BJBR-BNI genjot kredit korporasi
Jum'at, 16 November 2012 - 09:51 WIB
BJBR-BNI genjot kredit korporasi
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Jawa Barat & Banten Tbk (BJBR) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terus berupaya memenuhi target penyaluran kredit, khususnya di segmen korporasi jelang akhir tahun ini.
Bank Pembangunan Daerah (BPD) asal Jabar Banten ini misalnya menargetkan penyaluran kredit korporasi hingga akhir tahun sebesar Rp6,5 triliun. Direktur Komersial Bank BJB Acu Kusnandar mengatakan, per September 2012 kredit korporasi perseroan telah mencapai Rp6,2 triliun.
Realisasi penyaluran kredit tahun ini tumbuh 42,73 persen dibandingkan pencapaian kredit korporasi di 2011 yang mencapai Rp 4,4 triliun. “Artinya, masih ada sisa sekitar Rp300 miliar yang harus dipenuhi hingga akhir tahun ini,” ujarnya baru-baru ini.
Acu menilai, penyaluran kredit korporasi BPD pertama yang go public ini lebih banyak mengalir untuk pembiayaan infrastruktur, seperti jalan tol, listrik,maupun PLTU.Pembiayaan ini, sambung Acu, tidak hanya mencakup wilayah Jabar-Banten tapi sudah merambah wilayah lain di Indonesia.
Bahkan, tahun depan BJBR menargetkan penyaluran kredit korporasi bisa mencapai Rp10,5 triliun, terutama didukung gencarnya pembangunan infrastruktur di Indonesia. ”Kami sudah punya cabang di mana-mana jadi bisa ke proyek yang mana saja, contohnya seperti kami juga memberi kredit pinjaman ke Pusri (PT Pupuk Sriwidjaja Palembang),” katanya.
Sementara, BNI berupaya mengejar target kredit di segmen korporasi yang pada akhir tahun outstanding-nya ditargetkan sebesar Rp77 triliun, naik dibandingkan tahun 2011 yang sebesar Rp65 triliun. Pemimpin Divisi BUMN dan Institusi BNI Rosa De Lima Dwi Mutiari mengatakan, per September 2012 penyaluran kredit korporasi BNI baru mencapai Rp64,76 triliun.
Dengan kata lain, BNI masih harus memenuhi target sedikitnya Rp12,24 triliun lagi hingga akhir tahun ini. Senada dengan BJBR, Rosa menilai program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) menjadi salah satu motor penyaluran pembiayaan korporasi.
Sesuai dengan strategi besar yang diterapkan BNI, sambung Rosa, perseroan berusaha menyasar ke delapan sektor unggulan dan untuk kredit korporasi banyak disalurkan ke sektor infrastruktur, pangan dan energi.
“Yang paling kencang kita sampai saat ini banyak di infrastruktur,karena kan ada MP3EI. Ada untuk jalan, transportasi, pelabuhan,” tuturnya.
Sebagai informasi, hingga kuartalIII/2012 BNItelahmenyalurkan kredit sebesar Rp184,47 triliun atau tumbuh 14,8 persen jika dibandingkan September 2011 yang sebesar Rp160,71 triliun, dimana berdasarkan komposisi kredit korporasi mencapai 35,1 persen atau terbesar di antara segmen kredit lainnya.
Sementara, BNI kembali menggandeng satu bank regional di Jepang untuk memperkuat ekspansi bisnis internasional. Kali ini perseroan menggandeng The Iyo Bank. The Iyo Bank adalah bank regional yang mengelola aset Rp550 triliun.
Bank regional tersebut telah berdiri sejak 1878 dan memiliki 150 cabang serta 11 anak perusahaan yang berada di 13 prefektur/provinsi di Jepang. Saat ini terdapat 63 nasabah The Iyo Bank yang telah beroperasi di Indonesia.
”Kerja sama ini merupakan rangkaian inisiatif bisnis BNI untuk memperluas jaringan yang mendukung bisnis perbankan dan transaksi internasional lainnya,” ujar Pemimpin Cabang BNI Tokyo Gatoet Gembiro Noegroho dalam keterangan pers kemarin.
Gatoet mengatakan, dengan kerja sama tersebut, artinya hingga saat ini BNI sudah mengikat perjanjian kerja sama dengan sekitar 39 bank regional dan satu Shinkin Bank (Bank Koperasi) yang masing-masing memiliki nasabah yang sangat tertarik untuk berinvestasi ke Indonesia.
Menurut dia, nilai investasi rata-rata nasabah bank asal Jepang yang berskala UKM adalah sekitar Rp120 miliar per perusahaan. Bank-bank regional asal Jepang yang telah bekerja sama dengan BNI antara lain Hyakugo Bank, Hokuto Bank, Shonai Bank, Chugoku Bank, GunmaBank, JurokuBank,Hiroshima Bank, Hokuriku Bank, Kagoshima Bank,Kyoto Bank, Aichi Bank, dan Joyo Bank.
