Pemerintah pulangkan 2.000 TKI overstay
Selasa, 23 Oktober 2012 - 16:41 WIB
Pemerintah pulangkan 2.000 TKI overstay
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah memulangkan ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) overstay di Arab Saudi pada musim Haji tahun ini. Dari ribuan TKI itu, sekitar 2.000 TKI berasal dari Jawa Barat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat Hening Widiyatmoko mengakui, pada musim haji tahun ini, pihaknya memanfaatkan pesawat angkutan haji untuk memulangkan TKI yang overstay dari Arab Saudi.
"Data pasti TKI asal Jabar yang dipulangkan masih belum jelas. Tapi diperkirakan bisa mencapai 2000 orang lebih," jelas Hening kepada wartawan di sela-sela pisah sambut Kepala Kanwil Jamsostek Jabar di Hotel Aston, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Selasa (23/10/2012).
Menurut dia, pemulangan TKI dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri, sehingga pihaknya belum mendapat kepastian jumlah TKI yang dipulangkan. Begitupun dengan TKI asal Jabar. "Kami belum mendapat informasi berapa TKI asal Jabar yang dipulangkan," kata dia.
Diakui, pihaknya juga tidak memiliki data TKI yang overstay. Hal itu disebabkan, sebagian TKI tidak selalu berangkat dari Jabar. Sebagian besar TKI menggunakan data atau KTP Jakarta, sehingga Disnakertrans Jabar kesusahan mendapatkan faliditas TKI Jabar yang overstay.
Salah satu cara yang bisa dilakukan Disnakertrans Jabar, yaitu menjalin koordinasi dengan BNP2TKI. Koordinasi dengan lembaga tersebut diharapkan memberikan titik terang terkait jumlah TKI yang bermasalah dari Jabar, terutama TKI yang bermasalah dengan izin tinggal.
Saat ini, upaya yang dilakukan Disnakertrans Jabar, yaitu membereskan masalah dokumen dan prosedur keberangkatan tenaga kerja ke luar negeri agar mendaftarkan di daerah asal masing-masing.
"Dengan upaya itu, diharapkan daerah memiliki dokumen TKI yang berangkat. Karena biasanya, apabila nanti mereka bermasalah, kami ikut disalahkan. Padahal, prosedur keberangkatan mereka bermasalah sejak awal. Kasus itu kerap terjadi," jelas dia.
Menurut Hening, Jabar merupakan pengirim TKI terbesar di Indonesia. Disusul TKI dari NTB dan NTT. Beberapa daerah yang menjadi kantong TKI di Jabar seperti Cianjur, kawasan Pantura, dan Jabar Selatan.
Lebih lanjut Hening menjelaskan, proses pemulangan TKI bermasalah menggunakan pesawat pengangkut jemaah haji sangat efektif. Upaya tersebut dapat mengurangi jumlah TKI bermasalah di negeri Timur Tengah. Pemulangan itu, juga meminimalisir biaya pemulangan.
Walaupun ada upaya pemulangan, lanjut Hening, pihaknya juga mesti mewaspadai jemaah haji yang langsung bekerja di Arab Saudi. Mereka tinggal tanpa ada bekal kemampuan. Tindakan itu biasanya dilakukan oleh jemaah haji reguler. Mereka memaksa untuk terus tinggal sambil mencari pekerjaan. Biasanya mereka memiliki teman atau kerabat yang bekerja atau bermukim di sana.
"Ada jamaah haji ada yang langsung bermukim dan tinggal di sana, mencari pekerjaan. Mereka yang potensial menjadi TKI overstay. Kasus itu selalu ada, mereka tidak pulang ke tanah air saat yang lainnya kembali ke tanah air," timpal Hening.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat Hening Widiyatmoko mengakui, pada musim haji tahun ini, pihaknya memanfaatkan pesawat angkutan haji untuk memulangkan TKI yang overstay dari Arab Saudi.
"Data pasti TKI asal Jabar yang dipulangkan masih belum jelas. Tapi diperkirakan bisa mencapai 2000 orang lebih," jelas Hening kepada wartawan di sela-sela pisah sambut Kepala Kanwil Jamsostek Jabar di Hotel Aston, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Selasa (23/10/2012).
Menurut dia, pemulangan TKI dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri, sehingga pihaknya belum mendapat kepastian jumlah TKI yang dipulangkan. Begitupun dengan TKI asal Jabar. "Kami belum mendapat informasi berapa TKI asal Jabar yang dipulangkan," kata dia.
Diakui, pihaknya juga tidak memiliki data TKI yang overstay. Hal itu disebabkan, sebagian TKI tidak selalu berangkat dari Jabar. Sebagian besar TKI menggunakan data atau KTP Jakarta, sehingga Disnakertrans Jabar kesusahan mendapatkan faliditas TKI Jabar yang overstay.
Salah satu cara yang bisa dilakukan Disnakertrans Jabar, yaitu menjalin koordinasi dengan BNP2TKI. Koordinasi dengan lembaga tersebut diharapkan memberikan titik terang terkait jumlah TKI yang bermasalah dari Jabar, terutama TKI yang bermasalah dengan izin tinggal.
Saat ini, upaya yang dilakukan Disnakertrans Jabar, yaitu membereskan masalah dokumen dan prosedur keberangkatan tenaga kerja ke luar negeri agar mendaftarkan di daerah asal masing-masing.
"Dengan upaya itu, diharapkan daerah memiliki dokumen TKI yang berangkat. Karena biasanya, apabila nanti mereka bermasalah, kami ikut disalahkan. Padahal, prosedur keberangkatan mereka bermasalah sejak awal. Kasus itu kerap terjadi," jelas dia.
Menurut Hening, Jabar merupakan pengirim TKI terbesar di Indonesia. Disusul TKI dari NTB dan NTT. Beberapa daerah yang menjadi kantong TKI di Jabar seperti Cianjur, kawasan Pantura, dan Jabar Selatan.
Lebih lanjut Hening menjelaskan, proses pemulangan TKI bermasalah menggunakan pesawat pengangkut jemaah haji sangat efektif. Upaya tersebut dapat mengurangi jumlah TKI bermasalah di negeri Timur Tengah. Pemulangan itu, juga meminimalisir biaya pemulangan.
Walaupun ada upaya pemulangan, lanjut Hening, pihaknya juga mesti mewaspadai jemaah haji yang langsung bekerja di Arab Saudi. Mereka tinggal tanpa ada bekal kemampuan. Tindakan itu biasanya dilakukan oleh jemaah haji reguler. Mereka memaksa untuk terus tinggal sambil mencari pekerjaan. Biasanya mereka memiliki teman atau kerabat yang bekerja atau bermukim di sana.
"Ada jamaah haji ada yang langsung bermukim dan tinggal di sana, mencari pekerjaan. Mereka yang potensial menjadi TKI overstay. Kasus itu selalu ada, mereka tidak pulang ke tanah air saat yang lainnya kembali ke tanah air," timpal Hening.
(rna)
Lihat Juga :