Koper Jadi Ukuran Baru Kenyamanan, Piece Concept Mulai Dibicarakan Penumpang RI
Rabu, 08 Juli 2026 - 18:13 WIB
loading...
Pembahasan mengenai konsep bagasi berbasis jumlah koper atau one piece baggage allowance mulai menarik perhatian. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Perjalanan udara hari ini tidak lagi hanya soal harga tiket dan jadwal penerbangan. Bagi banyak penumpang pesawat , pengalaman terbang sudah dimulai sejak mereka merencanakan perjalanannya termasuk apa saja yang akan dibawa, berapa koper yang perlu disiapkan, hingga apakah bagasi mereka akan cukup saat tiba di bandara.
Dalam konteks itu, pembahasan mengenai konsep bagasi berbasis jumlah koper atau one piece baggage allowance mulai menarik perhatian. Isu ini mengemuka seiring perubahan pola perjalanan masyarakat, terutama ketika aktivitas wisata, perjalanan keluarga, perjalanan kerja jarak jauh, hingga kebiasaan membawa oleh-oleh semakin menjadi bagian dari pengalaman bepergian.
Selama ini, sebagian besar penumpang lebih familiar dengan konsep bagasi berbasis berat total. Namun, dalam praktiknya, pendekatan tersebut tidak selalu sederhana bagi semua orang. Banyak penumpang harus menghitung ulang isi koper, membagi barang bawaan, atau menyesuaikan berat secara mendadak di area check-in. Situasi ini kerap menimbulkan pertanyaan sederhana: apakah aturan bagasi akan lebih mudah dipahami jika yang dihitung bukan hanya kilogram, tetapi juga jumlah koper? Baca juga: Maskapai Wajib Pakai Avtur Campuran Minyak Nabati 1% Mulai 2027, Apa Efeknya ke Harga Tiket
Pertanyaan semacam itu juga mulai muncul dalam percakapan netizen di Threads. Diskusinya tidak hanya berkutat pada “berapa kilogram jatah bagasi”, tetapi bergerak ke arah yang lebih praktis: bagaimana membuat perjalanan lebih pasti, lebih mudah direncanakan, dan lebih minim kebingungan sejak sebelum berangkat ke bandara.
Sejumlah netizen menilai konsep berbasis jumlah koper terasa lebih relevan dengan cara orang bepergian saat ini. Penumpang tidak hanya membawa barang dalam satu tas besar, tetapi sering kali membagi kebutuhan perjalanan ke dalam beberapa koper atau koli, terutama untuk perjalanan keluarga, perjalanan panjang, maupun perjalanan wisata. Di sisi lain, ada pula yang menyoroti pentingnya sosialisasi yang jelas agar perubahan kebijakan tidak menimbulkan salah persepsi.
Dari sudut pandang industri, wacana ini juga dinilai layak dikaji. Pengamat transportasi udara Gatot Raharjo menilai tren global menunjukkan pengaturan bagasi tidak lagi hanya berbicara mengenai total berat, tetapi juga mengenai kepastian jumlah koper dengan batas berat tertentu per koper. ”Pendekatan seperti ini berpotensi memberikan pemahaman yang lebih sederhana bagi penumpang karena sejak awal mereka mengetahui berapa koper yang dapat dibawa dan berapa batas berat masing-masing koper,” katanya, Rabu (8/7/2026).
Hal senada juga terlihat dari pandangan pelaku industri perjalanan. Ketua Umum Association of Indonesian Tours & Travel Agencies ( ASITA ), Rusmiati, menilai konsep one piece baggage allowance dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan maskapai. Terutama jika implementasinya mampu menjawab kebutuhan penumpang jarak jauh atau mereka yang melakukan perjalanan dengan durasi lebih panjang.
