Indeks rawan aksi ambil untung
Senin, 08 Oktober 2012 - 07:30 WIB
Indeks rawan aksi ambil untung
A
A
A
Sindonews.com - Pergerakan sejumlah indeks acuan dunia sepanjang pekan lalu mengalami rally signifikan. Namun, pergerakan positif di pasar saham sempat terhenti ketika perhatian pasar tertuju pada bantahan Pemerintah Spanyol soal dana talangan (bailout).
Pernyataan kontradiktif dari Spanyol tersebut memburamkan opini pelaku pasar sehingga sempat menghentikan rally kendati hanya sementara. Namun, beberapa data ekonomi dari Amerika Serikat (AS) seperti kenaikan indeks manufaktur menjadi 51,5, kemudian data penjualan kendaraan domestik menjadi 11,6 juta unit atau di atas proyeksi 11,5 juta unit telah berhasil menahan sentimen negatif yang datang dari Uni Eropa.
Ditambah lagi angka pengangguran September yang turun menjadi 7,8 persen, dibanding bulan sebelumnya 8,1 persen, cukup mendorong sentimen positif dan menjaga keyakinan pasar. Pekan lalu bursa utama acuan Dow Jones mengalami penguatan 0,26 persen, sedangkan Nasdaq dan S&P500 masingmasing turun 0,42 persen dan 0,03 persen.Namun,pelemahan tersebut lebih bersifat sesaat seiring aksi ambil untung menjelang earnings season pekan ini.
Hilangnya kenaikan yang sempat terjadi pada indeks S&P500 sebesar 0,7 persen menyebabkan indeks gagal menembus level tertingginya sejak lima tahun terakhir. Sedangkan, Dow Jones berhasil menyentuh level terbaiknya pada periode yang sama. Di Eropa pekan lalu indeks juga mengalami penguatan signifikan didorong sentimen positif data makro AS serta pernyataan ECB yang segera mengimplementasikan program pembelian obligasi untuk mengatasi krisis utang.
Indeks FTSE,CAC 40 dan Dax masingmasing menguat 0,74 persen,1,64 persen dan 1,27 persen. Sentimen tersebut juga menjaga transaksi Futures bursa di wilayah EU masih berada pada teritori positif. Pasar Asia Pasifik juga mengalami hal yang sama. Di tengah opini negatif seputar perkembangan ekspor Jepang dan China serta data makro lain yang masih di luar perkiraan, indeks ternyata masih tertutupi akselerasi kenaikan beberapa cyclical stocks dan sentimen positif bursa global.
Kendati demikian, optimisme tersebut tetap belum mampu memengaruhi pergerakan harga komoditas penting dunia. Perdagangan kontrak komoditas utama masih melemah. Lihat saja harga energi (gas dan crude) yang turun - 0.29 persen dan -2 persen.Kemudian metal (gold dan copper,-0.86 persen dan -1.51 persen) dan pertanian (gandum dan gula - 1.35 persen,-0.28 persen). Sepekan ke depan, ada beberapa agenda global yang perlu dicermati pelaku pasar.
Salah satunya rencana pembicaraan Kanselir Jerman Angela Merkel dengan Perdana Menteri Yunani Antonis Samaras pada 9 Oktober nanti terkait penyelesaian krisis utang.Ada juga laporan Beige Book dan data perdagangan internasional, klaim pengangguran, dan kepercayaan konsumen. Dari pasar dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami rally signifikan terpicu sentimen positif tersebut di atas.
Rentang pergerakan terendah dan tertinggi sepanjang minggu lalu antara 4214.52 (1 Oktober 2012) hingga 4320.59 (5 Oktober 2012) sampai akhirnya ditutup pada level 4311.31 pada Jumat lalu telah menyebabkan return IHSG kembali menguat dan mendorong angka P/E (price per earning ratio)-nya naik ke level 19,28x. Sebagai perbandingan, P/E di beberapa pasar global dan regional lainnya, seperti Dow Jones hanya 13,36x,S&P500 sebesar 14,83x dan FSSTI sebesar 12,49x.
