Ekspor ke Timur Tengah naik tajam
Jum'at, 09 November 2012 - 09:54 WIB
Ekspor ke Timur Tengah naik tajam
A
A
A
Sindonews.com - Di tengah lesunya perekonomian global, laju ekspor Indonesia ke sejumlah negara-negara di Timur Tengah justru mengalami lonjakan hampir dua kali lipat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor ke sejumlah negara-negara seperti Arab Saudi, Libanon,Yaman, Qatar, serta Bahrain naik tajam selama periode Januari–September 2012 dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Sepanjang Januari–September 2012, nilai ekspor ke Arab Saudi misalnya, menyentuh angka USD1,36 miliar atau hampir menyamai nilai akumulatif Januari–Desember 2011 sebesar USD1,43 miliar.
Nilai ekspor ke Oman sepanjang Januari–September mencapai USD170,44 juta atau hampir mendekati akumulasi tahun 2011 yang menyentuh angka USD186,4 juta.
Ekspor ke Yaman selama Januari–September sebesar USD119,8 juta bahkan jauh melampaui akumulasi 2011 sebesar USD95,2 juta. Negara Timur Tengah lain yang banyak mengekspor produk Indonesia adalah Uni Emirat Arab (UEA).
Pada Januari–September, nilai ekspor ke UEA mencapai USD1,21 miliar, mendekati akumulasi ekspor tahun 2011 ke UEA sebesar USD1,7 miliar.
Dalam data BPS, nilai ekspor-ekspor Timur Tengah pada periode Januari–September mencapai USD5,5 miliar atau mendekati nilai akumulatif sepanjang 2011 yang menyentuh USD7,7 miliar.
Nilai ekspor akumulatif ke negara-negara Timur Tengah sepanjang 2012 diprediksi akan jauh melewati ekspor 2011, bila melihat pergerakan kinerja ekspor bulanan ke wilayah tersebut.
Pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atma Jaya A Prasetyantoko mengungkapkan, kenaikan ekspor di negara-negara Timur Tengah, yang notabene bukan pasar tradisional bagi Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah yang membuka peluang di sana.
Namun, dia mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berhenti pada membuka pasar, tetapi juga berupaya melanggengkan peningkatan ekspor.
”Trade expo (yang digelar pemerintah) itu kan hanya event. Yang lebih konkret adalah mengaktifkan peran perwakilan perdagangan kita,dan itu juga tergantung pengusaha kita untuk menindaklanjutinya,” tutur Prasetyantoko saat dihubungi SINDO kemarin.
Prasetyantoko menambahkan, Indonesia harus melihat pasar dengan jeli, termasuk melihat dan meneliti barang-barang apa saja yang dibutuhkan di sebuah negara. Dengan demikian, diversifikasi komoditas ekspor Indonesia juga beragam dan tidak hanya bergantung pada ekspormigas.
”Yang harus didorong ekspor non migas karena ekspor migas sangat bergantung pada fluktuasi harga. Nonmigas itu sangat luas pasarnya dan itu bisa di mana saja tergantung kebutuhannya,” ujarnya.
Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto mengungkapkan, komoditas Indonesia yang banyak diminati di Timur Tengah di antaranya bahan-bahan kimia, sabun mandi, sabun colek, dan barang tenun.Barang tenun seperti sarung, menjadi salah satu andalan ekspor ke Yaman ataupun negara Timur Tengah lain.
”Tenun atau kain kita kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan China, makanya banyak peminatnya,” papar Satwiko di Jakarta kemarin.
Komoditas yang mengalami lonjakan ekspor di Arab Saudi di antaranya kayu lapis dan suku cadang mobil, di Libanon adalah suku cadang tank dan kendaraan berat, kaus, serta kacang. Sementara di Yaman, ada peningkatan permintaan untuk exercise book.
Selain Timur Tengah, Afrika juga menjadi pasar alternatif yang kinerja ekspornya terus membaik. Selama Januari–September 2012, ekspor ke kawasan tersebut mencapai USD2,4 miliar atau mendekati akumulasi ekspor tahun 2011 sebesar USD2,6 miliar.
Peningkatan ekspor terutama terjadi di pasar Afrika Selatan, Etiopia, Angola, Djiobouti, serta Malawi. Nilai ekspor ke Afrika Selatan, misalnya, sepanjang Januari–September sudah mencapai USD1,37 miliar, padahal akumulasi ekspor 2011 hanya USD1,41 miliar.
Negara-negara Afrika lain yang nilai ekspor Januari–Septembernya telah melampaui akumulatif tahun 2011 adalah Etiopia, Angola, Malawi, dan Namibia. Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi membenarkan ada kenaikan ekspor yang signifikan di kawasan Afrika.
Peningkatan juga terjadi di kawasan Asia Tengah dan Amerika Latin. Produk-produk yang sebelumnya kurang diperhitungkan seperti mesin cetak ataupun sepeda gunung, juga mengalami lonjakan permintaan. Komoditas yang mengalami lonjakan permintaan adalah tetanus toksoid di Etiopia, margarin di Angola, dan furnitur dan barang kimia di Afrika Selatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor ke sejumlah negara-negara seperti Arab Saudi, Libanon,Yaman, Qatar, serta Bahrain naik tajam selama periode Januari–September 2012 dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Sepanjang Januari–September 2012, nilai ekspor ke Arab Saudi misalnya, menyentuh angka USD1,36 miliar atau hampir menyamai nilai akumulatif Januari–Desember 2011 sebesar USD1,43 miliar.
Nilai ekspor ke Oman sepanjang Januari–September mencapai USD170,44 juta atau hampir mendekati akumulasi tahun 2011 yang menyentuh angka USD186,4 juta.
Ekspor ke Yaman selama Januari–September sebesar USD119,8 juta bahkan jauh melampaui akumulasi 2011 sebesar USD95,2 juta. Negara Timur Tengah lain yang banyak mengekspor produk Indonesia adalah Uni Emirat Arab (UEA).
Pada Januari–September, nilai ekspor ke UEA mencapai USD1,21 miliar, mendekati akumulasi ekspor tahun 2011 ke UEA sebesar USD1,7 miliar.
Dalam data BPS, nilai ekspor-ekspor Timur Tengah pada periode Januari–September mencapai USD5,5 miliar atau mendekati nilai akumulatif sepanjang 2011 yang menyentuh USD7,7 miliar.
Nilai ekspor akumulatif ke negara-negara Timur Tengah sepanjang 2012 diprediksi akan jauh melewati ekspor 2011, bila melihat pergerakan kinerja ekspor bulanan ke wilayah tersebut.
Pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atma Jaya A Prasetyantoko mengungkapkan, kenaikan ekspor di negara-negara Timur Tengah, yang notabene bukan pasar tradisional bagi Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah yang membuka peluang di sana.
Namun, dia mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berhenti pada membuka pasar, tetapi juga berupaya melanggengkan peningkatan ekspor.
”Trade expo (yang digelar pemerintah) itu kan hanya event. Yang lebih konkret adalah mengaktifkan peran perwakilan perdagangan kita,dan itu juga tergantung pengusaha kita untuk menindaklanjutinya,” tutur Prasetyantoko saat dihubungi SINDO kemarin.
Prasetyantoko menambahkan, Indonesia harus melihat pasar dengan jeli, termasuk melihat dan meneliti barang-barang apa saja yang dibutuhkan di sebuah negara. Dengan demikian, diversifikasi komoditas ekspor Indonesia juga beragam dan tidak hanya bergantung pada ekspormigas.
”Yang harus didorong ekspor non migas karena ekspor migas sangat bergantung pada fluktuasi harga. Nonmigas itu sangat luas pasarnya dan itu bisa di mana saja tergantung kebutuhannya,” ujarnya.
Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto mengungkapkan, komoditas Indonesia yang banyak diminati di Timur Tengah di antaranya bahan-bahan kimia, sabun mandi, sabun colek, dan barang tenun.Barang tenun seperti sarung, menjadi salah satu andalan ekspor ke Yaman ataupun negara Timur Tengah lain.
”Tenun atau kain kita kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan China, makanya banyak peminatnya,” papar Satwiko di Jakarta kemarin.
Komoditas yang mengalami lonjakan ekspor di Arab Saudi di antaranya kayu lapis dan suku cadang mobil, di Libanon adalah suku cadang tank dan kendaraan berat, kaus, serta kacang. Sementara di Yaman, ada peningkatan permintaan untuk exercise book.
Selain Timur Tengah, Afrika juga menjadi pasar alternatif yang kinerja ekspornya terus membaik. Selama Januari–September 2012, ekspor ke kawasan tersebut mencapai USD2,4 miliar atau mendekati akumulasi ekspor tahun 2011 sebesar USD2,6 miliar.
Peningkatan ekspor terutama terjadi di pasar Afrika Selatan, Etiopia, Angola, Djiobouti, serta Malawi. Nilai ekspor ke Afrika Selatan, misalnya, sepanjang Januari–September sudah mencapai USD1,37 miliar, padahal akumulasi ekspor 2011 hanya USD1,41 miliar.
Negara-negara Afrika lain yang nilai ekspor Januari–Septembernya telah melampaui akumulatif tahun 2011 adalah Etiopia, Angola, Malawi, dan Namibia. Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi membenarkan ada kenaikan ekspor yang signifikan di kawasan Afrika.
Peningkatan juga terjadi di kawasan Asia Tengah dan Amerika Latin. Produk-produk yang sebelumnya kurang diperhitungkan seperti mesin cetak ataupun sepeda gunung, juga mengalami lonjakan permintaan. Komoditas yang mengalami lonjakan permintaan adalah tetanus toksoid di Etiopia, margarin di Angola, dan furnitur dan barang kimia di Afrika Selatan.
(gpr)
Lihat Juga :