Bank Pembangunan Daerah (BPD) asal Jabar Banten ini misalnya menargetkan penyaluran kredit korporasi hingga akhir tahun sebesar Rp6,5 triliun. Direktur Komersial Bank BJB Acu Kusnandar mengatakan, per September 2012 kredit korporasi perseroan telah mencapai Rp6,2 triliun.
Realisasi penyaluran kredit tahun ini tumbuh 42,73 persen dibandingkan pencapaian kredit korporasi di 2011 yang mencapai Rp 4,4 triliun. “Artinya, masih ada sisa sekitar Rp300 miliar yang harus dipenuhi hingga akhir tahun ini,” ujarnya baru-baru ini.
Acu menilai, penyaluran kredit korporasi BPD pertama yang go public ini lebih banyak mengalir untuk pembiayaan infrastruktur, seperti jalan tol, listrik,maupun PLTU.Pembiayaan ini, sambung Acu, tidak hanya mencakup wilayah Jabar-Banten tapi sudah merambah wilayah lain di Indonesia.
Bahkan, tahun depan BJBR menargetkan penyaluran kredit korporasi bisa mencapai Rp10,5 triliun, terutama didukung gencarnya pembangunan infrastruktur di Indonesia. ”Kami sudah punya cabang di mana-mana jadi bisa ke proyek yang mana saja, contohnya seperti kami juga memberi kredit pinjaman ke Pusri (PT Pupuk Sriwidjaja Palembang),” katanya.
Sementara, BNI berupaya mengejar target kredit di segmen korporasi yang pada akhir tahun outstanding-nya ditargetkan sebesar Rp77 triliun, naik dibandingkan tahun 2011 yang sebesar Rp65 triliun. Pemimpin Divisi BUMN dan Institusi BNI Rosa De Lima Dwi Mutiari mengatakan, per September 2012 penyaluran kredit korporasi BNI baru mencapai Rp64,76 triliun.
Dengan kata lain, BNI masih harus memenuhi target sedikitnya Rp12,24 triliun lagi hingga akhir tahun ini. Senada dengan BJBR, Rosa menilai program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) menjadi salah satu motor penyaluran pembiayaan korporasi.
Sesuai dengan strategi besar yang diterapkan BNI, sambung Rosa, perseroan berusaha menyasar ke delapan sektor unggulan dan untuk kredit korporasi banyak disalurkan ke sektor infrastruktur, pangan dan energi.
“Yang paling kencang kita sampai saat ini banyak di infrastruktur,karena kan ada MP3EI. Ada untuk jalan, transportasi, pelabuhan,” tuturnya.
Sebagai informasi, hingga kuartalIII/2012 BNItelahmenyalurkan kredit sebesar Rp184,47 triliun atau tumbuh 14,8 persen jika dibandingkan September 2011 yang sebesar Rp160,71 triliun, dimana berdasarkan komposisi kredit korporasi mencapai 35,1 persen atau terbesar di antara segmen kredit lainnya.
Sementara, BNI kembali menggandeng satu bank regional di Jepang untuk memperkuat ekspansi bisnis internasional. Kali ini perseroan menggandeng The Iyo Bank. The Iyo Bank adalah bank regional yang mengelola aset Rp550 triliun.
Bank regional tersebut telah berdiri sejak 1878 dan memiliki 150 cabang serta 11 anak perusahaan yang berada di 13 prefektur/provinsi di Jepang. Saat ini terdapat 63 nasabah The Iyo Bank yang telah beroperasi di Indonesia.
”Kerja sama ini merupakan rangkaian inisiatif bisnis BNI untuk memperluas jaringan yang mendukung bisnis perbankan dan transaksi internasional lainnya,” ujar Pemimpin Cabang BNI Tokyo Gatoet Gembiro Noegroho dalam keterangan pers kemarin.
Gatoet mengatakan, dengan kerja sama tersebut, artinya hingga saat ini BNI sudah mengikat perjanjian kerja sama dengan sekitar 39 bank regional dan satu Shinkin Bank (Bank Koperasi) yang masing-masing memiliki nasabah yang sangat tertarik untuk berinvestasi ke Indonesia.
Menurut dia, nilai investasi rata-rata nasabah bank asal Jepang yang berskala UKM adalah sekitar Rp120 miliar per perusahaan. Bank-bank regional asal Jepang yang telah bekerja sama dengan BNI antara lain Hyakugo Bank, Hokuto Bank, Shonai Bank, Chugoku Bank, GunmaBank, JurokuBank,Hiroshima Bank, Hokuriku Bank, Kagoshima Bank,Kyoto Bank, Aichi Bank, dan Joyo Bank.
(rna)
Lihat Juga :