BI : Pelemahan rupiah bantu tingkatkan ekspor
Selasa, 23 Oktober 2012 - 16:00 WIB
BI : Pelemahan rupiah bantu tingkatkan ekspor
A
A
A
Sindonews.com - Guna membantu defisit neraca transaksi berjalan (current account), Bank Indonesia (BI) mengaku belum berencana menghentikan pelemahan (depresiasi) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Stabilitas rupiah berdasarkan defisit current account. Ini rupiah perlu agak melemah agar nilai ekspornya terbantu," ujar Direktur Eksekutif Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo, di Jakarta, Selasa (23/10/2012).
Walau pun tetap membatasi intervensi di pasar valuta asing (valas), Bank sentral akan tetap menjaga agar stabilitas nilai tukar rupiah tidak terlalu berfluktuasi. Pasalnya, lanjut dia, saat ini kondisi perekonomian global yang melambat membuat defisit transaksi berjalan membengkak pada kuartal kedua, sehingga perlu tindak lanjut kebijakan.
BI sendiri telah mencatat transaksi berjalan pada triwulan II tahun 2012 mengalami defisit sebesar USD6,9 miliar atau 3,1 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibanding USD3,2 miliar atau 1,5 persen dari PDB pada triwulan satu 2012.
Sementara defisit transaksi berjalan pada triwulan III lebih rendah dari kuartal sebelumnya atau hanya 2,6 persen dari PDB.
"Neraca perdagangan terus membaik. Impor menurun, antara lain disebabkan oleh pergerakan nilai tukar yang cenderung mengalami depresiasi. Selama triwulan tiga 2012, tekanan depresiasi pada rupiah masih berlanjut namun dengan intensitas yang lebih rendah," tandasnya.
"Stabilitas rupiah berdasarkan defisit current account. Ini rupiah perlu agak melemah agar nilai ekspornya terbantu," ujar Direktur Eksekutif Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo, di Jakarta, Selasa (23/10/2012).
Walau pun tetap membatasi intervensi di pasar valuta asing (valas), Bank sentral akan tetap menjaga agar stabilitas nilai tukar rupiah tidak terlalu berfluktuasi. Pasalnya, lanjut dia, saat ini kondisi perekonomian global yang melambat membuat defisit transaksi berjalan membengkak pada kuartal kedua, sehingga perlu tindak lanjut kebijakan.
BI sendiri telah mencatat transaksi berjalan pada triwulan II tahun 2012 mengalami defisit sebesar USD6,9 miliar atau 3,1 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibanding USD3,2 miliar atau 1,5 persen dari PDB pada triwulan satu 2012.
Sementara defisit transaksi berjalan pada triwulan III lebih rendah dari kuartal sebelumnya atau hanya 2,6 persen dari PDB.
"Neraca perdagangan terus membaik. Impor menurun, antara lain disebabkan oleh pergerakan nilai tukar yang cenderung mengalami depresiasi. Selama triwulan tiga 2012, tekanan depresiasi pada rupiah masih berlanjut namun dengan intensitas yang lebih rendah," tandasnya.
(rna)