Latinusa catat rugi bersih Rp44,3 M
Kamis, 08 November 2012 - 17:52 WIB
Latinusa catat rugi bersih Rp44,3 M
A
A
A
Sindonews.com - PT Pelat Timah Nusantara Tbk (Latinusa) mencatatkan kerugian sebesar Rp44,3 miliar pada kuartal III (Q3) tahun ini. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, emiten industri kemasan ini membukukan laba bersih senilai Rp13,2 miliar.
Laba kotor perseroan turun dari Rp88,8 miliar pada kuartal III tahun lalu menjadi Rp65 miliar pada periode yang sama tahun ini. Turunnya laba perseroan seiring menurunnya penjualan bersih dari Rp998 miliar pada kuartal III/2011 menjadi Rp958 miliar pada kuartal III/2012.
Direktur Komersial Latinusa, Suprapto, menjelaskan kerugian tersebut diakibatkan penurunan harga jual hasil produksi perseroan berupa kemasan kaleng, yang merupakan imbas dari melemahnya harga baja di pasar dunia.
"Karena kan produksi kita untuk ekspor itu 50 persen, sisanya itu impor, makanya kita harus mengikuti harga jual," ujar Suprapto di Hotel Grand Melia, Jakarta, Kamis (8/11/2012).
Sementara itu, dari konsumen yang umumnya merupakan produsen makanan sendiri, beberapa di antaranya diketahui memiliki fasilitas BKPN.
"Jadi meraka bila ekpansi lebih dari 30 persen, maka pajak masuknya bisa jadi 0 persen. Selain itu, adanya kerja sama Indonesia dengan Korea di 2012 dengan bea masuk 0 persen tin plate membuat harga jual tertekan dan penjualan mengalami penurunan," sambung dia.
Laba kotor perseroan turun dari Rp88,8 miliar pada kuartal III tahun lalu menjadi Rp65 miliar pada periode yang sama tahun ini. Turunnya laba perseroan seiring menurunnya penjualan bersih dari Rp998 miliar pada kuartal III/2011 menjadi Rp958 miliar pada kuartal III/2012.
Direktur Komersial Latinusa, Suprapto, menjelaskan kerugian tersebut diakibatkan penurunan harga jual hasil produksi perseroan berupa kemasan kaleng, yang merupakan imbas dari melemahnya harga baja di pasar dunia.
"Karena kan produksi kita untuk ekspor itu 50 persen, sisanya itu impor, makanya kita harus mengikuti harga jual," ujar Suprapto di Hotel Grand Melia, Jakarta, Kamis (8/11/2012).
Sementara itu, dari konsumen yang umumnya merupakan produsen makanan sendiri, beberapa di antaranya diketahui memiliki fasilitas BKPN.
"Jadi meraka bila ekpansi lebih dari 30 persen, maka pajak masuknya bisa jadi 0 persen. Selain itu, adanya kerja sama Indonesia dengan Korea di 2012 dengan bea masuk 0 persen tin plate membuat harga jual tertekan dan penjualan mengalami penurunan," sambung dia.
(rna)
Lihat Juga :