Pengusaha kelapa sawit minta keringanan
Sabtu, 10 November 2012 - 10:20 WIB
Pengusaha kelapa sawit minta keringanan
A
A
A
Sindonews.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) berharap pemerintah memberlakukan kebijakan yang mampu mendorong industri sawit nasional.
Ketua Gapki Joefly J Bahroeny mengatakan, industri sawit dalam negeri bisa kalah bersaing dengan Malaysia yang mendapatkan keringanan berupa penurunan bea keluar, lebih rendah dibandingkan Indonesia.
”Kami harapkan juga ada perlakuan yang sama.Sebab,selama ini mandeknya (industri) sawit kita juga karena faktor adanya moratorium sawit dari pemerintah, meski kita tahu maksudnya membangun industri dari hulu ke hilir, tidak sekadar ekspor,” kata Joefly dalam jumpa pers penyelenggaraan Indonesia Palm Oil Conference (IPOC), di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, pemerintah seharusnya melakukan terobosan yang sama dengan Malaysia dengan memberlakukan kebijakan meringankan bea keluar.
“Malaysia melakukan kebijakan protektif di tengah menurunnya industri sawit mereka dengan menetapkan bebas bea keluar ekspor sawit. Kalau kita, ya kita berharap juga ada keringananlah melalui bea keluar berupa penurunan tarif,” harapnya.
Seperti diketahui,Malaysia mengumumkan rencana penetapan bea keluar minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebesar 4,5–8,5 persen per 1 Januari 2013.
Kebijakan tersebut merespons turunnya harga CPO dunia. Sementara, Pemerintah Indonesia saat ini masih memberlakukan bea keluar untuk November 9 persen turun dari bulan sebelumnya 13,5 persen.
Sekretaris Jenderal Gapki Joko Supriyono mengungkapkan, dengan kondisi tarif bea keluar saat ini, CPO Indonesia bisa kalah bersaing di pasar internasional. “Seyogianya ada kebijakan yang mampu menopang ekspor sawit kita,” ujarnya.
Joko membericontoh,jikatakadadukungan pemerintah,industri sawit Indonesia akan kalah bersaing dengan negara pengekspor besar lainnya seperti Malaysia. Sejak pertengahan tahun ini, harga CPO dunia terus turun dari kisaran USD900 per ton ke level USD700 per ton.
Di sisi lain, permasalahan sawit nasional akan dibahas dalam IPOC yang diselenggarakan di Bali,29–30 November 2012.
Mona Surya, ketua penyelenggara IPOC, mengatakan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri sekitar 1.500 peserta dan dibuka oleh menteri perdagangan.
“Pertemuan ini akan menyikapi dua hal penting yakni soal pertumbuhan populasi dan permintaan energi tahun 2025 serta pertumbuhan berkelanjutan sawit nasional,” ujarnya.
Ketua Gapki Joefly J Bahroeny mengatakan, industri sawit dalam negeri bisa kalah bersaing dengan Malaysia yang mendapatkan keringanan berupa penurunan bea keluar, lebih rendah dibandingkan Indonesia.
”Kami harapkan juga ada perlakuan yang sama.Sebab,selama ini mandeknya (industri) sawit kita juga karena faktor adanya moratorium sawit dari pemerintah, meski kita tahu maksudnya membangun industri dari hulu ke hilir, tidak sekadar ekspor,” kata Joefly dalam jumpa pers penyelenggaraan Indonesia Palm Oil Conference (IPOC), di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, pemerintah seharusnya melakukan terobosan yang sama dengan Malaysia dengan memberlakukan kebijakan meringankan bea keluar.
“Malaysia melakukan kebijakan protektif di tengah menurunnya industri sawit mereka dengan menetapkan bebas bea keluar ekspor sawit. Kalau kita, ya kita berharap juga ada keringananlah melalui bea keluar berupa penurunan tarif,” harapnya.
Seperti diketahui,Malaysia mengumumkan rencana penetapan bea keluar minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebesar 4,5–8,5 persen per 1 Januari 2013.
Kebijakan tersebut merespons turunnya harga CPO dunia. Sementara, Pemerintah Indonesia saat ini masih memberlakukan bea keluar untuk November 9 persen turun dari bulan sebelumnya 13,5 persen.
Sekretaris Jenderal Gapki Joko Supriyono mengungkapkan, dengan kondisi tarif bea keluar saat ini, CPO Indonesia bisa kalah bersaing di pasar internasional. “Seyogianya ada kebijakan yang mampu menopang ekspor sawit kita,” ujarnya.
Joko membericontoh,jikatakadadukungan pemerintah,industri sawit Indonesia akan kalah bersaing dengan negara pengekspor besar lainnya seperti Malaysia. Sejak pertengahan tahun ini, harga CPO dunia terus turun dari kisaran USD900 per ton ke level USD700 per ton.
Di sisi lain, permasalahan sawit nasional akan dibahas dalam IPOC yang diselenggarakan di Bali,29–30 November 2012.
Mona Surya, ketua penyelenggara IPOC, mengatakan bahwa pertemuan tersebut akan dihadiri sekitar 1.500 peserta dan dibuka oleh menteri perdagangan.
“Pertemuan ini akan menyikapi dua hal penting yakni soal pertumbuhan populasi dan permintaan energi tahun 2025 serta pertumbuhan berkelanjutan sawit nasional,” ujarnya.
(gpr)
Lihat Juga :