Penurunan BK CPO Malaysia rugikan Indonesia
Selasa, 16 Oktober 2012 - 15:55 WIB
Penurunan BK CPO Malaysia rugikan Indonesia
A
A
A
Sindonews.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kebijakan penurunan Bea Keluar (BK) Crude Palm Oil (CPO) yang dilakukan pemerintah Malaysia dinilai merugikan Indonesia.
Masalahnya, terdapat perbedaan tarif bea keluar antara ke dua negara tersebut. "Ini berdampak kepada ekspor CPO Indonesia. Kita akan bicara dengan Malaysia. Sekarang ini hasil CPO Indonesia 75 persen diekspor dan gabungan Indonesia Malaysia 80 persen dari total CPO dunia," ungkap Wakil Ketua Kadin, Gandi Sulistiyanto, di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (16/10/2012).
Menurut Gandi, kebijakan yang berbeda jelas akan berdampak pada perdagangan CPO di lingkup ASEAN, dan masalah perbedaan tarif Bea Keluar harus segera diselesaikan. "Kalau dua negara ini memberlakukan tarif yang berbeda akan merugikan ASEAN secara keseluruhan," kata dia.
Lebih lanjut Gandi menuturkan, dalam waktu dekat ini, Gandi yang mewakili Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) akan bertemu Malaysia untuk bahas hal ini. "Kami (Gapki) juga akan menghadap Mendag dan Menkeu untuk memberikan masukan tentang kompetisi dengan Malaysia ini, agar tidak saling mendahului," katanya.
"Persoalan ini kan persoalan kompetisi dan Malaysia juga harus sadar sebagian besar kebunnya ada di sini. Itu harus jadi pertimbangan Malaysia juga," tukas Gandi.
Masalahnya, terdapat perbedaan tarif bea keluar antara ke dua negara tersebut. "Ini berdampak kepada ekspor CPO Indonesia. Kita akan bicara dengan Malaysia. Sekarang ini hasil CPO Indonesia 75 persen diekspor dan gabungan Indonesia Malaysia 80 persen dari total CPO dunia," ungkap Wakil Ketua Kadin, Gandi Sulistiyanto, di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (16/10/2012).
Menurut Gandi, kebijakan yang berbeda jelas akan berdampak pada perdagangan CPO di lingkup ASEAN, dan masalah perbedaan tarif Bea Keluar harus segera diselesaikan. "Kalau dua negara ini memberlakukan tarif yang berbeda akan merugikan ASEAN secara keseluruhan," kata dia.
Lebih lanjut Gandi menuturkan, dalam waktu dekat ini, Gandi yang mewakili Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) akan bertemu Malaysia untuk bahas hal ini. "Kami (Gapki) juga akan menghadap Mendag dan Menkeu untuk memberikan masukan tentang kompetisi dengan Malaysia ini, agar tidak saling mendahului," katanya.
"Persoalan ini kan persoalan kompetisi dan Malaysia juga harus sadar sebagian besar kebunnya ada di sini. Itu harus jadi pertimbangan Malaysia juga," tukas Gandi.
(gpr)
Lihat Juga :