APRDI : Pemahaman masyarakat soal reksa dana minim
Kamis, 18 Oktober 2012 - 13:27 WIB
APRDI : Pemahaman masyarakat soal reksa dana minim
A
A
A
Sindonews.com - Kandati pertumbuhan reksa dana menunjukkan tren yang terus meningkat, namun lemahnya pemahaman masyarakat mengenai reksa dana sebagai salah satu instrumen investasi masa depan masih menjadi hambatan utama penetrasi reksa dana ke masyarakat.
Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto menyebutkan, saat ini total dana kelolaan reksa dana sekitar Rp175 triliun dari jumlah investor sebanyak 161 ribu orang. Jumlah investor tersebut tidak sebanding dengan jumlah kelas menengah Indonesia. Padahal, berdasarkan survei McKinsey Global Institute, jumlah kelas menangah di Tanah Air mencapai 45 juta orang.
"Rendahnya penetrasi reksa dana juga menunjukan bahwa kita belum menjadi masyarakat yang memikirkan masa depan dan berpikir jangka panjang," ujar Abi dalam acara Pekan Reksa Dana Nasional di Central Park Mall, Jakarta, Kamis (17/10/2012).
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutuf Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida mengungkapkan, model bisnis reksa dana merupakan model bisnis yang pertumbuhannya sangat bergantung pada kepercayaan nasabah.
Karena itu, untuk menjamin pertumbuhan di industri reksa dana bisa mencapai taget yang diharapkan, perlu ditingkatkan upaya menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi ini. "Bisnis ini binis kepercayaan, bekerja dengan prudentdan memperhatikan risk management," lanjut Nurhaida.
Dari sisi manager investasi sendiri, diharapkan mampu terus berinovasi menciptakan instrumen-instrumen baru, sehingga pertumbuhan investor di masa depan dapat terakomodasi dengan baik.
"Kalau dilihat dari kompossisinya, perkembangan (reksa dana) sudah sangat baik. Hanya saja, produk harus lebih banyak. Investor lebih banyak, kalau produknya tidak lengkap nanti tidak terserap," katanya.
Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto menyebutkan, saat ini total dana kelolaan reksa dana sekitar Rp175 triliun dari jumlah investor sebanyak 161 ribu orang. Jumlah investor tersebut tidak sebanding dengan jumlah kelas menengah Indonesia. Padahal, berdasarkan survei McKinsey Global Institute, jumlah kelas menangah di Tanah Air mencapai 45 juta orang.
"Rendahnya penetrasi reksa dana juga menunjukan bahwa kita belum menjadi masyarakat yang memikirkan masa depan dan berpikir jangka panjang," ujar Abi dalam acara Pekan Reksa Dana Nasional di Central Park Mall, Jakarta, Kamis (17/10/2012).
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutuf Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida mengungkapkan, model bisnis reksa dana merupakan model bisnis yang pertumbuhannya sangat bergantung pada kepercayaan nasabah.
Karena itu, untuk menjamin pertumbuhan di industri reksa dana bisa mencapai taget yang diharapkan, perlu ditingkatkan upaya menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi ini. "Bisnis ini binis kepercayaan, bekerja dengan prudentdan memperhatikan risk management," lanjut Nurhaida.
Dari sisi manager investasi sendiri, diharapkan mampu terus berinovasi menciptakan instrumen-instrumen baru, sehingga pertumbuhan investor di masa depan dapat terakomodasi dengan baik.
"Kalau dilihat dari kompossisinya, perkembangan (reksa dana) sudah sangat baik. Hanya saja, produk harus lebih banyak. Investor lebih banyak, kalau produknya tidak lengkap nanti tidak terserap," katanya.
(rna)
Lihat Juga :