Namun, penerapan konsep ini tentu tidak bisa dilihat hanya dari sisi penumpang. Ada aspek operasional yang perlu dihitung secara matang, mulai dari proses check-in, pemilahan bagasi, pemuatan ke pesawat, penanganan oleh ground handling, hingga dampaknya terhadap efisiensi biaya dan keselamatan operasional. ”Karena itu, diskusi mengenai piece concept sebaiknya ditempatkan bukan sebagai perubahan teknis semata, melainkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengalaman terbang secara menyeluruh,” ujarnya.
Dalam konteks itu, pembahasan mengenai konsep bagasi berbasis jumlah koper atau one piece baggage allowance mulai menarik perhatian. Isu ini mengemuka seiring perubahan pola perjalanan masyarakat, terutama ketika aktivitas wisata, perjalanan keluarga, perjalanan kerja jarak jauh, hingga kebiasaan membawa oleh-oleh semakin menjadi bagian dari pengalaman bepergian.
Selama ini, sebagian besar penumpang lebih familiar dengan konsep bagasi berbasis berat total. Namun, dalam praktiknya, pendekatan tersebut tidak selalu sederhana bagi semua orang. Banyak penumpang harus menghitung ulang isi koper, membagi barang bawaan, atau menyesuaikan berat secara mendadak di area check-in. Situasi ini kerap menimbulkan pertanyaan sederhana: apakah aturan bagasi akan lebih mudah dipahami jika yang dihitung bukan hanya kilogram, tetapi juga jumlah koper? Baca juga: Maskapai Wajib Pakai Avtur Campuran Minyak Nabati 1% Mulai 2027, Apa Efeknya ke Harga Tiket
Pertanyaan semacam itu juga mulai muncul dalam percakapan netizen di Threads. Diskusinya tidak hanya berkutat pada “berapa kilogram jatah bagasi”, tetapi bergerak ke arah yang lebih praktis: bagaimana membuat perjalanan lebih pasti, lebih mudah direncanakan, dan lebih minim kebingungan sejak sebelum berangkat ke bandara.
Sejumlah netizen menilai konsep berbasis jumlah koper terasa lebih relevan dengan cara orang bepergian saat ini. Penumpang tidak hanya membawa barang dalam satu tas besar, tetapi sering kali membagi kebutuhan perjalanan ke dalam beberapa koper atau koli, terutama untuk perjalanan keluarga, perjalanan panjang, maupun perjalanan wisata. Di sisi lain, ada pula yang menyoroti pentingnya sosialisasi yang jelas agar perubahan kebijakan tidak menimbulkan salah persepsi.
Dari sudut pandang industri, wacana ini juga dinilai layak dikaji. Pengamat transportasi udara Gatot Raharjo menilai tren global menunjukkan pengaturan bagasi tidak lagi hanya berbicara mengenai total berat, tetapi juga mengenai kepastian jumlah koper dengan batas berat tertentu per koper. ”Pendekatan seperti ini berpotensi memberikan pemahaman yang lebih sederhana bagi penumpang karena sejak awal mereka mengetahui berapa koper yang dapat dibawa dan berapa batas berat masing-masing koper,” katanya, Rabu (8/7/2026).
Hal senada juga terlihat dari pandangan pelaku industri perjalanan. Ketua Umum Association of Indonesian Tours & Travel Agencies ( ASITA ), Rusmiati, menilai konsep one piece baggage allowance dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan maskapai. Terutama jika implementasinya mampu menjawab kebutuhan penumpang jarak jauh atau mereka yang melakukan perjalanan dengan durasi lebih panjang.
Namun, penerapan konsep ini tentu tidak bisa dilihat hanya dari sisi penumpang. Ada aspek operasional yang perlu dihitung secara matang, mulai dari proses check-in, pemilahan bagasi, pemuatan ke pesawat, penanganan oleh ground handling, hingga dampaknya terhadap efisiensi biaya dan keselamatan operasional. ”Karena itu, diskusi mengenai piece concept sebaiknya ditempatkan bukan sebagai perubahan teknis semata, melainkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengalaman terbang secara menyeluruh,” ujarnya.
Lihat Juga :