Banggar DPR: Pemerintah harus ngotak-ngatik neraca
Senin, 15 Oktober 2012 - 19:08 WIB
Banggar DPR: Pemerintah harus ngotak-ngatik neraca
A
A
A
Sindonews.com - Badan Anggaran DPR RI menyarankan pemerintah agar mempertimbangkan neraca defisit transaksi berjalan untuk anggaran subsidi energi yang berlebih tahun ini. Total subsidi energi adalah sebesar Rp305,9 triliun, sehingga pemerintah harus memastikan anggaran Rp103,5 triliun.
"Jadi dia (Pemerintah) mesti ngotak-ngatik dari neraca," ujar Anggota Banggar, Satya W Yudha di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (15/10/2012).
Menurutnya, pemerintah dapat realokasikan anggaran dari beberapa sektor. Misalnya, dari sisa anggaran yang berlebih yang sempat dipaparkan pada pembahasan APBN P 2012. "Kan nantinya akibat dari penyerapan masing-masing departmen," ucapnya.
Selain itu, ada penambahan dari berkurangnya pemakaian terhadap penambahan subsidi yang sebesar 4,04 juta KL. Satya menilai ini cukup menambah dari anggaran yang dibutuhkan.
"Jadi dari 44,04 juta KL itu kan dipakai cuma 43,5 juta KL, berarti ada sisa, walapun kecil lah, tapi itu kan bisa lebih dari pada Rp2 triliun, karena satu juta KL aja disparitas Rp4.500 itu berarti sudah Rp4,5 triliun, jadi klo berbeda setengah juta KL, itu sudah Rp2,25 triliun," papar Satya.
Kemudian, Satya juga menyebutkan efisiensi listrik. Seperti susut jaringan yang rendah dan akselerasi proyek 10.000 MW. Misalkan proyek di 2013 ada yang beberapa bisa ditarik di 2012, dan itu juga mengurangi beban BBM yang haru dikeluarkan konsumsi sampai akhir tahun.
"Efisiensi bisa dari mana saja, kalau bisa meningkatkan pendapatan pajak, kan kita gak ngerti kan, terus renegosiasi dari kontrak dari yang ada di SDA ya begitu selesai 2012 dan aktif itu kan juga upaya," tambah Satya.
Akan tetapi, Satya menegaskan, defisit tetap harus dijaga agar tidak melewati 2,3 persen sesuai dengan Undang-Undang.
"Jadi dia (Pemerintah) mesti ngotak-ngatik dari neraca," ujar Anggota Banggar, Satya W Yudha di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (15/10/2012).
Menurutnya, pemerintah dapat realokasikan anggaran dari beberapa sektor. Misalnya, dari sisa anggaran yang berlebih yang sempat dipaparkan pada pembahasan APBN P 2012. "Kan nantinya akibat dari penyerapan masing-masing departmen," ucapnya.
Selain itu, ada penambahan dari berkurangnya pemakaian terhadap penambahan subsidi yang sebesar 4,04 juta KL. Satya menilai ini cukup menambah dari anggaran yang dibutuhkan.
"Jadi dari 44,04 juta KL itu kan dipakai cuma 43,5 juta KL, berarti ada sisa, walapun kecil lah, tapi itu kan bisa lebih dari pada Rp2 triliun, karena satu juta KL aja disparitas Rp4.500 itu berarti sudah Rp4,5 triliun, jadi klo berbeda setengah juta KL, itu sudah Rp2,25 triliun," papar Satya.
Kemudian, Satya juga menyebutkan efisiensi listrik. Seperti susut jaringan yang rendah dan akselerasi proyek 10.000 MW. Misalkan proyek di 2013 ada yang beberapa bisa ditarik di 2012, dan itu juga mengurangi beban BBM yang haru dikeluarkan konsumsi sampai akhir tahun.
"Efisiensi bisa dari mana saja, kalau bisa meningkatkan pendapatan pajak, kan kita gak ngerti kan, terus renegosiasi dari kontrak dari yang ada di SDA ya begitu selesai 2012 dan aktif itu kan juga upaya," tambah Satya.
Akan tetapi, Satya menegaskan, defisit tetap harus dijaga agar tidak melewati 2,3 persen sesuai dengan Undang-Undang.
(gpr)
Lihat Juga :