Regulasi masih hambat ekspor nikel

Rabu, 10 Oktober 2012 - 16:53 WIB
Regulasi masih hambat...
Regulasi masih hambat ekspor nikel
A A A
Sindonews.com – Ekspor biji nikel Sulawesi Selatan (Sulsel) per Juli 2012 masih rendah jika dibandingkan capaian bulan yang sama tahun sebelumnya. Penyebabnya diperkirakan masih soal regulasi pemerintah melalui Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dalam Permen Nomor 7 tahun 2012 tentang Pelarangan Ekspor Bahan Tambang, itu mengharuskan setiap perusahaan tambang untuk membangun pabrik smalter sebelum mengekspor biji nikelnya. Faktor lain disebabkan oleh kebijakan Bea Keluar (BK) untuk biji nikel sebesar 20 persen yang dirasa memberatkan pengusaha.

Wakil Kepala Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel Ilham Alim Bachrie mengatakan, regulasi itu cukup ampuh. Namun, tidak berlaku bagi semua perusahaan tambang yang ada di Sulsel, hanya perusahaan besar saja yang bisa tetap bertahan dibawah regulasi tersebut.

“Kurangnya ekspor nikel Sulsel selama ini karena banyak perusahaan tambang berpikir untuk membangun pabrik smalter, dan itu tidak memakan modal yang sedikit, sehingga banyak perusahaan kecil lainnya memilih berhenti produksi sementara,” kata dia di Makassar, Rabu (10/10/2012).

Terhitung sejak Permen itu diberlakukan awal tahun ini, ekspor biji nikel Sulsel anjlok. Tiga bulan terakhir, pertumbuhannya masih fluktuatif, namun masih jauh dari pencapaian bulan berjalan tahun sebelumnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat ekpor nikel turun 10,04 persen dari bulan yang sama tahun lalu.

Pada Juni 2012, nikel Sulsel sempat mengalami kenaikan dengan menembus nilai Free On Board (FOB) USD94,31 juta. Nilai ini terbilang besar sepanjang tahun ini, namun kembali menurun di Juli sebesar 1,43 persen atau menjadi USD92,96 juta. Padahal peranan nikel terhadap ekpor Sulsel paling besar, mencapai 63,88 persen.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Selatan Gunawan Palaguna mengutarakan, Permen yang dikeluarkan itu seharusnya tidak berpengaruh terhadap ekspor biji nikel dan investasi pengembangan pertambangan di daerah ini.

Menurutnya, pengusaha tambang bisa melakukan kerja sama untuk meningkatkan produksi. “Bagi yang belum memiliki pabrik smalter, bisa bergabung atau numpang sementara dengan pabrik besar yang telah punya. Ini seharusnya dilakukan agar produksi nikel tetap terjaga,” kata dia.

Aturan tersebut lanjut Gunawan, bertujuan untuk meningkatkan nilai ekspor karena biji nikel dan besi harus diurai melalui smalter. Jadi, bahan tambang yang akan diekspor nilainya akan lebih besar ketimbang mengespor dalam biji mentah. Walau melihat nilai ekspor Sulsel menurun, dia yakin ekpor nikel kedepannya akan kembali tumbuh.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
CORE: Perdagangan Surplus,...
CORE: Perdagangan Surplus, Tapi Gara-gara Impornya Terkontraksi
Program SSMQC Resmi...
Program SSMQC Resmi Dilaunching untuk Efisiensi Waktu dan Biaya Ekspor Impor
Nilai Ekspor Impor Sulsel...
Nilai Ekspor Impor Sulsel Alami Penurunan
Aktivitas Ekspor-Impor...
Aktivitas Ekspor-Impor Sulsel Meningkat Pada Februari 2022
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Sederet Harta Karun...
Sederet Harta Karun Mineral RI Jadi Rebutan Asing, Nomor 1 Simpan Deposit 1,5 Miliar Ton
Berita Terkini
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
13 menit yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
1 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
1 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
2 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
3 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
4 jam yang lalu
Infografis
15 PTN Masih Buka Jalur...
15 PTN Masih Buka Jalur Mandiri 2025, Kesempatan Kedua yang Gagal SNBT
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved