Nilai perdagangan RI-Uni Eropa hanya tumbuh 1%
Jum'at, 09 November 2012 - 09:37 WIB
Nilai perdagangan RI-Uni Eropa hanya tumbuh 1%
A
A
A
Sindonews.com - Nilai perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa (UE) tahun ini diperkirakan hanya bisa tumbuh hingga 1 persen.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, nilai perdagangan antara kedua negara pada tahun lalu mencapai sekitar USD33 miliar. Menurutnya, dampak dari krisis ekonomi yang menimpa kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat dikhawatirkan akan berlangsung lama.
”Nilai perdagangan kedua negara tahun ini hanya bertumbuh sedikit. Sebenarnya bisa tumbuh 5–10 persen apabila tidak terjadi krisis ekonomi global. Sampai Agustus 2012 hanya tumbuh di bawah 1 persen. Tapi kita melihatnya jangka panjang. Kita harus membina komunikasi dan hubungan jangka panjang,” kata Gita dalam acara European Union-Indonesia Business Dialogue (EIBD) 2012 di Nusa Dua, Bali, kemarin.
Kendati demikian, Gita optimistis ke depan nilai perdagangan antara kedua negara memiliki prospek besar.
Menurutnya, total nilai perdagangan antara kedua negara tahun ini seharusnya bisa diantisipasi agar potensi penurunan hingga 5–7 persen tidak akan terjadi, karena adanya penciutan aktivitas ekonomi. Sejumlah antisipasi harus dilakukan guna menciptakan hubungan perdagangan yang dinamis.
Gita mencontohkan, antisipasi yang bisa dilakukan antara lain menandatangani Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA).
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pada prinsipnya Indonesia ingin agar kerja sama investasi, pariwisata, serta perekonomian antara kedua negara bisa terus tumbuh.
Hidayat menjelaskan, banyak peluang bisnis baru yang bisa memberikan kontribusi terhadap perkembangan hubungan perdagangan dan industri antara kedua negara.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, nilai perdagangan antara kedua negara pada tahun lalu mencapai sekitar USD33 miliar. Menurutnya, dampak dari krisis ekonomi yang menimpa kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat dikhawatirkan akan berlangsung lama.
”Nilai perdagangan kedua negara tahun ini hanya bertumbuh sedikit. Sebenarnya bisa tumbuh 5–10 persen apabila tidak terjadi krisis ekonomi global. Sampai Agustus 2012 hanya tumbuh di bawah 1 persen. Tapi kita melihatnya jangka panjang. Kita harus membina komunikasi dan hubungan jangka panjang,” kata Gita dalam acara European Union-Indonesia Business Dialogue (EIBD) 2012 di Nusa Dua, Bali, kemarin.
Kendati demikian, Gita optimistis ke depan nilai perdagangan antara kedua negara memiliki prospek besar.
Menurutnya, total nilai perdagangan antara kedua negara tahun ini seharusnya bisa diantisipasi agar potensi penurunan hingga 5–7 persen tidak akan terjadi, karena adanya penciutan aktivitas ekonomi. Sejumlah antisipasi harus dilakukan guna menciptakan hubungan perdagangan yang dinamis.
Gita mencontohkan, antisipasi yang bisa dilakukan antara lain menandatangani Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA).
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pada prinsipnya Indonesia ingin agar kerja sama investasi, pariwisata, serta perekonomian antara kedua negara bisa terus tumbuh.
Hidayat menjelaskan, banyak peluang bisnis baru yang bisa memberikan kontribusi terhadap perkembangan hubungan perdagangan dan industri antara kedua negara.
(gpr)
Lihat Juga :