Bank tak sentuh 92% usaha mikro
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 12:37 WIB
Bank tak sentuh 92% usaha mikro
A
A
A
Sindonews.com - Sektor usaha di Tanah Air, sebanyak 92 persen didominasi usaha mikro. Sayangnya, sektor ini sulit berkembang lantaran masih terkendala akses pemodalan dan perbankan.
Padahal usaha mikro banyak menciptakan lapangan kerja untuk memberantas kemiskinan dan pengangguran.
General Secretary Gerakan Bersama Pengembangan KeuanganMikro( GemaPKM) Indonesia Bambang Ismawan mengungkapkan usaha mikro yang ada diIndonesia jumlahnya lebih dari 51 juta unit. Hanya sekitar 20 persen yang sudah terjangkau layanan keuangan dan perbankan.
“Perlu terobosan agar mereka mudah mendapat akses perbankan karena jumlahnya mencapai 92 persen dari sektor usaha yang ada di Indonesia,” kata Bambang pada penutupan Temu Nasional ke-IV Keuangan Mikro, Kamis (25/10) di Hotel UNY Yogyakarta.
Sektor usaha mikro sangatlah vital dalam mendukung perekonomian nasional. Sebab, mereka banyak menciptakan lapangan kerja dan pengangguran. Bahkan tidak sedikit pekerja pada sektor ini menjadi tumpuan hidup sekitar 200 juta warga.
Bambang mengaku prihatin dengan minimnya sektor mikro yang belum tersentuh lembaga keuangan. Kebanyakan pelaku mencari rentenir jika mereka terkendala modal. Meskipun bunganya tinggi, mereka cukup senang karena prosesnya sangat mudah.
“Lembaga keuangan mikro harus bisa belajar karena yang diperlukan pelaku tidak melulu finansial, tapi juga aspek sosial dan budaya,” katanya.
Salah satu contoh yang perlu diikuti adalah aksi jemput bola. Lembaga keuangan mikro jangan hanya duduk di kantor menunggu nasabah, tapi harus turun mencari nasabah. Pada pertemuan kemarin juga disepakati adanya pembentukan lembaga wholesaler atau organisasi Apex.
Sementara modal yang diberikan harus tepat sasaran agar tidak menjadikan masalah baru bagi pelaku usaha mikro.
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DIY Lilik Syaiful Ahmad mengaku sudah mengedukasi pelaku usaha, khususnya yang kecil dan mikro. Hipmi telah banyak memberikan pendampingan dan fasilitasi.
Menurut dia, sektor usaha mikro telah menjadi penopang ekonomi masyarakat DIY. Bahkan cukup ampuh menahan gejolak ekonomi nasional. Meski krisis, usaha mikro masih bisa bertahan dan tetap eksis.
Padahal usaha mikro banyak menciptakan lapangan kerja untuk memberantas kemiskinan dan pengangguran.
General Secretary Gerakan Bersama Pengembangan KeuanganMikro( GemaPKM) Indonesia Bambang Ismawan mengungkapkan usaha mikro yang ada diIndonesia jumlahnya lebih dari 51 juta unit. Hanya sekitar 20 persen yang sudah terjangkau layanan keuangan dan perbankan.
“Perlu terobosan agar mereka mudah mendapat akses perbankan karena jumlahnya mencapai 92 persen dari sektor usaha yang ada di Indonesia,” kata Bambang pada penutupan Temu Nasional ke-IV Keuangan Mikro, Kamis (25/10) di Hotel UNY Yogyakarta.
Sektor usaha mikro sangatlah vital dalam mendukung perekonomian nasional. Sebab, mereka banyak menciptakan lapangan kerja dan pengangguran. Bahkan tidak sedikit pekerja pada sektor ini menjadi tumpuan hidup sekitar 200 juta warga.
Bambang mengaku prihatin dengan minimnya sektor mikro yang belum tersentuh lembaga keuangan. Kebanyakan pelaku mencari rentenir jika mereka terkendala modal. Meskipun bunganya tinggi, mereka cukup senang karena prosesnya sangat mudah.
“Lembaga keuangan mikro harus bisa belajar karena yang diperlukan pelaku tidak melulu finansial, tapi juga aspek sosial dan budaya,” katanya.
Salah satu contoh yang perlu diikuti adalah aksi jemput bola. Lembaga keuangan mikro jangan hanya duduk di kantor menunggu nasabah, tapi harus turun mencari nasabah. Pada pertemuan kemarin juga disepakati adanya pembentukan lembaga wholesaler atau organisasi Apex.
Sementara modal yang diberikan harus tepat sasaran agar tidak menjadikan masalah baru bagi pelaku usaha mikro.
Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DIY Lilik Syaiful Ahmad mengaku sudah mengedukasi pelaku usaha, khususnya yang kecil dan mikro. Hipmi telah banyak memberikan pendampingan dan fasilitasi.
Menurut dia, sektor usaha mikro telah menjadi penopang ekonomi masyarakat DIY. Bahkan cukup ampuh menahan gejolak ekonomi nasional. Meski krisis, usaha mikro masih bisa bertahan dan tetap eksis.
(gpr)
Lihat Juga :