Nilai tersebut seharusnya menjadi indikator introspeksi atas opini berlanjutnya penguatan bursa secara berkelanjutan hingga akhir 2012. Namun,beberapa faktor tetap harus dipertimbangkan. Misalnya, refleksi terhadap sentimen positif yang terlalu cepat atas potensi terlampauinya target pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan laporan laba emiten.Terlebih, bila melihat nilai wajar beberapa saham berkapitalisasi pasar besar yang telah menyentuh nilai wajarnya.
Beberapa emiten bahkan telah memasuki rentang nilai valuasi untuk 2013. Pada transaksi perdagangan minggu ini, indeks JCI berpotensi bergerak pada rentang 4.243,69 – 4.349,76. Dengan asumsi,kontribusi katalis pada pekan ini akan lebih mendominasi dibandingkan dengan drawbacks sentimen yang ada, maka bursa dalam negeri berpotensi bergerak hingga menyentuh level 4.388,21. Akan tetapi, bila sentimen negatif lebih kuat, potensi indeks bisa saja jatuh ke level 4.209,88.
Adapun penggerak bursa dalam negeri pada pekan ini masih akan datang dari sahamsaham lapis kedua yang memiliki floating shares dan kekuatan pasar domestik signifikan. Hal lain yang perlu diperhatikan, tetaplah fokus pada saham-saham berbasis konsumsi untuk menyeimbangkan portofolio.
Emiten berbasis ritel, automotif, semen, properti dan infrastruktur juga patut terus diperhatikan. Fokus pada saham berbasis sektor tersebut dapat dijadikan alternatif lain, di tengah potensi rawannya aksi ambil untung. Terakhir, saham pilihan yang patut dicermati adalah BBRI,GGRM,INDF,MAPI dan UNVR. Saham lain seperti SIMP, AALI, ADHI, WIKA dan JSMR.
Sementara,aksi selektif beli bisa dilakukan atas saham farmasi seperti KLBF dan agrobisnis, AALI untuk mendapatkan keuntungan sesaat. Bisa juga mengoleksi saham-saham lapis kedua berbasis sektor yang tidak begitu rentan dengan kondisi global dan regional. Selamat Berinvestasi!
AKHMAD NURCAHYADI Analis BNI Securities
Pernyataan kontradiktif dari Spanyol tersebut memburamkan opini pelaku pasar sehingga sempat menghentikan rally kendati hanya sementara. Namun, beberapa data ekonomi dari Amerika Serikat (AS) seperti kenaikan indeks manufaktur menjadi 51,5, kemudian data penjualan kendaraan domestik menjadi 11,6 juta unit atau di atas proyeksi 11,5 juta unit telah berhasil menahan sentimen negatif yang datang dari Uni Eropa.
Ditambah lagi angka pengangguran September yang turun menjadi 7,8 persen, dibanding bulan sebelumnya 8,1 persen, cukup mendorong sentimen positif dan menjaga keyakinan pasar. Pekan lalu bursa utama acuan Dow Jones mengalami penguatan 0,26 persen, sedangkan Nasdaq dan S&P500 masingmasing turun 0,42 persen dan 0,03 persen.Namun,pelemahan tersebut lebih bersifat sesaat seiring aksi ambil untung menjelang earnings season pekan ini.
Hilangnya kenaikan yang sempat terjadi pada indeks S&P500 sebesar 0,7 persen menyebabkan indeks gagal menembus level tertingginya sejak lima tahun terakhir. Sedangkan, Dow Jones berhasil menyentuh level terbaiknya pada periode yang sama. Di Eropa pekan lalu indeks juga mengalami penguatan signifikan didorong sentimen positif data makro AS serta pernyataan ECB yang segera mengimplementasikan program pembelian obligasi untuk mengatasi krisis utang.
Indeks FTSE,CAC 40 dan Dax masingmasing menguat 0,74 persen,1,64 persen dan 1,27 persen. Sentimen tersebut juga menjaga transaksi Futures bursa di wilayah EU masih berada pada teritori positif. Pasar Asia Pasifik juga mengalami hal yang sama. Di tengah opini negatif seputar perkembangan ekspor Jepang dan China serta data makro lain yang masih di luar perkiraan, indeks ternyata masih tertutupi akselerasi kenaikan beberapa cyclical stocks dan sentimen positif bursa global.
