Harga stabil, inflasi DIY diprediksi rendah
Rabu, 21 November 2012 - 16:24 WIB
Harga stabil, inflasi DIY diprediksi rendah
A
A
A
Sindonews.com - Inflasi harga di Provinsi DIY pada bulan November ini, diprediksi rendah. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY, menengarai besaran inflasi ini dalam kisaran 0,2 persen sampai dengan 0,4 persen. Sangat dimungkinkan inflasi ini sama dengan bulan Oktober lalu.
Ketua Tim Teknis TPID DIY Djoko Raharto, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan harga komoditas barang kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional.
Bahkan sampai dengan 20 November lalu, secara umum harga masioh terkendali dan terjaga. Ini akan memberikan andil positif terhadap inflasi yang diperkirakan rendah.
“Kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan bulan lalu, maupun periode yang sama tahun lalu, antara 0,2 hingga 0,4 persen,” jelas Djoko di DIY, Rabu (21/11/2012).
Dari hasil pantauan, ujarnya, kelompok bahan makanan akan memberikan andil terbesar dalam inflasi mendatang. Ini bisa dilihat dengan naiknya harga komoditas seperti daging sapi, bawang putih, bawang merah, telur ayam ras, dan jeruk.
Sedangkan untuk harga beras hanya naik tipis. Kenaikan harga di kelompok bahan makanan tersebut agak tertahan oleh penuruhan harga beberapa komoditas, seperti minyak goreng, daging ayam ras, cabe dan beberapa komoditas lainnya.
Pada kelompok makanan jadi, juga ada kecenderungan terjadi sedikit kenaikan harga yang bersumber dari kenaikan harga nasi, bubur, sate, dan rokok. Sementara itu untuk komoditas soto yang bobot inflasinya tinggi harganya justru turun. “Kelompok perumahan juga sedikit naik harganya,” jelasnya.
Kenaikan kelompok perumahan ini, menjadi dampak dari kenaikan biaya upah pembantu, semen dan biaya sewa rumah. Sedangkan untuk kelompok barang yang lain secara umum stabil, bahkan harga emas di bulan ini turun.
Terjaganya tingkat inflasi ini, juga dipengaruhi tingkat konsumsi masyarakat yang relatif normal. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap harga-harga cenderung turun.
Namun sisi penawaran untuk beberapa komoditas yang harganya agak meningkat, karena terganggunya produksi/pasokan. Diantaranya daging sapi, bawang putih, bawang merah, dan beberapa komoditas lainnya.
TPID juga optimis harga beberapa komoditas yang terjaga ini akan berlaku hingga beberapa bulan kedepan. Khususnya komoditas beras, gula pasir, dan minyak goring. Ini tidak terlepas dari adanya upaya-upaya antisipatif yang dilakukan pemerintah.
Salah satunya melakukan impor beras untuk dipasok di daerah-daerah yang defisit beras yang kebanyakan di luar Jawa. Upaya seperti ini, akan meningkatkan pasokan dan mengurangi aliran beras dari Jawa ke Luar Jawa. Sehingga harga beras akan relatif stabil.
“Bulog juga berhasil dalam program pengadaan beras yang membuat kami lebih optimis,” jelas Humas Bank Indonesia Fadhil Nugroho.
Ketua Tim Teknis TPID DIY Djoko Raharto, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan harga komoditas barang kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional.
Bahkan sampai dengan 20 November lalu, secara umum harga masioh terkendali dan terjaga. Ini akan memberikan andil positif terhadap inflasi yang diperkirakan rendah.
“Kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan bulan lalu, maupun periode yang sama tahun lalu, antara 0,2 hingga 0,4 persen,” jelas Djoko di DIY, Rabu (21/11/2012).
Dari hasil pantauan, ujarnya, kelompok bahan makanan akan memberikan andil terbesar dalam inflasi mendatang. Ini bisa dilihat dengan naiknya harga komoditas seperti daging sapi, bawang putih, bawang merah, telur ayam ras, dan jeruk.
Sedangkan untuk harga beras hanya naik tipis. Kenaikan harga di kelompok bahan makanan tersebut agak tertahan oleh penuruhan harga beberapa komoditas, seperti minyak goreng, daging ayam ras, cabe dan beberapa komoditas lainnya.
Pada kelompok makanan jadi, juga ada kecenderungan terjadi sedikit kenaikan harga yang bersumber dari kenaikan harga nasi, bubur, sate, dan rokok. Sementara itu untuk komoditas soto yang bobot inflasinya tinggi harganya justru turun. “Kelompok perumahan juga sedikit naik harganya,” jelasnya.
Kenaikan kelompok perumahan ini, menjadi dampak dari kenaikan biaya upah pembantu, semen dan biaya sewa rumah. Sedangkan untuk kelompok barang yang lain secara umum stabil, bahkan harga emas di bulan ini turun.
Terjaganya tingkat inflasi ini, juga dipengaruhi tingkat konsumsi masyarakat yang relatif normal. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap harga-harga cenderung turun.
Namun sisi penawaran untuk beberapa komoditas yang harganya agak meningkat, karena terganggunya produksi/pasokan. Diantaranya daging sapi, bawang putih, bawang merah, dan beberapa komoditas lainnya.
TPID juga optimis harga beberapa komoditas yang terjaga ini akan berlaku hingga beberapa bulan kedepan. Khususnya komoditas beras, gula pasir, dan minyak goring. Ini tidak terlepas dari adanya upaya-upaya antisipatif yang dilakukan pemerintah.
Salah satunya melakukan impor beras untuk dipasok di daerah-daerah yang defisit beras yang kebanyakan di luar Jawa. Upaya seperti ini, akan meningkatkan pasokan dan mengurangi aliran beras dari Jawa ke Luar Jawa. Sehingga harga beras akan relatif stabil.
“Bulog juga berhasil dalam program pengadaan beras yang membuat kami lebih optimis,” jelas Humas Bank Indonesia Fadhil Nugroho.
(gpr)
Lihat Juga :