Pasca libur panjang, rupiah siap menguat
Senin, 19 November 2012 - 08:15 WIB
Pasca libur panjang, rupiah siap menguat
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksi mengalami penguatan tipis ke level Rp9.625 hingga Rp9.640. Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen global yang cukup positif.
"Secara umum pergerakan rupiah masih data, berita dari Yunani dan Spanyol yang mungkin akan mendapatkan dana bailout sebesar 44 miliar euro menjadi sentimen global yang cukup positif," kata analis valas Rahadyo Anggoro Widagdo di Jakarta, Senin (19/11/2012).
Menurut Rahadyo, angka tersebut lebih besar daripada rencana pencairan bailout berikutnya senilai 33 miliar euro sehingga memberikan sentimennya positif terhadap rupiah.
"Tetapi tetap perlu diwaspadai karena, di saat mata uang lain menguat terhadap dolar AS, rupiah justru belum bisa menguat ke level 9.500. Sebab, Indonesia tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan arus modal masuk," jelas Rahadyo.
Sebelumnya, pergerakaan rupiah pada hari Rabu (12/11/2012) ditutup sedikit melemah ke level Rp9.635 atau Rp9.640. Kondisi tersebut masih disebabkan faktor eksternal terkait dengan masih berlarut - larutnya penyelesaian krisis Eropa.
"Walaupun rupiah melemah tetapi tekanan terhadap rupiah masih wajar karena sampai saat ini, posisi rupiah belum menyentuh level dimana BI harus melakukan intervensi,"ujarnya.
Selain itu buruknya hasil lelang obligasi Yunani kemarin tidak begitu positif. Pada lelang kemarin, Yunani hanya mendapatkan dana sebesar 4,6 miliar euro dari target 5 miliar euro. Meskipun, dari sisi yield obligasi mengalami penurunan ke 4,2 persen dari sebelumnya 4,24 persen.
"Secara umum pergerakan rupiah masih data, berita dari Yunani dan Spanyol yang mungkin akan mendapatkan dana bailout sebesar 44 miliar euro menjadi sentimen global yang cukup positif," kata analis valas Rahadyo Anggoro Widagdo di Jakarta, Senin (19/11/2012).
Menurut Rahadyo, angka tersebut lebih besar daripada rencana pencairan bailout berikutnya senilai 33 miliar euro sehingga memberikan sentimennya positif terhadap rupiah.
"Tetapi tetap perlu diwaspadai karena, di saat mata uang lain menguat terhadap dolar AS, rupiah justru belum bisa menguat ke level 9.500. Sebab, Indonesia tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan arus modal masuk," jelas Rahadyo.
Sebelumnya, pergerakaan rupiah pada hari Rabu (12/11/2012) ditutup sedikit melemah ke level Rp9.635 atau Rp9.640. Kondisi tersebut masih disebabkan faktor eksternal terkait dengan masih berlarut - larutnya penyelesaian krisis Eropa.
"Walaupun rupiah melemah tetapi tekanan terhadap rupiah masih wajar karena sampai saat ini, posisi rupiah belum menyentuh level dimana BI harus melakukan intervensi,"ujarnya.
Selain itu buruknya hasil lelang obligasi Yunani kemarin tidak begitu positif. Pada lelang kemarin, Yunani hanya mendapatkan dana sebesar 4,6 miliar euro dari target 5 miliar euro. Meskipun, dari sisi yield obligasi mengalami penurunan ke 4,2 persen dari sebelumnya 4,24 persen.
(gpr)