51,5 dari 49,6 pada Agustus. Sementara pesanan baru juga naik ke level tertinggi sejak Mei yakni di level 52,3 dari 47,1 bersamaan dengan peningkatan indeks tenaga kerja sebesar 54,7 dari sebelumnya 51,6.
Meski data membaik, secara keseluruhan tingkat pertumbuhan di bidang manufaktur belum meningkat signifikan dan beberapa komponen tetap di wilayah kontraksi. Sektor ekspor masih menyusut meskipun mulai melambat dengan kenaikan indeks menjadi 48,5 dari sebelumnya 47,demikian pula dengan indeks produksi yang naik menjadi 49,5 dari 47,2.
“Kami tidak cukup puas pada titik di mana manufaktur mengalami hal yang baik,akan tetapi sektor manufaktur yang menunjukkan penguatan tersebut menggarisbawahi bahwa ada hal-hal yang tidak begitu buruk,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Sarhan Capital New York Adam Sarhan dilansir Reuters.
(rna)
Lihat Juga :