Ekspor industri aneka naik 6%
Rabu, 07 November 2012 - 09:54 WIB
Ekspor industri aneka naik 6%
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah menargetkan nilai ekspor produk industri aneka pada tahun ini mencapai USD6 miliar (sekitar Rp54 triliun), atau tumbuh 6 persen dari tahun lalu, sebesar USD5,66 miliar.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, kontribusi terbesar terhadap total ekspor industri aneka pada tahun lalu dicatat oleh alas kaki yakni sebesar 58,3 persen atau USD3,3 miliar. Sedangkan, 41,7 persen lainnya merupakan kontribusi dari sektor lainnya yakni barang jadi kulit, mainan, alat olahraga,dan alat tulis.
”Alas kaki saat ini masih mendominasi ekspor industri aneka. Pelaku industri alas kaki juga gencar mencari pasar baru,” kata Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto seusai membuka Pameran Produk Industri Aneka 2012 di Jakarta kemarin.
Nilai produksi industri aneka saat ini adalah Rp50,95 triliun dengan utilisasi 59,36 persen. Jumlah industri aneka pada tahun lalu mencapai 1.032 perusahaan yang tersebar di sejumlah daerah, seperi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau,DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Sementara, investasi di industri padat karya hingga saat ini telah mencapai sekitar Rp19,37 triliun, dengan jumlah tenaga kerja 986.314 orang.
Panggah mengatakan, pihaknya terus menggenjot kinerja ekspor industri aneka ke sejumlah negara meski perekonomian dunia saat ini sedang tidak menentu.
Dia menambahkan, pihaknya juga terus mendorong para pelaku industri nasional agar tidak selalu berkutat di pasar tradisional, sehingga aktif mencari pasar baru karena langkah itu bisa mendorong kinerja ekspor.
”Tantangan lainnya adalah memberi nilai positif berupa akses pasar, akses teknologi, investasi, dan peningkatan sumber daya manusia,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Anggota Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton Supit pernah mengatakan, Aprisindo harus merevisi target ekspor tahun depan dari USD5 miliar menjadi USD3 miliar. Hal itu berkaitan dengan kondisi perburuhan akhir-akhir ini.
Menurutnya, karena adanya tindakan anarkistis selama demonstrasi berlangsung, ada satu perusahaan sepatu yang merugi hingga Rp5 miliar. ”Kalau bicara kerugian, sudah Rp1–2 triliun. Implikasinya kepada pajak, tidak bisa bayar pajak karena rugi. Akan ganggu penerimaan negara,” tuturnya.
Dia menambahkan, saat ini Myanmar sedang menjadi sorotan para investor karena dinilai lebih menarik dibandingkan Indonesia. Para investor, baik lokal maupun asing, sangat mementingkan faktor kepastian hukum di lokasi investasi.
Ketika para investor di sektor alas kaki dan garmen memutuskan untuk hengkang dari suatu negara, maka menurutnya, mereka tidak akan kembali lagi ke negara itu.
”Pendatang baru sudah siap investasi dan yang mau ekspansi di dalam negeri akhirnya mengurungkan niatnya. Saya pertanyakan tiga pro Presiden SBY yang selama ini dinyatakan itu ada di mana saat ini,” cetusnya.
Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto membenarkan bahwa kondisi perburuhan akhirakhir ini dinilai sangat mengganggu keberlangsungan industri.
Namun, hingga saat ini Kemenperin belum menerima laporan perusahaan yang ingin relokasi atau hengkang dari Indonesia. ”Tapi ini harus menjadi tanggung jawab bersama agar tidak berlarut-larut. Kalau nanti sampai ada pabrik yang tutup, relokasi, yang sulit adalah keseluruhan dari kita,” kata Panggah.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, kontribusi terbesar terhadap total ekspor industri aneka pada tahun lalu dicatat oleh alas kaki yakni sebesar 58,3 persen atau USD3,3 miliar. Sedangkan, 41,7 persen lainnya merupakan kontribusi dari sektor lainnya yakni barang jadi kulit, mainan, alat olahraga,dan alat tulis.
”Alas kaki saat ini masih mendominasi ekspor industri aneka. Pelaku industri alas kaki juga gencar mencari pasar baru,” kata Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto seusai membuka Pameran Produk Industri Aneka 2012 di Jakarta kemarin.
Nilai produksi industri aneka saat ini adalah Rp50,95 triliun dengan utilisasi 59,36 persen. Jumlah industri aneka pada tahun lalu mencapai 1.032 perusahaan yang tersebar di sejumlah daerah, seperi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau,DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Sementara, investasi di industri padat karya hingga saat ini telah mencapai sekitar Rp19,37 triliun, dengan jumlah tenaga kerja 986.314 orang.
Panggah mengatakan, pihaknya terus menggenjot kinerja ekspor industri aneka ke sejumlah negara meski perekonomian dunia saat ini sedang tidak menentu.
Dia menambahkan, pihaknya juga terus mendorong para pelaku industri nasional agar tidak selalu berkutat di pasar tradisional, sehingga aktif mencari pasar baru karena langkah itu bisa mendorong kinerja ekspor.
”Tantangan lainnya adalah memberi nilai positif berupa akses pasar, akses teknologi, investasi, dan peningkatan sumber daya manusia,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Anggota Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton Supit pernah mengatakan, Aprisindo harus merevisi target ekspor tahun depan dari USD5 miliar menjadi USD3 miliar. Hal itu berkaitan dengan kondisi perburuhan akhir-akhir ini.
Menurutnya, karena adanya tindakan anarkistis selama demonstrasi berlangsung, ada satu perusahaan sepatu yang merugi hingga Rp5 miliar. ”Kalau bicara kerugian, sudah Rp1–2 triliun. Implikasinya kepada pajak, tidak bisa bayar pajak karena rugi. Akan ganggu penerimaan negara,” tuturnya.
Dia menambahkan, saat ini Myanmar sedang menjadi sorotan para investor karena dinilai lebih menarik dibandingkan Indonesia. Para investor, baik lokal maupun asing, sangat mementingkan faktor kepastian hukum di lokasi investasi.
Ketika para investor di sektor alas kaki dan garmen memutuskan untuk hengkang dari suatu negara, maka menurutnya, mereka tidak akan kembali lagi ke negara itu.
”Pendatang baru sudah siap investasi dan yang mau ekspansi di dalam negeri akhirnya mengurungkan niatnya. Saya pertanyakan tiga pro Presiden SBY yang selama ini dinyatakan itu ada di mana saat ini,” cetusnya.
Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto membenarkan bahwa kondisi perburuhan akhirakhir ini dinilai sangat mengganggu keberlangsungan industri.
Namun, hingga saat ini Kemenperin belum menerima laporan perusahaan yang ingin relokasi atau hengkang dari Indonesia. ”Tapi ini harus menjadi tanggung jawab bersama agar tidak berlarut-larut. Kalau nanti sampai ada pabrik yang tutup, relokasi, yang sulit adalah keseluruhan dari kita,” kata Panggah.
(gpr)
Lihat Juga :