Kendati demikian, optimisme tersebut tetap belum mampu memengaruhi pergerakan harga komoditas penting dunia. Perdagangan kontrak komoditas utama masih melemah. Lihat saja harga energi (gas dan crude) yang turun - 0.29 persen dan -2 persen.Kemudian metal (gold dan copper,-0.86 persen dan -1.51 persen) dan pertanian (gandum dan gula - 1.35 persen,-0.28 persen). Sepekan ke depan, ada beberapa agenda global yang perlu dicermati pelaku pasar.
Salah satunya rencana pembicaraan Kanselir Jerman Angela Merkel dengan Perdana Menteri Yunani Antonis Samaras pada 9 Oktober nanti terkait penyelesaian krisis utang.Ada juga laporan Beige Book dan data perdagangan internasional, klaim pengangguran, dan kepercayaan konsumen. Dari pasar dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami rally signifikan terpicu sentimen positif tersebut di atas.
Rentang pergerakan terendah dan tertinggi sepanjang minggu lalu antara 4214.52 (1 Oktober 2012) hingga 4320.59 (5 Oktober 2012) sampai akhirnya ditutup pada level 4311.31 pada Jumat lalu telah menyebabkan return IHSG kembali menguat dan mendorong angka P/E (price per earning ratio)-nya naik ke level 19,28x. Sebagai perbandingan, P/E di beberapa pasar global dan regional lainnya, seperti Dow Jones hanya 13,36x,S&P500 sebesar 14,83x dan FSSTI sebesar 12,49x.
Nilai tersebut seharusnya menjadi indikator introspeksi atas opini berlanjutnya penguatan bursa secara berkelanjutan hingga akhir 2012. Namun,beberapa faktor tetap harus dipertimbangkan. Misalnya, refleksi terhadap sentimen positif yang terlalu cepat atas potensi terlampauinya target pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan laporan laba emiten.Terlebih, bila melihat nilai wajar beberapa saham berkapitalisasi pasar besar yang telah menyentuh nilai wajarnya.
Beberapa emiten bahkan telah memasuki rentang nilai valuasi untuk 2013. Pada transaksi perdagangan minggu ini, indeks JCI berpotensi bergerak pada rentang 4.243,69 – 4.349,76. Dengan asumsi,kontribusi katalis pada pekan ini akan lebih mendominasi dibandingkan dengan drawbacks sentimen yang ada, maka bursa dalam negeri berpotensi bergerak hingga menyentuh level 4.388,21. Akan tetapi, bila sentimen negatif lebih kuat, potensi indeks bisa saja jatuh ke level 4.209,88.
Adapun penggerak bursa dalam negeri pada pekan ini masih akan datang dari sahamsaham lapis kedua yang memiliki floating shares dan kekuatan pasar domestik signifikan. Hal lain yang perlu diperhatikan, tetaplah fokus pada saham-saham berbasis konsumsi untuk menyeimbangkan portofolio.
Emiten berbasis ritel, automotif, semen, properti dan infrastruktur juga patut terus diperhatikan. Fokus pada saham berbasis sektor tersebut dapat dijadikan alternatif lain, di tengah potensi rawannya aksi ambil untung. Terakhir, saham pilihan yang patut dicermati adalah BBRI,GGRM,INDF,MAPI dan UNVR. Saham lain seperti SIMP, AALI, ADHI, WIKA dan JSMR.
Sementara,aksi selektif beli bisa dilakukan atas saham farmasi seperti KLBF dan agrobisnis, AALI untuk mendapatkan keuntungan sesaat. Bisa juga mengoleksi saham-saham lapis kedua berbasis sektor yang tidak begitu rentan dengan kondisi global dan regional. Selamat Berinvestasi!
AKHMAD NURCAHYADI Analis BNI Securities
(gpr)
Lihat Juga :