Bantuan budidaya rumput laut Majene disetop
Rabu, 17 Oktober 2012 - 12:00 WIB
Bantuan budidaya rumput laut Majene disetop
A
A
A
Sindonews.com - Kondisi alam dan gelombang tinggi di perairan laut Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), menjadi salah satu penghambat komoditas rumput laut di wilayah itu sulit untuk dibudidayakan.
Hal tersebut diakui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Majene, Fadlil Rasyid, saat ditanya mengenai potensi komoditas rumput laut di daerah itu.
“Saya akui, kita sulit membudidayakan komoditas rumput laut bagi para nelayan. Karena kondisi alam yang tidak memungkinkan,” ujar Fadlil Rasyid, kepada Sindonews, (Rabu 17/10/2012).
Menurutnya, kondisi alam seperti gelombang laut yang tinggi di perairan laut Majene yang menjadi penghambat sulitnya budidaya rumput laut diakibatkan karena Kabupaten Majene tidak memiliki pulau-pulau seperti daerah lainnya yakni Polman dan Mamuju.
Apalagi jika memasuki musim barat, pengembangan akan semakin sulit karena gelomban laut cukup tinggi. Pada musim itu, pengelolaan rumput laut hanya bisa di lakukan di wilayah Kecamatan Banggai.
Sementara, beberapa daerah lainnya seperti Kecamatan Pamboang, Sendana, Tubo, Malunda sangat sulit karena tidak ada pulau-pulau yang menjadi penghalang ketika terjadi ombak besar. Sebaliknya, jika musim timur, pengelolaan budidaya rumput laut bisa dilakukan.
Fadlil mengaku, ingin memberdayakan masyarakat nelayan di pesisir pantai Majene melalui budidaya rumput laut. Tapi, kondisi yang tidak memungkinkan. “Karena kondisi alam itu, paling kita hanya bisa lakukan sekali dalam satu tahun,” ujar Fadlil.
Sebagai bentuk keseriusan itu, kata Fadlil, DKP telah memberikan bantuan modal usaha kepada sejumlah kelompok untuk mengembangkan usaha rumput laut. Tapi, ternyata sangat sulit dilakukan.
Bantuan terakhir yang telah diberikan sebanyak Rp400 juta untuk budidaya pengembangan rumput laut. Saat itu, ada empat kelompok yang menerima. Masing-masing kelompok mendapatkan Rp100 juta.
“Karena sulitnya hal itu dilakukan, maka tahun ini, tidak ada lagi bantuan seperti itu. Terakhir tahun lalu,” jelas Fadlil.
Hal tersebut diakui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Majene, Fadlil Rasyid, saat ditanya mengenai potensi komoditas rumput laut di daerah itu.
“Saya akui, kita sulit membudidayakan komoditas rumput laut bagi para nelayan. Karena kondisi alam yang tidak memungkinkan,” ujar Fadlil Rasyid, kepada Sindonews, (Rabu 17/10/2012).
Menurutnya, kondisi alam seperti gelombang laut yang tinggi di perairan laut Majene yang menjadi penghambat sulitnya budidaya rumput laut diakibatkan karena Kabupaten Majene tidak memiliki pulau-pulau seperti daerah lainnya yakni Polman dan Mamuju.
Apalagi jika memasuki musim barat, pengembangan akan semakin sulit karena gelomban laut cukup tinggi. Pada musim itu, pengelolaan rumput laut hanya bisa di lakukan di wilayah Kecamatan Banggai.
Sementara, beberapa daerah lainnya seperti Kecamatan Pamboang, Sendana, Tubo, Malunda sangat sulit karena tidak ada pulau-pulau yang menjadi penghalang ketika terjadi ombak besar. Sebaliknya, jika musim timur, pengelolaan budidaya rumput laut bisa dilakukan.
Fadlil mengaku, ingin memberdayakan masyarakat nelayan di pesisir pantai Majene melalui budidaya rumput laut. Tapi, kondisi yang tidak memungkinkan. “Karena kondisi alam itu, paling kita hanya bisa lakukan sekali dalam satu tahun,” ujar Fadlil.
Sebagai bentuk keseriusan itu, kata Fadlil, DKP telah memberikan bantuan modal usaha kepada sejumlah kelompok untuk mengembangkan usaha rumput laut. Tapi, ternyata sangat sulit dilakukan.
Bantuan terakhir yang telah diberikan sebanyak Rp400 juta untuk budidaya pengembangan rumput laut. Saat itu, ada empat kelompok yang menerima. Masing-masing kelompok mendapatkan Rp100 juta.
“Karena sulitnya hal itu dilakukan, maka tahun ini, tidak ada lagi bantuan seperti itu. Terakhir tahun lalu,” jelas Fadlil.
(gpr)
Lihat Juga :