Kredit KPR di Jabar capai Rp803,2 M
Jum'at, 19 Oktober 2012 - 17:12 WIB
Kredit KPR di Jabar capai Rp803,2 M
A
A
A
Sindonews.com - Selama periode Januari-Agustus 2012, nilai pinjaman Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di Jawa Barat mencapai Rp803,2 miliar, tumbuh sekitar 5,2 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp763 miliar.
Kepala Divisi Kajian Ekonomi Bank Indonesia wilayah VI Jabar dan Banten Rahmat Dwisaputra mengatakan, walaupun selama semester pertama 2012 penjualan rumah untuk masyarakat berpenghasailan rendah (MBR) dibayang-bayangi ketidakpastian, namun kredit perumahan di Jabar tercatat meningkat, yaitu KPR untuk Perumnas, perumahan sampai dengan tipe 21, tipe 21-70 dan rumah besar di atas tipe 70.
“Selama periode Januari-Agustus 2012, KPR di Jabar naik 5,2 persen dari Rp763 miliar di Agustus 2011 menjadi Rp803,2 miliar di Agustus 2012,” tandas Kepala Divisi Kajian Ekonomi Bank Indonesia wilayah VI Jabar dan Banten Rahmat Dwisaputra di Bandung, Jumat (19/10/2012).
Kredit Perumnas tercatat mengalami pertumbuhan signifikan, yaitu dari Rp198,2 miliar menjadi Rp240,3 miliar di Agustus 2012 atau tumbuh 21 persen.
Pertumbuhan kredit perumahan di luar Perumnas juga cukup mencengangkan. Bank Indonesia mencatat, KPR untuk perumahan di bawah tipe 21 tumbuh 104,9 persen, yaitu dari Rp5,7 miliar menjadi Rp11,8 miliar. Pertumbuhan kredit pada sektor tersebut menunjukkan peningkatan kepemilikan rumah oleh MBR.
Selain pada Perumnas dan rumah tipe di bawah 21, KPR untuk perumahan besar (di atas tipe 70) juga mengalami peningkatan. Pada periode Agustus 2011 Rp372,7 miliar menjadi Rp401,2 miliar di periode yang sama tahun ini. “Pertumbuhan kredit perumahan di Jabar menunjukkan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat Jawa Barat,” tandas dia.
Itu karena tingginya minat masyarakat memiliki rumah melalui fasilitas KPR berbanding dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan terus membaik sampai akhir tahun 2012. Kondisi tersebut dipastikan akan menaikkan penjualan properti di Jabar.
“Tahun depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kita di angka 6,5 persen. Kondisi itupun akan berdampak positif terhadap penjualan properti di Jabar,” tandas dia.
Walaupun KPR untuk tipe tertentu mengalami kenaikan, namun BI mencatat adanya pelambatan KPR pada perumahan tipe 22 sampai tipe 70. Pada Agustus 2011, KPR perbankan mencapai Rp186,8 miliar dan turun menjadi Rp150 miliar pada periode yang sama tahun ini. Penurunan tersebut diperkirakan akibat diberlakukannya batasan uang muka minimal 30 persen untuk kepemilikan perumahan.
“Pembatasan uang muka minimal 30 persen adalah upaya kami menjaga stabilitas kredit perumahan. Saat ini, kredit macet (non performing loan) di Jabar masih di bawah 5 persen. Ini masih cukup baik,” imbuh dia.
Kepala Divisi Kajian Ekonomi Bank Indonesia wilayah VI Jabar dan Banten Rahmat Dwisaputra mengatakan, walaupun selama semester pertama 2012 penjualan rumah untuk masyarakat berpenghasailan rendah (MBR) dibayang-bayangi ketidakpastian, namun kredit perumahan di Jabar tercatat meningkat, yaitu KPR untuk Perumnas, perumahan sampai dengan tipe 21, tipe 21-70 dan rumah besar di atas tipe 70.
“Selama periode Januari-Agustus 2012, KPR di Jabar naik 5,2 persen dari Rp763 miliar di Agustus 2011 menjadi Rp803,2 miliar di Agustus 2012,” tandas Kepala Divisi Kajian Ekonomi Bank Indonesia wilayah VI Jabar dan Banten Rahmat Dwisaputra di Bandung, Jumat (19/10/2012).
Kredit Perumnas tercatat mengalami pertumbuhan signifikan, yaitu dari Rp198,2 miliar menjadi Rp240,3 miliar di Agustus 2012 atau tumbuh 21 persen.
Pertumbuhan kredit perumahan di luar Perumnas juga cukup mencengangkan. Bank Indonesia mencatat, KPR untuk perumahan di bawah tipe 21 tumbuh 104,9 persen, yaitu dari Rp5,7 miliar menjadi Rp11,8 miliar. Pertumbuhan kredit pada sektor tersebut menunjukkan peningkatan kepemilikan rumah oleh MBR.
Selain pada Perumnas dan rumah tipe di bawah 21, KPR untuk perumahan besar (di atas tipe 70) juga mengalami peningkatan. Pada periode Agustus 2011 Rp372,7 miliar menjadi Rp401,2 miliar di periode yang sama tahun ini. “Pertumbuhan kredit perumahan di Jabar menunjukkan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat Jawa Barat,” tandas dia.
Itu karena tingginya minat masyarakat memiliki rumah melalui fasilitas KPR berbanding dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan terus membaik sampai akhir tahun 2012. Kondisi tersebut dipastikan akan menaikkan penjualan properti di Jabar.
“Tahun depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kita di angka 6,5 persen. Kondisi itupun akan berdampak positif terhadap penjualan properti di Jabar,” tandas dia.
Walaupun KPR untuk tipe tertentu mengalami kenaikan, namun BI mencatat adanya pelambatan KPR pada perumahan tipe 22 sampai tipe 70. Pada Agustus 2011, KPR perbankan mencapai Rp186,8 miliar dan turun menjadi Rp150 miliar pada periode yang sama tahun ini. Penurunan tersebut diperkirakan akibat diberlakukannya batasan uang muka minimal 30 persen untuk kepemilikan perumahan.
“Pembatasan uang muka minimal 30 persen adalah upaya kami menjaga stabilitas kredit perumahan. Saat ini, kredit macet (non performing loan) di Jabar masih di bawah 5 persen. Ini masih cukup baik,” imbuh dia.
(rna)
Lihat Juga :